
Ayun terkesiap saat mendengar suara seseorang. Dengan cepat dia mengusap air mata yang ada diwajahnya, lalu mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang sedang bicara padanya.
"Anda tidak apa-apa?" tanya seorang lelaki yang beberapa saat lalu bicara dengan Ayun.
Ayun langsung beranjak dari tanah dengan berpegangan dinding, membuat laki-laki yang ada di hadapannya mengernyitkan kening bingung.
"Sa-saya tidak apa-apa, Tuan. Maaf mengganggu kenyamanan Anda," ucap Ayun dengan tidak enak hati, dia merasa segan dan malu karena sudah menganggu orang lain atas tangisannya.
Laki-laki itu menghela napas kasar. "Saya bukannya tidak merasa nyaman, saya juga tidak peduli jika Anda ingin menangis. Tapi, jangan di depan mobil saya."
Ayun terlonjak kaget dengan apa yang laki-laki itu katakan, dia baru sadar jika ada mobil di tempat itu, dan berada tepat di hadapannya.
"Ma-maaf, Tuan." Ayun segera meminggirkan tubuhnya dengan wajah merah padam, karena mobil laki-laki itu memang tidak bisa lewat jika dia berdiri di samping dinding.
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya lalu berbalik dan berjalan masuk ke dalam mobil. Dia melajukan mobil itu, dan berhenti tepat di hadapan Ayun, membuat wanita itu menatap heran.
"Lain kali, carilah tempat yang sepi kalau ingin menangis. Jadi, tidak menghalangi jalan orang lain," ucap lelaki itu, dan berlalu pergi menuju jalan raya.
Ayun mematung di tempatnya saat mendengar apa yang laki-laki itu ucapkan. Memangnya dia mau, menangis disembarangan tempat? Lagi pula, siapa juga yang mau menangis baik di tempat sepi atau pun ramai? Benar-benar membuat perasaannya menjadi semakin buruk.
Abbas yang baru selesai membayar kerugian atas ketidaksengajannya menabrak pelayan, segera mencari di mana keberadaan Ayun. Dia benar-benar merasa sedih dengan reaksi yang putrinya itu berikan, tetapi dia paham jika Ayun pasti merasa terpukul dengan apa yang dia katakan.
"Ya Allah, aku tahu kalau aku sudah membuat kesalahan. Jika Kau ingin menghukum, maka hukumlah aku. Jangan hukum anak-anakku dengan kemalangan dan rasa sakit, sudah cukup selama ini mereka mendapatkan rasa sakit akibat perbuatanku. Aku mohon," gumam Abbas dengan lirih. Dia lalu berjalan gontai menuju rumah sakit, tanpa sadar jika Ayun masih berada di samping bangunan kafe itu.
Setelah mendengar semua kebenaran dari mulut Abbas, Ayun memutuskan untuk pulang ke rumah dan tidak kembali menemui sang ibu. Dia ingin menenangkan diri sejenak karena takut menangis, atau meluapkan perasanannya di hadapan sang ibu.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Evan sedang merenung di dalam kamarnya. Dia merasa pusing dan bingung dengan apa yang akan dilakukan, apalagi sejak semalam dia terus teringat tentang Ayun dan kedua buah hatinya.
__ADS_1
"Hah." Evan menghela napas kasar sambil menyandarkan tubuhnya ke ranjang, saat ini dia sedang duduk di lantai sambil melihat ke arah jendela dengan pikiran melayang ke mana-mana.
"Evan!"
Evan yang saat ini sedang melamun melirik ke arah pintu kamar saat mendengar panggilan sang ibu, tetapi dia malas beranjak dari tempat itu dan tidak mau melakukan apapun untuk saat ini.
"Evan!" panggil Mery kembali dengan kesal. Sejak semalam Evan tidak keluar dari kamar, bahkan putranya itu juga tidak makan apapun. "Apa yang kau lakukan di dalam sana, hah? Kenapa gak keluar-keluar?" Dia terus berucap dengan kesal. Semarah apapun dia dengan Evan, jelas dia juga merasa khawatir jika laki-laki itu seperti ini.
"E-"
"Mery!"
Mery tidak jadi melanjutkan ucapannya saat mendengar panggilan sang suami, dia lalu menoleh ke arah samping kanan di mana suaminya sedang berjalan mendekatinya.
"Ada apa, Mas?" tanya Mery dengan heran.
"Di depan ada orang yang mencari Evan, suruh dia cepat keluar," ucap Endri sambil menunjuk ke arah tangga.
Endri mengendikkan bahunya sebagai petanda tidak tahu, sambil berbalik dan kembali turun ke lantai 1.
Mery lalu kambali memanggil Evan dan memberitahukan tentang kedatangan tamu ke rumah itu, dia terus menggedor pintu kamar itu sampai Evan membukakan pintu.
"Ada apa sih, Bu? Sudah ku bilang 'kan, kalau aku tidak mau diganggu?" ucap Evan dengan ketus, dia merasa kesal karena sejak tadi ibunya terus memaksa untuk keluar.
Mery menatap Evan dengan tajam dan tidak kalah kesal dari putranya itu. "Apa gunanya kau mengurung diri di dalam kamar, hah? Apa kau pikir dunia ini berhenti berputar jika kau seperti itu?" Dia berucap dengan sarkas.
Evan membuang muka dengan helaan napas frustasi. Dia hanya ingin ketenangan agar bisa membuat keputusan tentang masa depannya, termasuk hubungannya dengan Sherly.
__ADS_1
"Di depan ada orang datang dan ingin bertemu denganmu."
Deg.
Evan terkesiap saat mendengar ucapan sang ibu. "Si-siapa?" Dia bertanya dengan kaget.
Mery menggelengkan kepalanya. "Cepat kau temui mereka, ibu tidak tahu lagi masalah apa yang akan terjadi." Dia langsung beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Evan terdiam dengan apa yang ibunya katakan, dia sedang bertanya-tanya kira-kira siapa yang datang mencarinya. Dia lalu segera mengikuti langkah sang ibu untuk melihat siapa yang sedang bertamu.
Dua orang lelaki dan satu orang wanita sedang duduk di ruang tamu bersama dengan Endri, merekalah yang datang ke rumah itu untuk bertemu dengan Evan.
Evan yang saat ini berjalan ditangga mendadak menghentikan langkahnya saat melihat orang-orang yang sedang bersama dengan ayahnya, dia merasa kaget karena tidak menyangka jika mereka akan datang mencarinya seperti ini.
"Sia*l. Aku lupa kalau belum bayar tagihan," gumam Evan dengan kesal.
Beberapa bulan yang lalu, Evan meminjam uang sejumlah 700 juta kepada seseorang untuk dijadikan modal pelelangan. Lalu, dia berjanji akan mencicilnya dalam waktu 3 bulan setelah pelelangan selesai.
"Akhirnya Anda keluar juga, Tuan Evan," ucap seorang wanita yang duduk di ruang tamu, dia beranjak dari sofa saat melihat kedatangan Evan.
Evan melangkah cepat untuk menghampiri mereka, dia lupa jika belum memberitahu tentang masalah yang menimpanya.
"Kami datang karena Anda belum membayar tagihan bulan ini, Tuan."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.