
Wajah Fathan yang selalu tersenyum ramah dan terkadang menatap sendu, kini berubah merah padam penuh kemarahan dengan urat-urat yang menonjol disekitar leher.
Matanya berkilat penuh emosi dengan tatapan tajam bak seekor elang yang siap menerkam mangsanya, membuat Keanu yang terus memperhatikan tersenyum tipis.
Pyar.
"Astaghfirullah!" Ayun dan Nindi memekik kaget saat tiba-tiba Fathan melayangkan tinjunya tepat ke atas meja, menyebabkan suara benturan yang sangat keras. Bahkan meja yang terbuat dari kaca itu langsung pecah berserakan di atas lantai.
"Brengs*ek!" umpat Fathan dengan kemarahan yang meluap.
Ayun langsung beranjak keluar untuk memanggil Dokter saat melihat tangan Fathan terluka, begitu juga dengan Nindi yang memutuskan untuk keluar sambil mengusap-usap perutnya yang terasa kram akibat terlalu terkejut.
"Kunci pintunya, Ken. Kita harus bicara empat mata," pinta Fathan dengan penuh penekanan.
Keanu mengangguk lalu berjalan ke arah pintu. Begitu Dokter akan masuk, Keanu langsung menguncinya membuat semua orang berubah panik. Terutama Ayun dan Nindi.
"Mas!" panggil Nindi dengan wajah pias. Dia mengernyit menahan sakit saat perutnya kembali kram.
"Ayo kita duduk dulu, Dek!" ajak Ayun sambil membawa Nindi untuk duduk dikursi yang ada di tempat itu.
Dokter dan perawat juga terlihat panik saat Keanu mengunci pintu ruangan Fathan, dan bergegas untuk mengambil kunci cadangan sebelum terjadi sesuatu yang buruk.
"Biarkan saja, Dokter. Mereka hanya ingin bicara, saya yakin tidak akan terjadi sesuatu," ucap Ayun mencoba untuk menenangkan mereka.
"Tidak, Nyonya. Saya tidak ingin mengambil resiko yang membahayakan bagi tuan Fathan," sahut Dokter itu.
"Saya yang akan bertanggung jawab." Ayun terus berusaha untuk menenagkan Dokter itu dan meminta waktu selama sepuluh menit saja. Jika pintu itu tidak terbuka juga, barulah mereka boleh membukanya dengan menggunakan kunci cadangan.
Akhirnya Dokter itu mau mendengarkan permintaan Ayun, tetapi mereka tetap menyiapkan kunci cadangan untuk jaga-jaga.
Setelah semuanya keluar dan pintu sudah terkunci, Keanu kembali menghampiri Fathan yang tidak bergerak sedikit pun dari tempat itu. Walaupun darah segar menetes dari punggung tangannya.
__ADS_1
Fathan langsung mendonggakkan kepalanya saat mendengar langkah Keanu, dia lalu menatap laki-laki itu dengan tajam.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Keanu.
"Tolong balaskan dendamku, Keanu. Buatlah Rian hancur, karena hanya kau yang bisa melakukannya," pintu Fathan. Tatapan tajam dikedua matanya mulai meredup.
Keanu mendengus sinis. "Jadi kau ingin lepas tangan dengan meminta bantuanku? Enak saja kau!" Tentu dia tidak akan terima. Siapa yang berbuat ulah, siapa pula yang membereskannya.
Fathan terdiam. Dia tahu jika Keanu akan menolak untuk membantunya, tetapi dia sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku tidak bisa membalasnya dengan keadaanku sekarang, Ken. Kau lihat, aku bahkan tidak bisa berjalan tanpa kursi roda. Kalau pun bisa, aku pasti akan langsung kembali ke penjara," ucap Fathan.
Keanu hanya diam sambil bersedekap dada. Sebenarnya dia memang ingin menghancurkan Rian walau tanpa diminta, apalagi setelah mendengar semua kebenaran yang terjadi.
Namun, dia juga ingin melihat apa yang akan Fathan lakukan, karena seharusnya laki-laki itu yang paling murka dalam situasi ini.
"Aku akan beritahu semua kelemahan Rian, aku akan beritahu cara bagaimana menghancurkannya. Tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri. Karena kalau dia mengetahui pergerakanku, aku takut dia akan melakukan sesuatu."
"Itu karna aku tidak bereaksi, dan Fathir juga tidak berniat untuk kembali ke perusahaan. Dia pasti merasa sangat senang sekarang," sahut Fathan dengan penuh kebencian. Tidak disangka jika selama ini Rian memperdayanya, padahal hanya laki-laki itu saja yang menjadi tempatnya bersandar. Hatinya benar-benar terasa hancur.
Sejak beranjak dewasa, Fathan memang lebih dekat dengan Rian dari pada Fathir. Apalagi mereka selalu menempuh pendidikan di tempat yang sama, sampai akhirnya laki-laki yang masih ada hubungan sepupu dengannya itu menjadi sekretaris pribadinya.
Di saat Fathan tersudut, tersingkirkan, bahkan terjatuh dan direndahkan oleh orang-orang, hanya Rianlah yang tetap berdiri di sampingnya. Tetap setia mendukungnya, bahkan saat keluarganya sendiri merasa acuh padanya.
Namun, ternyata semua itu hanyalah permainan semata. Ketulusan dan kepercayaan yang Fathan berikan malah dimanfaatkan sedemikian kejam, bahkan sampai merusak keluarganya sendiri, juga membuat istri adiknya meregang nyawa.
"Aku akan membalasnya melaluimu, Ken. Tolong bantu aku," pinta Fathan kembali. "Seperti apa yang kau katakan, semuanya pasti sudah direncanakan oleh bajing*an itu, termasuk kejadian yang menewaskan Clarissa. Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa ada pistol di apartemenku, bahkan benda itu tergeletak di atas sofa. Dan sekarang aku yakin bahwa semua itu sudah disiapkan oleh Rian."
Keanu setuju dengan pemikiran Fathan. Mungkin Rian menyiapkan pistol itu dengan harapan bahwa Fathan dan Fathir akan saling membunuh, bahkan bisa saja terbunuh dua-duanya. Namun, naasnya malah Clarissa yang menjadi korban.
"Baiklah, aku akan melakukannya," ucap Keanu kemudian. Setelah dipikir-pikir, apa yang Fathan katakan memang benar.
__ADS_1
Fathan langsung mengucapkan terima kasih pada Keanu. Dia berjanji akan menghancurkan Rian, sama seperti laki-laki itu memanfaatkannya dan menghancurkan hubungannya dengan Fathir.
"Kau tunggu saja, Rian. Aku pasti akan menghancurkanmu sampai berkeping-keping." Fathan kembali mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Sesaat kemudian, pintu ruangan itu dibuka paksa oleh Dokter dengan menggunakan kunci cadangan setelah menunggu selama sepuluh menit. Mereka bergegas masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa keadaan Fathan, begitu juga dengan Ayun dan Nindi.
"Apa Mas baik-baik saja?" tanya Nindi dengan cemas.
Keanu menganggukkan kepalanya. "Aku baik-baik saja, Sayang. Ayo, kita pergi dari sini!" Dia melirik ke arah Fathan dan dibalas dengan anggukan kepala laki-laki itu.
Ayun segera pamit pada Fathan sebelum keluar dari ruangan itu, begitu juga dengan Nindi walau masih merasa benci dengan laki-laki itu.
Setelah keluar, Keanu menceritakan pada Ayun dan Nindi tentang pembicaraannya beberapa saat yang lalu. Dia juga meminta agar mereka tidak memberitahukannya pada siapa pun, tidak terkecuali Fathir dan keluarga laki-laki itu.
"Biar aku dan Fathan yang menyelesaikannya. Semakin sedikit orang yang tahu, maka semakin baik," ucap Keanu.
Ayun dan Nindi mengangguk paham. Mereka berjanji tidak akan menceritakannya pada siapapun, tetapi mereka juga meminta agar Keanu berjanji untuk selalu hati-hati.
Setelah selesai, Keanu dan Nindi bergegas pulang karena Keanu harus menyiapkan semuanya, sementara Ayun memutuskan untuk kembali ke ruangan Fathir dan tidak jadi pulang ke rumah.
"Loh, kau masih di sini, Sayang?" tanya Alma saat melihat kedatangan Ayun.
Ayun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Aku tidak jadi pulang, Tante. Tadi tidak sengaja bertemu dengan Keanu dan Nindi, jadi ikut mereka memeriksakan kandungan."
Alma mengangguk paham. "kalau gitu msuklah ke dalam dan temui Fathir, dia sudah sadar dan sejak tadi mencarimu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.