Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 126. Saling Menghapus Luka.


__ADS_3

Ayun keluar dari mobil lalu mengikuti langkah Fathir untuk memasuki pemakaman. Terlihat tempat itu sangat bersih dan terawat karena memang sudah ada petugas khusus yang membersihkannya.


Fathir sendiri melangkah pelan untuk memasuki tempat itu. Kedua tangannya mencengkram buket bunga yang sedang dipegang dengan kuat, disertai debaran jantung yang juga kian menguat.


Ini adalah kali pertama Fathir mengunjungi makam mendiang istrinya setelah satu tahun kematian wanita itu. Saat itu pun dia terpaksa hadir ke pemakaman walau dalam keadaan terpaksa dan tidak baik, karena tidak mungkin dia tidak hadir dalam peringatan satu tahun kematian istrinya sendiri.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Ayun saat Fathir berhenti di depan sebuah makam. Dia lalu melihat ke arah makam itu, dan tampak jelas nama yang tertulis di batu nisannya.


"Clarissa Liviona?" Ayun menatap nama dari pemilik makam tersebut. "Apa ini makam mendiang istrinya?" Dia ingat dengan nama itu, nama dari mendiang wanita yang merupakan istri dari laki-laki yang akan dia nikahi.


Seketika Ayun melihat ke arah Fathir yang sejak tadi tidak mengeluarkan suara, untuk memastikan bahwa laki-laki itu baik-baik saja.


Deg.


Kedua mata Ayun membulat sempurna saat melihat raut wajah Fathir. Bagaimana tidak, saat ini laki-laki itu terlihat sangat menyeramkan dengan mata memerah sambil menatap makam itu dengan tajam.


Bukan hanya itu saja, tampak jelas gurat kemarahan diwajah Fathir hingga membuat wajah laki-laki itu merah padam disertai urat-urat yang menonjol disekitar leher.


"Fathir!" panggil Ayun dengan lembut sambil menggenggam tangan Fathir yang sedang mencengkram buket bunga dengan kuat, bahkan sampai hampir menghancurkan bunga-bunga itu.


Fathir terkesiap saat mendengar suara Ayun. Otot-otot tubuhnya yang terasa tegang seketika mengendur saat bersitatap mata dengan wanita itu.


"Maaf, aku tidak bermaksud-"


"Tidak apa-apa, ada aku di sini," potong Ayun dengan lirih, dia menatap Fathir dengan hangat seolah mengatakan jika dia akan selalu berada di sisi laki-laki itu.


Hati Fathir yang sempat berkecamuk hebat langsung tenang saat melihat kehangatan diwajah Ayun. Dia lalu mengangguk dan membalas genggaman tangan wanita itu.


"Ini makam mendiang istriku. Maaf karena aku sudah membawamu kemari," ucap Fathir dengan pelan.


Ayun tersenyum dengan tatapan hangat. "Tidak apa-apa. Sudah seharusnya kau membawaku ke sini, aku juga ingin sekali bertemu dengannya." Dia lalu mengalihkan pandangannya ke makam itu. "Assalamu'alaikum, Clarissa. Aku Ayun, maaf karna terlambat datang menemuimu." Dia berucap seolah wanita itu benar-benar ada di hadapannya.


Hati Fathir benar-benar terenyuh melihat Ayun, hingga dia merasa benar-benar beruntung bisa mendapatkan wanita yang luar biasa sepertinya.


Mereka berdua lalu duduk di samping makam tersebut untuk memanjatkan segala do'a. Walau sudah berusaha keras, Fathir tetap saja belum bisa melupakan semua perbuatan yang telah dilakukan oleh mendiang istrinya itu.

__ADS_1


"Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku ke sini, Claris. Sebenarnya aku tidak menyangka jika akan kembali menginjakkan kaki ke tempat ini untuk mengunjungimu, tapi ternyata semua sudah jauh berubah karena kehadiran wanita yang saat ini sedang bersamaku. Apa kau melihatnya?" Fathir menatap makam itu dengan tajam, tetapi terlihat sebersit kesedihan dalam sorot matanya.


"Namanya Ayun, dia wanita yang sangat baik. Bukan hanya baik padaku, tapi juga baik pada putramu. Dia sudah menganggap Faiz sebagai anaknya sendiri, dan dia juga sudah memperbaiki hubunganku dengan putramu. Apa kau senang mendengarnya?" Fathir menghela napas kasar sambil berusaha untuk tetap bersikap tenang.


"Hubungan kita tidak berakhir manis, Claris. Bahkan terasa sangat mengenaskan. Aku sudah bersumpah untuk tetap menyimpan kebenaran tentang kejadian itu saat hembusan napas terakhirmu, tapi saat aku melihat wajah laki-laki itu, aku merasa sangat tersiksa. Aku harap Tuhan segera melepaskan belenggu ini dariku, dan aku juga berharap semoga Tuhan memberikan ketenangan padamu. Hanya itu yang aku inginkan."


Kedua mata Fathir menggantung mendung. Jika tadi dia teringat akan semua perbuatan buruk hingga membuat hatinya terbakar, kini dia teringat dengan saat-saat terakhir bersama Clarissa dan Fathan. Saat di mana dunianya seakan runtuh tidak bersisa, meninggalkan trauma berat yang sampai sekarang terus menyiksanya.


Ayun sendiri juga mendo'akan agar Clarissa di tempatkan di dalam syurganya Allah. Bukan hanya itu saja, dia juga berdo'a agar semua orang yang terlibat dalam masa lalu menyedihkan itu juga diberikan kebahagiaan.


"Aku tidak pernah mengenalmu, juga tidak pernah mendengar tentangmu. Tapi aku yakin jika kau adalah wanita yang baik, Clarissa. Terima kasih karena dulu telah memberikan kebahagiaan pada Fathir, terlepas dari apa yang terjadi setelahnya. Aku berdo'a semoga Allah menerima segala amal baikmu, dan memaafkan segala dosa yang telah kau lakukan." Ayun memejamkan kedua matanya, berharap semoga semua do'a yang dia ucapkan dikabulkan oleh Tuhan.


Setelah selesai, mereka berdua beranjak pergi dari tempat itu. Sepanjang perjalanan pulang, hujan mengguyur dengan sangat deras membuat mobil Fathir melaju pelan.


"Hujannya deras sekali," ucap Fathir sambil menatap lurus ke depan. Jalanan yang licin membuatnya harus ekstra hati-hati.


Ayun tersenyum. Dia segera memanjatkan do'a saat turun hujan seperti ini sambil mengangkat kedua tangannya.


Fathir tersenyum saat melirik ke arah Ayun. Dia tahu jika wanita itu sedang berdoa, dan sudah seharusnya dia juga ikut berdoa. Namun, sayangnya dia tidak tahu doa saat turun hujan.


"Benar. Beberapa hari ini cuaca sangat panas, sekarang baru terasa sejuk dan dingin," sahut Fathir.


Ayun kembali tersenyum. "Sama seperti hujan yang bisa menghilangkan hawa panas, aku harap kebahagiaan dan cinta yang sedang kau rasakan saat ini juga bisa menghilangkan segala beban yang ada dihatimu, Fathir. Walau aku tahu semua itu tidak mudah, tapi tidak ada kata mustahil jika kita mau berusaha."


Fathir ikut tersenyum saat mendengar ucapan Ayun, sesaat kemudian dia terpikirkan tentang sesuatu.


"Tentu saja, Ayun. Aku sudah berusaha keras untuk menghilangkan beban itu, tapi setelah semuanya membaik, kau malah memberikan beban yang baru," ucap Fathir dengan nada suara yang terdengar sedih.


Ayun mengernyitkan kening dengan tidak mengerti. "Aku memberi beban untukmu?" Dia merasa terkejut, dan dijawab dengan anggukan kepala Fathir.


"Tentu saja. Kau memutuskan untuk mengundur waktu pernikahan kita, itu menjadi beban berat untukku," sambung Fathir.


Ayun langsung menghela napas kasar saat mendengar ucapan menyebalkan Fathir. Padahal dia sudah serius menanggapinya, tetapi laki-laki itu malah berkata seperti itu.


"Oh, jadi keputusanku sudah menjadi beban berat untukmu?" tanya Ayun dengan senyum penuh makna.

__ADS_1


"Cih, tentu saja. Kan cuma aku yang merasa seperti itu," jawab Fathir sambil mencebikkan bibirnya.


Ayun menyeringai. "Ya sudah. Kalau gitu, kita tidak usah menikah sekalian."


"Apa?" Fathir memekik kaget saat mendengar ucapan Ayun, spontan dia menginjak rem secara mendadak hingga mobil mereka terhenti di tengah jalan. Untung saja jalanan sedang sunyi dan hanya mereka saja yang sedang melintas di tempat itu.


"Kau, kau bilang apa?" tanya Fathir dengan tajam sambil menatap ke arah Ayun.


Ayun menahan tawa dan pura-pura dalam mode marah. "Aku hanya bilang yang sebenarnya. Kalau memang hanya menjadi beban, lebih baik kita-"


"Diam! Awas kalau kau berani ngomong kayak gitu lagi. Aku akan langsung membawamu ke depan penghulu," ancam Fathir sambil menunjuk tepat ke depan wajah Ayun. Jika saja itu wanita lain, dia mungkin sudah membungkam bibir Ayun dengan bibirnya sendiri.


Ayun langsung tergelak mendengar ancaman Fathir. Jika ancamannya seperti itu, siapapun mungkin akan langsung melanggarnya.


"Aku tidak bercanda, Ayun!" seru Fathir kembali dengan penuh penekanan.


"Aku juga tidak bercanda, Fathir," balas Ayun. "Kalau gitu ayo, kita ke penghulu!" Ayun tertawa lepas.


"Baik, jangan menyesal kau yah," sahut Fathir. Dia lalu ikut tergelak hingga suara tawa mereka memenuhi seisi mobil itu.


Ayun merasa senang bisa membuat Fathir tertawa seperti itu. Dia tidak ingin Fathir kembali mengingat kenangan buruk yang terjadi di masa lalu, apalagi jika sampai membuat serangan paniknya kambuh.


Sementara itu, di rumah sakit terlihat Fathan sedang duduk di atas kursi roda sambil menatap ke luar jendela. Suasana hujan seperti ini sangat menenangkan hatinya, dan mengingatkannya akan sesuatu di masa lalu.


"Dulu kau sangat suka sekali dengan hujan kan, Fathir. Apa sekarang kau masih menyukainya?" gumam Fathan sambil tersenyum, tetapi air mata keluar dari sudut matanya. "Aku harap sekarang kau benar-benar bahagia, Fathir. Maaf karena sudah menjadi luka untukmu." Dia menatap jauh ke arah luar jendela.


Tidak berselang lama, terlihat Dokter masuk ke dalam ruangan itu. "Maaf sudah mengganggu, Tuan. Ada yang ingin bertemu dengan Anda."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2