
Evan dan Sherly terdiam nyalang mendengar semua perkataan Dokter. Seluruh tubuh mereka seketika menjadi lemas tidak bertulang, dengan rasa sakit yang berhasil meremukkan hati, jiwa, dan raga.
Mereka merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi. Tidak pernah terbayangkan bahwa mereka akan membuat putri mereka sendiri menderita seperti ini, sungguh rasanya sangat menyesakkan dada.
"Saya harap Anda berdua paham dengan apa yang-" Dokter itu tidak dapat melanjutkan ucapannya saat mendengar teleponnya berdering, dengan cepat dia menjawab telepon itu dan mendengarkan ucapan seseorang dengan wajah panik.
Dokter itu langsung beranjak pergi dari tempat itu saat panggilan telepon sudah selesai, membuat Evan dan Sherly yang sejak tadi menunduk sedih beralih menatap heran.
"A-apa yang terjadi?" tanya Evan sambil ikut beranjak dari ruangan itu. Dia merasa khawatir saat melihat kepanikan diwajah Dokter tersebut.
Tanpa menanggapi ucapan Evan, Dokter itu terus melangkah pergi menuju ruangan Suci. Sesaat yang lalu, perawat menghubunginya dan mengatakan jika pasiennya kembali mengalami kejang.
"Suci!" Sherly memekik kuat saat melihat keadaan Suci setelah mengikuti Dokter itu masuk ke ruangan di mana putrinya berada, begitu juga dengan Evan yang terbelalak syok melihat keadaan Suci.
"Pasien kembali mengalami kejang, Dokter," ucap salah satu perawat yang ada di dalam ruangan itu.
"Ya Tuhan, putriku!" pekik Sherly kembali sambil berlari ke arah Suci, tetapi dengan cepat perawat menghalanginya sebelum menyentuh gadis kecil itu. "Lepaskan aku!" Dia memberontak dengan kuat.
Dokter segera menyuruh perawat-perawat itu untuk membawa Sherly keluar, sementara Evan hanya terpaku di ambang pintu dengan air mata yang membasahi wajah.
"Suci, putriku," ucap Evan dengan lirih. Tubuhnya tiba-tiba terjatuh ke lantai dengan kuat, dan langsung bersimpuh sambil terisak pilu.
Hatinya benar-benar hancur tidak bersisa. Dulu dia sudah menyakiti dan menorehkan luka di hati Ezra dan Adel, bahkan sampai saat ini dia masih saja melakukannya.
Lalu sekarang, dia juga melakukan hal itu pada Suci. Dia bahkan memberikan sesuatu yang sangat buruk, dan berhasil menghancurkan hidup putri kecilnya yang malang itu.
"Tuhan, aku benar-benar manusia berengsek. Aku, aku bahkan tidak pantas disebut sebagai seorang manusia, apalagi seorang ayah." Tangisan Evan semakin mengeras membuat semua orang memperhatikannya.
Dokter terpaksa menyuruh petugas keamanan untuk membawa Evan keluar dari ruangan itu karena laki-laki itu sama sekali tidak mendengar dan hanya terus menangis dengan tersedu-sedu.
Bukan hanya Evan saja, Sherly bahkan jauh lebih parah dari itu. Dia meraung-raung sambil menyebut nama Suci dan mengucapkan ribuan kata maaf karena dialah yang menyebabkan kehancuran bagi putrinya sendiri.
Pihak rumah sakit terpaksa mengamankan Sherly karena sudah membuat keributan, mereka bahkan sampai memberikan obat penenang pada wanita itu agar tenang.
__ADS_1
Kedua orang tua Evan yang sudah sampai di rumah sakit juga merasa sangat syok saat mendengar keadaan Suci. Perasaan bersalah juga menghantam mereka, karena biar bagaimana pun, mereka juga turut andil dalam semua yang terjadi.
Sementara itu, di tempat lain Ayun dan yang lainnya sudah sampai di rumah. Fathir juga ikut pulang ke rumah Ayun karena ada hal penting yang ingin dia katakan.
"Duduklah, aku akan membuatkan minum sebentar," ucap Ayun sambil mempersilahkan Fathir duduk di ruang tamu, sementara anak-anak memutuskan untuk naik ke lantai dua.
"Tidak perlu, Ayun. Duduklah, aku hanya ingin bicara sebentar denganmu," sahut Evan.
Ayun mengangguk paham dan langsung duduk tepat di hadapan Fathir, dia merasa gelisah dan gugup saat bersitatap mata dengan laki-laki itu.
Fathir sendiri juga merasa gugup, tetapi dia mencoba untuk menenangkan diri agar bisa bicara dengan Ayun.
"Maaf, aku minta maaf karna sudah berkata seperti itu di hadapan Evan," ucap Fathir dengan kedua tangan saling bertautan. Dia menatap ke arah Ayun, tetapi tidak dengan tatapan tajam seperti mana biasanya.
Ayun terdiam. Seharusnya Fathir tidak meminta maaf padanya, karena laki-laki itu tidak melakukan kesalahan apapun, tetapi malah sebaliknya.
"Tidak perlu meminta maaf, Fathir. Kau tidak melakukan kesalahan apapun, aku malah sangat berterima kasih atas semua yang telah kau lakukan, termasuk perkataan yang kau ucapkan pada Evan tadi," balas Ayun sambil mengulas senyum tipis.
"Tidak, tahan dirimu, Fathir. Semua ini terlalu cepat untukku dan Ayun." Fathir menggertakkan giginya sambil menekan gejolak hati yang benar-benar sedang membara.
"Fathir, kau mendengarku?"
Fathir terkesiap saat mendengar suara Ayun. "A-aku mendengarmu, Ayun. Aku juga menyukaimu."
Deg.
"Hah?" Ayun terperanjat kaget saat mendengar ucapan Fathir, begitu juga dengan Fathir sendiri yang tidak sengaja mengungkapkan perasaannya.
Si*al. Fathir merutuki kebod*ohannya yang sudah kelepasan bicara, memang jika bersama dengan Ayun maka semuanya terjadi diluar prediksi BMKG.
"Dasar bod*oh. Mati saja kau, Fathir!" Ingin sekali Fathir menenggelamkan diri ke laut yang paling dalam karena merasa malu dan sangat bod*oh sekali.
Ayun sendiri menundukkan kepalanya dengan wajah merah padam. Tidak, rasanya dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Tidak mungkin Fathir menyukainya, apalagi laki-laki itu jauh lebih segala-galanya dari dia.
__ADS_1
"Ya Allah, apalagi ini? Aku mohon jangan lakukan semua ini padaku, aku mohon." Ayun kembali menekan dadanya yang semakin berdegup kencang.
Terlalu dini bagi Ayun untuk kembali merajut cinta, bahkan luka lamanya pun belum mengering. Dia juga sama sekali tidak memikirkan tentang hal itu, dan bahkan tidak ingin lagi merasakannya.
"Tolong jangan pikirkan ucapanku, aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Fathir kemudian setelah berhasil menenangkan diri.
Ayun memberanikan diri untuk menatap ke arah Fathir, dan entah kenapa debaran di dalam dadanya semakin menjadi-jadi.
"Aku memang menyukaimu, tapi bukan berarti aku meminta balasan yang sama. Aku hanya ingin mengatakannya saja, jadi tidak perlu dipikirkan," sambung Fathir.
Ayun menganggukkan kepalanya dengan sangat susah payah karena seluruh tubuhnya terasa tegang. Lalu, tidak mungkin dia tidak memikirkan ucapan Fathir tadi.
Fathir lalu beranjak dari sofa membuat Ayun juga ikut bangun. Dia bergegas pamit untuk kembali ke perusahaan, padahal tadinya dia berniat untuk berada di tempat itu barang setengah jam.
Namun, sesuatu yang tidak terduga keluar dari mulutnya karena ternyata dia tidak bisa mengendalikan diri.
Ayun mengantar Fathir sampai ke depan rumah, dia tetap berada di tempat itu sampai mobil laki-laki itu pergi dan tidak terlihat lagi.
Helaan napas lega Ayun hembuskan saat Fathir sudah pergi, dia benar-benar merasa sesak dan gugup saat masih ada laki-laki itu.
Dari kejauhan, Ezra dan Faiz tersenyum lebar sambil melihat ke arah Ayun. Tentu saja mereka menguping pembicaraan antara ibu dan papa mereka, apalagi saat Fathir mengungkapkan perasaan.
"Dengar, Faiz. Kakak menyukai papamu, dan kakak ingin menyatukan papamu dengan ibu kakak. Bagaimana menurutmu?" tanya Ezra. Dia ingin memberikan kebahagiaan pada sang ibu, walaupun tidak tahu apakah semua akan berjalan baik.
"Tentu saja aku setuju, aku juga menyukai ibu kakak. Ayo, kita dekatkan mereka! Aku tidak ingin papa bersama dengan wanita lain."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1