
Di tempat lain, terlihat Endri dan Sherly sedang duduk di taman yang berada tidak jauh dari rumah sakit. Kebetulan tempat itu tidak ramai, dan pas sekali untuk bicara empat mata seperti ini.
Sherly menundukkan kepalanya di samping sang mertua dengan jarak beberapa jengkal. Dadanya berdegup kencang, menerka-nerka sebenarnya apa yang ingin Endri katakan padanya, karena ini kali pertama laki-laki paruh baya itu mengajaknya bicara.
Endri sendiri melihat lurus ke depan. Matanya menatap kosong dengan pikiran berkecamuk.
"Maaf, Yah. Apa, apa yang ingin-"
"Pergilah, Sherly. Aku sudah tidak bisa lagi menahan diri melihat keberadaanmu disekitar kami."
Sherly terkesiap saat mendengar ucapan Endri. Sontak kepalanya terangkat dan menatap laki-laki itu dengan tajam.
"Tidak, aku adalah istrinya Evan. Aku berhak bersama dengannya," tolak Sherly dengan tajam. "Aku tahu sudah membuat kesalahan, Yah. Aku mohon maafkan aku, aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi. Aku mohon jangan usir aku." Dia menghiba, memohon maaf agar tidak diusir.
Endri menghela napas kasar, dia lalu melirik ke arah wanita itu dengan tatapan tajam. "Kau tahu kenapa selama ini aku diam saja melihatmu, hah?" Dia bertanya dengan sarkas, dan untuk pertama kalinya dia bicara seperti itu pada orang lain.
Sherly terdiam dan tidak menjawab ucapan Endri. Dia malah tetap memohon agar dimaafkan dan diberi kesempatan.
"Selama ini aku diam bukan karena menerima atau pun memaafkanmu, Sherly. Aku bahkan selama ini tidak menganggap dan tidak peduli dengan keberadaanmu, dan semua itu hanya karena Suci!" Dia menggertakkan gigi menahan emosi.
"Aku diam hanya karena Suci, aku tidak mau ada anak lain yang bernasib malang seperti cucuku Ezra dan juga Adel. Tapi kalian sama sekali tidak punya pikiran dan terus membuat masalah, terutama laki-laki yang katanya sangat mencintaimu itu," sambung Endri.
__ADS_1
"Selama ini kau selalu membahas tentang Suci. Tolong ingat Suci, tolong pikirkan Suci, dia juga anak Evan. Itu 'kan, yang selalu kau katakan selama ini?" tukas Endri dengan sinis. "Kau mengatakan semua itu dengan lantang, kau meminta kami memikirkan hak anakmu. Padahal selama ini kau sudah mengambil hak anak-anak lain, kau bahkan menghancurkan kebahagiaan mereka. Apa kau tidak merasa bersalah sedikit pun, hah?"
Sherly terdiam dengan tubuh menegang. Kedua tangannya saling bertautan dengan erat, disertai debaran jantung yang seakan ingin meledak saat mendengar ucapan tajam sang mertua.
"Kau seorang ibu, Sherly. Kau juga punya anak, tapi ke mana hati nuranimu pada ibu lain yang dengan kejamnya kau hancurkan?" Ucapan Endri terasa menancap dihati Sherly. "Kau tidak terima berpisah dengan Evan, kau tidak mau anakmu tidak punya seorang ayah. Lalu, bagaimana dengan Ezra dan juga Adel? Apa kau pikir Ayun mau kalau anaknya tidak punya ayah?"
Tubuh Sherly kian bergetar, dia merasa tertegun hebat. Kata demi kata yang Endri ucapkan terasa mengiris-ngiris dadanya.
"Kau berkoar-koar saling mencintai dengan Evan, dan sama sekali tidak memandang keberadaan Ayun. Apa kau pikir dia tidak mencintai suami yang sudah 20 tahun bersamanya? Apa kau pikir cintamu lebih besar dari cinta seorang anak kepada ayahnya, sehingga kau merampas semua kebahagiaan Ezra dan juga Adel?" tanya Endri dengan emosi.
"Bagaimana jika Suci yang berada diposisi mereka, apa kau pikir dia akan bahagia melihat kedua orang tuanya berpisah, lalu kehilangan ayahnya sendiri?"
Air mata Sherly luluh lantak diwajahnya. Dia menunduk dengan terisak, menahan rasa sakit didada saat membayangkan apa yang Endri katakan. Tidak, dia tidak mau semua itu terjadi pada Suci. Dia tidak mau melihat putri semata wayangnya menderita, dia tidak akan sanggup.
"Sudah cukup, Sherly. Aku tidak mau memikirkan anakmu lagi, aku juga tidak mau melihat kalian lagi. Pergi dari rumahku sekarang juga. Kalau kau tetap berada di sana, kau akan lihat bagaimana aku membereskan kalian."
Endri beranjak pergi dari tempat itu tanpa menoleh ke belakang, walau dia mendengar tangisan Sherly yang semakin menguat.
Sherly menangis dengan tersedu-sedu sampai membuat wajahnya memerah. Semua ucapan Endri terasa meremmas-remmas dadanya, hingga membuat rasa sesak dan sakit menjalar ke seluruh tubuh.
Tidak ada satu kata pun yang terucap dari mulutnya. Hanya ada rasa sakit yang saat ini sedang membelenggu jiwa dan raganya, menimbulkan rasa penyesalan atas apa yang sudah dilakukan.
__ADS_1
Setelah pergi dari taman, Endri kembali ke ruangan Evan. Terlihat laki-laki itu sedang duduk dengan tenang, bersama dengan istrinya.
Mery langsung memberondong Endri dengan berbagai pertanyaan saat melihat kedatangan laki-laki itu, tetapi suaminya hanya diam dan enggan bicara.
"Bagaimana hasil tes darahnya?" tanya Endri, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Mery langsung melirik ke arah Evan yang diam di ranjang, seolah mengatakan jika dia tidak tahu apa-apa.
"Aku akan mengatakannya nanti, Yah," ucap Evan dengan lirih. Beberapa saat yang lalu Dokter memberikan hasil pemeriksaan itu padanya, dan sungguh dia sangat terkejut dengan apa yang dia lihat. Itu sebabnya dia melarang Dokter untuk memberitahu kedua orang tuanya.
Kedua tangan Evan mengepal kuat mengingat hasil tes yang diberikan Dokter tadi. Di mana tertulis bahwa dia terlalu banyak mengkonsumsi obat perangs*ang, hingga membuat jantungnya melemah dan pasokan darah ke jantung mendadak terhenti.
Evan merasa tidak pernah mengkonsumsi obat tersebut, dan menurut pemeriksaan dia sudah meminumnya dengan skala besar. Jika dia sama sekali tidak meminumnya, lalu bagaimana mungkin obat itu bisa masuk ke dalam tubuh? Jelas saja yang melakukan semua itu adalah orang terdekatnya, yaitu Sherly.
Tentu Evan ingat dengan apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu, di mana libidonya meninggi hingga membuatnya ingin berhubungan int*im sampai beberapa kali. Semua itu terjadi berulang kali, dan ternyata semua itu disebabkan oleh obat lucknut itu.
"Aku benar-benar menyesal sudah mengenal wanita licik sepertimu, Sherly. Tidak seharusnya aku mencintai wanita gila sepertimu, bagaimana mungkin kau memberikan obat itu padaku? Apa kau ingin membunuhku? Padahal aku selalu membelamu, hingga karena kau aku kehilangan semuanya. Aku kehilangan anak-anakku, aku bahkan juga kehilangan istriku."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.