Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 48. Tidak Bisa dimengerti.


__ADS_3

Ayun langsung mengaminkan ucapan Nindi dan berharap agar semuanya cepat berlalu. Dia lalu pamit karena masih ada pekerjaan yang harus dilakukan.


Setelah bertemu dengan Nindi dan seorang lelaki yang akan menjadi pengacaranya, pikiran Ayun benar-benar terbuka lebar. Dia yang selama ini hanya fokus untuk melayani keluarga saja, ternyata telah melewatkan banyak hal dalam hidup, yaitu mencintai dan mementingkan diri sendiri.


Sebagai seorang ibu rumah tangga, jelas dia tidak sempat untuk memikirkan diri sendiri. Semua kepentingan berpindah pada suami dan juga anak-anaknya, jika mereka senang maka seorang ibu juga akan ikut senang.


Itulah yang kerap membuat suami menjadi semena-mena dan merasa jika istrinya tidak berharga lagi, lalu mencari wanita yang lebih menarik.


Apalagi jika istri hanya mengurus rumah dan tidak bekerja, maka akan semakin dianggap sebelah mata dan tidak berguna.


Ayun merasa bersyukur karena tersadar dari kesalahan yang telah dia lakukan selama ini, dan juga bersyukur karena bisa mengenal orang-orang baik seperti mereka.


Dia lalu mengambil ponselnya yang ada di dalam tas untuk menghubungi Ezra agar nanti mereka bisa bersama-sama pergi belanja.


"Eh, apa ini?" Ayun membulatkan matanya saat melihat ada banyak sekali panggilan dari Evan, bahkan ada beberapa pesan juga yang berisi kekesalan karena dia tidak mengangkat telepon laki-laki itu.


"Oh iya, hari ini kan tamunya datang. Dia pasti mencariku untuk menyambut mereka," gumam Ayun. Dia lalu membalas pesan itu dan mengatakan bahwa akan datang setelah menjemput Adel.


Sesampainya di sekolah Adel, Ayun memutuskan untuk menunggu putrinya di tempat jualan bakso yang berada di depan sekolah.


"Pak, baksonya satu porsi ya," ucap Ayun pada bapak penjual yang usianya kemungkinan sama dengan sang mertua.


"Baik, tunggu sebentar ya Buk," jawab penjual itu sambil menyiapkan pesanan dari Ayun.


Ayun lalu duduk dengan tenang sambil memperhatikan beberapa orang yang melintas di tempat itu, ada juga beberapa orang tuanya yang datang untuk menjemput anak mereka.


Tidak berselang lama, pesanannya datang dan tersaji di atas meja. Ayun lalu mengucapkan terima kasih dan segera menikmati makanan semua generasi itu.


Beberapa saat kemudian, mangkok yang tadinya terisi penuh kini sudah kosong dan hanya meninggalkan tempatnya saja. Ayun segera mengambil uang seratus ribu untuk membayar bakso yang baru saja dia makan.

__ADS_1


"Kembaliannya untuk Bapak saja," ucap Ayun sambil beranjak berdiri dari kursi.


Laki-laki paruh baya itu langsung mengucap syukur atas rezeki yang dia terima, dan mengucapkan banyak terima kasih pada Ayun karena sudah memberikan lebihan uang padanya.


Ayun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ternyata masih banyak orang-orang yang jauh lebih susah di bawahnya, tetapi tetap kerja keras dan pantang menyerah demi kehidupan yang lebih baik.


Walau sedang ditimpa masalah yang sangat berat, tetapi Ayun tetap bersyukur masih bisa tersenyum dan bertemu dengan banyak orang baik yang selama ini tidak pernah dia temui.


Ayun lalu melangkahkan kakinya untuk kembali ke mobil saat melihat para siswa sudah banyak yang berkeluaran, termasuk Adel yang saat ini sedang berlari ke arahnya.


"Jangan lari-lari Nak, kau bisa jatuh nanti," tegur Ayun yang tidak suka melihat Adel berlari seperti itu, jika jatuh pasti rasanya sakit sekali.


"Hehe, aku kan senang karena melihat Ibu ada di sini," ucap Adel dengan senyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih.


"Senang melihat Ibu, atau senang karena mau belanja?" tanya Ayun sambil menyipitkan matanya, membuat Adel langsung memeluknya dengan tergelak.


"Hehe, Ibu tau aja sih." Dia menggesek-gesek keningnya didada sang ibu. Lalu kembali mendongakkan kepalanya. "Tapi, aku benar-benar senang saat melihat Ibu. Rasanya berbeda dari yang dulu." Dia berucap dengan cepat sambil menganggukkan kepalanya.


Ayun langsung membawa Adel ke kantor suaminya saat mendapat pesan Bahwa Ezra sudah berada di sana, dan putranya itu memintanya untuk segera datang karena ada sesuatu yang terjadi.


"Lebih cepat ya Pak," ucap Ayun pada Tohir. Dia merasa khawatir saat membaca pesan dari putranya.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan dan bergegas keluar dari mobil. Terlihat Ezra sedang duduk di kursi yang ada di lobi kantor itu.


"Ezra!"


Ezra yang sedang bermain ponsel langsung memalingkan wajahnya ke arah pintu, lalu tersenyum cerah saat melihat kedatangan ibu dan juga adiknya.


"Kau baik-baik saja 'kan?" tanya Ayun sambil berjalan mendekati putranya. Dia masih kepikiran dengan apa yang Ezra katakan di pesan tadi.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Bu. Tapi, ada sesuatu yang terjadi di dalam ruang kerja ayah," ucap Ezra membuat sang ibu merasa bingung.


Beberapa karyawan yang ada di tempat itu langsung menyapa Ayun dengan ramah, jarang sekali istri dari bos mereka itu datang ke kantor jika tidak ada acara penting seperti ulang tahun kantor ini.


"Terima kasih untuk kerja kerasnya selama ini, tetap semangat ya," ucap Ayun dengan tidak kalah ramah dari para karyawan suaminya. Jika bukan karena kerja keras mereka, mungkin usaha ini tidak akan berjalan lancar dan berkembang.


Mereka semua tampak tersenyum senang saat mendengar ucapan yang Ayun katakan. Walau hanya sekedar ucapan yang tidak seberapa, tetapi membuat mereka merasa diharagai walau hanya sekedar pekerja biasa.


Ayun lalu pamit untuk menemui suaminya dan meminta mereka untuk kembali bekerja, tetapi jangan melupakan kewajiban sebagai seorang muslim dan juga jangan lupa makan tepat waktu.


Sebelum masuk ke dalam ruangan Evan, Ayun bertanya pada Ezra tentang maksud dari pesan yang putranya itu kirim padanya.


"Ayah menyambut tamunya dengan seorang wanita, yah Ibu pasti sudah tahulah siapa wanita itu," jawab Ezra dengan getir.


Ayun merasa sedikit terkejut saat mendengar ucapan Ezra, padahal sesaat yang lalu Evan masih menelepon dan memintanya untuk segera datang, tetapi lihat sekarang. Sekarang laki-laki itu malah sudah bersama dengan simpanannya, benar-benar tidak bisa ditebak bagaimana jalan pikirannya.


Wajah Adel yang semula ceria langsung berubah saat mendengar ucapan sang kakak. Dia sudah bosan, dan muak dengan apa yang ayahnya lakukan. Kenapa ayahnya sama seperti mantan kekasih temannya yang suka bermain wanita? Benar-benar tidak keren sama sekali.


"Ibu baik-baik saja?" tanya Ezra dengan pelan sambil memegang lengan sang ibu.


Ayun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dia memang merasa terkejut, tetapi hanya cukup sampai di situ saja.


"Tentu saja ibu baik. Ayah kalian 'kan juga ingin menunjukkan wanita itu pada orang lain, sayang sekali jika terus disimpan dan akhirnya membusuk. Jadi ayo, kita juga harus menunjukkan posisi kita pada mereka!"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2