
Evan langsung berlari ke balik dinding saat melihat kedatangan Ayun dan juga Abbas, dia merasa terkejut dengan apa yang wanita itu katakan, dan tubuhnya refleks bersembunyi ke balik dinding.
"Papa gak lelah kok. Lagi pula ada yang mau papa beli juga," ucap Abbas sambil tersenyum ke arah Ayun. Dia lalu mengajak Adel untuk ke ruangan Nindi sebelum pergi dari tempat itu.
Ayun lalu menyalim tangan sang papa dan terus menatap kepergian Abbas dan Adel dengan senyum lebar. Dia merasa senang karena kedua anaknya bisa menerima kehadiran sang papa, apalagi sejak awal mereka memang dekat dengan Abbas.
Ayun lalu kembali masuk ke dalam ruangan ibunya. Hari ini dia merasa sangat lelah dan ingin istirahat sebentar, apalagi Dokter menyarankan agar dia banyak istirahat.
Evan yang akan menjenguk Hasna tampak terpaku di tempat itu. Dia merasa heran dan bertanya-tanya kenapa Ayun memanggil Abbas dengan sebutan papa, mungkinkah Abbas berhubungan dengan ibunya Ayun?
Evan benar-benar merasa penasaran, dan kembali bersiap untuk menemui ibunya Hasna. Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti karena mendapat telepon dari Agung.
Dengan cepat Evan mengangkat panggilan dari pengacaranya itu. "Halo,"
"Halo, Tuan. Apa saya bisa bertemu dengan Anda sekarang?" ucap Agung di sebrang telepon, membuat Evan mengernyitkan kening.
"Ada apa, apa semuanya sudah selesai?" Evan bertanya tentang pengajuan banding atas kasus pembagian harta dengan Ayun.
"Maaf, Tuan. Pihak pengadilan menolak tuntutan kita,"
"Apa?" Evan memekik kaget saat mendengar ucapan Agung. Dia lalu memerintahkan laki-laki itu untuk datang ke kafe atau restoran yang ada di sekitar rumah sakit, untuk membicarakan masalah penolakan tersebut.
"Sh*it!" umpat Evan dengan kesal saat sudah mematikan penggilan telepon itu. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu dan tidak jadi menjenguk Hasna.
Akhirnya Evan dan Agung bertemu di kafe yang berada di samping rumah sakit. Agung langsung menjelaskan jika pihak pengadilan menolak tuntutan banding mereka karena tidak adanya bukti yang kuat untuk mendukungnya, juga tidak ditemukan sedikit pun celah atas tindakan Ayun selama ini.
"Dia memang istri yang baik dan cekatan," ucap Evan tanpa sadar, membuat Agung mengernyitkan kening bingung.
Evan langsung mengusap wajahnya dengan kasar saat menyadari apa yang dia ucapkan. Dia lalu menyuruh Agung untuk melakukan cara lain agar bisa bernegosiasi dengan pihak pengadilan.
__ADS_1
"Sejak awal pondasi Nyonya Ayun sangat kuat, Tuan. Kita tidak bisa melakukan tuntutan apapun, dan malah berbalik pada kita sendiri," ucap Agung. Dia sadar jika seseorang yang mendukung Ayun sangat kuat, itu sebabnya mereka tidak bisa lagi melakukan apapun.
Evan menghela napas frustasi. Pupus sudah harapannya untuk mendapatkan tambahan agar bisa kembali mengumpulkan modal, dan membayar kerugian.
"Saat ini pihak pengacara nyonya Ayun bergerak cepat untuk membagi aset dan kejayaan Anda, Tuan. Jadi akan jauh lebih baik, jika Anda bicara langsung dengan nyonya Ayun," lanjut Agung. Sudah tidak ada lagi jalan untuk mendapatkan harta itu, selain meminjamnya dari Ayun.
Bram dan anggotanya bergerak cepat untuk mengamankan apa yang sudah menjadi milik Ayun. Mereka mulai mengurus harta kepimilikan, dan memisahkan bagian-bagian yang nantinya akan dibagi sesuai dengan putusan pengadilan.
Evan menghela napas lelah. Dia memijat pelipisnya yang berdenyut sakit. Sepertinya dia harus segera menjual aset milik Sherly, lalu mendatangi Ayun agar wanita itu mau memberikan modal padanya, karena usaha property yang dia miliki sekarang pun akan dibagi dengan Ayun.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Adel dan Abbas sedang menikmati es krim di mall. Mereka terlihat sangat dekat dan saling tertawa bahagia, apalagi saat menceritakan tentang keseharian yang Ayun jalani dulu.
"Maaf saya terlambat, Tuan." Tiba-tiba seorang lelaki berpakaian serba hitam datang menghampiri Abbas dan Adel, membuat gadis remaja itu menatap dengan heran.
"Tidak apa-apa." Abbas menganggukkan kepalanya. "Apa kau sudah menerima perintah dari Keanu?"
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya. "Sudah, Tuan. Hari ini kami akan mengambil semua milik wanita itu, beserta sertifikat tanah dan juga hak milik yang lain."
"Baiklah. Kabari saya jika sudah selesai," ucap Abbas kemudian.
Laki-laki itu kembali menganggukkan kepalanya dan berlalu pamit untuk menjalankan perintah. Dia membawa 4 orang teman untuk membantu proses eksekusi.
"Mereka siapa, Kek?" tanya Adel dengan lirih.
"Mereka anak buahnya om Keanu," jawab Abbas, yang ditanggapi dengan anggukan kepala Adel.
Mereka lalu beranjak pergi dari tempat itu untuk membeli sesuatu yang diinginkan oleh Adel, setelah selesai menikmati es krim yang tersaji di atas meja.
Beberapa jam kemudian, Abbas dan Adel memutuskan untuk langsung pulang dan tidak kembali ke rumah sakit, karena barang-barang yang mereka beli lumayan banyak.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kalau kakek akan membelikannya untuk ibu," ucap Adel dengan senyum lebar.
"Kenapa tidak menyangka? Ibu 'kan membutuhkannya untuk bepergian."
Adel menganggukkan kepalanya. Sejak dulu ibunya selalu naik turun becak atau angkutan umum jika ingin pergi ke mana-mana, atau bahkan berjalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Sella sedang memohon pada anak buah Abbas agar tidak membawa mobilnya dan mobil Sherly.
"Jangan bawa mobilku! Dia sudah memberikanya padaku, jadi kenapa dia mengambilnya lagi?" teriak Sella dengan tidak terima.
"Maaf, Nyonya. Kami hanya menjalankan tugas dari tuan Abbas," ucap laki-laki tersebut sambil masuk ke dalam rumah, dia harus mencari sertifikat tanah yang sebenarnya tidak pernah diberikan oleh Sherly melainkan diminta secara paksa.
Beberapa tetangga yang ada di tempat itu memperhatikan rumah Sherly yang seperti sedang disita oleh rentenir, mereka mulai bisik-bisik tetangga dan menyebarluaskannya.
Sella berusaha untuk mempertahankan barang-barangnya, bahkan sampai mengancam akan melapor pada polisi jika mereka mengambil secara paksa.
Namun, mereka sama sekali tidak peduli, karena semua barang-barang itu atas nama Abbas. Kecuali rumah dan mobil Sherly yang dibelikan oleh Evan.
"Kalian benar-benar tidak punya otak!" maki Sella dengan kemarahan luar biasa. Wajahnya merah padam karena emosi dengan apa yang Abbas lakukan, bisa-bisanya laki-laki itu mengambil barang-barang yang sudah diberikan padanya dan Sherly.
Bukan hanya barang-barang saja yang Abbas ambil kembali, tetapi laki-laki paruh baya itu juga membekukan rekening Sherly dan juga Sella agar tidak bisa lagi menggunakan uang miliknya.
"Bajing*an brengs*ek!" umpat Sella dengan kesal. Dadanya naik turun menahan amarah yang serasa membakar jiwa. "Kau lihat saja, Abbas. Aku pasti akan membalas apa yang sudah kau lakukan ini."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.