Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 164. Tamu Undangan.


__ADS_3

Semua orang semakin menangis haru melihat Ayun dan Fathir berpelukan dengan anak-anak mereka. Setelah perjuangan yang luar biasa, akhirnya sepasang suami istri itu dapat meneguk manisnya kebahagiaan dunia bersama dengan keluarga kecil mereka.


Begitu juga dengan Endri dan Mery yang baru saja tiba di tempat itu saat Fathir mengucap akad. Mereka berdua turut senang melihat kebahagiaan Ayun beserta cucu-cucu mereka, hingga air mata jatuh membasahi wajah.


Namun, lain hal dengan Evan yang tampak terdiam dengan tatapan sendu saat menyaksikan Fathir mengikrarkan akad di depan penghulu.


Dada Evan berdenyut sakit menyaksikan wanita yang pernah menjadi istrinya, dan menemaninya setiap waktu kini sudah menjadi milik orang lain. Kesedihan menjalar keseluruh jiwa dan raga, hingga membuat tubuhnya bergetar menahan segala penyesalan yang telah dilakukan.


Evan tidak menyangka jika akan merasa sesakit ini melihat Ayun bersanding dengan lelaki lain. Bukankah sejak dulu dia tidak mencintai wanita itu? Tetapi kenapa, kenapa dadanya terasa seperti ditusuk dengan bara api yang membuat seluruh jiwanya terbakar?


"Evan!"


Evan tersentak kaget saat sang ibu menepuk bahunya, seketika dia menoleh ke arah sang ibu tanpa sadar jika air mata sudah jatuh membasahi wajah.


"Jangan menangis, Nak. Kalian sudah punya kehidupan masing-masing sekarang," ucap Mery dengan sendu.


Evan langsung mengusap air mata yang ada diwajahnya saat mendengar ucapan sang ibu, sementara ayahnya hanya diam dengan tatapan yang tidak kalah sendu dari sang ibu.


"Tidak, Bu. Ini, ini-" Evan tidak dapat melanjutkan ucapannya karena tidak tahu harus berkata apa, dan dadanya terasa semakin sesak hingga tangannya harus berpegangan pada meja agar kuat untuk menopang berat tubuhnya.


Air mata Mery semakin mengalir deras saat melihat kedua mata putranya. Terlihat jelas rasa sakit dan penyesalan dari kedua sorot mata itu, walaupun Evan berusaha untuk bersikap biasa saja.


Dengan cepat Mery menggenggam tangan Evan membuat putranya menatap penuh kegetiran. "Ikhlaskan semuanya, Nak. Ayun sudah bahagia sekarang, dan kau juga harus bahagia dengan hidupmu." Dia berucap dengan sendu.


Evan terdiam dengan mata berkaca-kaca, sekuat tenaga dia menahan air mata yang akan kembali terjun bebas. Sungguh rasanya sangat sakit sekali. Seperti inikah rasa sakit yang selama ini Ayun derita akibat pengkhianatan yang telah dia lakukan?


"Semua ini sudah Takdir Allah, sebagai manusia kita harus menerimanya dengan lapang dada. Bukankah semua yang terjadi karena kesalahan kita sendiri?" ucap Endri yang sejak tadi diam memperhatikan. Dia lalu menepuk bahu Evan seraya menguatkan putranya itu, dan tidak lupa mengingatkan Evan bahwa semua yang terjadi karena perbuatannya sendiri.


Evan mengangguk paham. "Aku mengerti, Bu, Ayah. Aku, aku ikut bahagia melihat Ayun dan anak-anakku bahagia. Aku hanya tidak mengerti kenapa dadaky rasanya sangat sakit sekali." Dia menunduk pilu.


Mery dan Endri sangat mengerti dengan apa yang Evan rasakan saat ini, dan inilah yang disebut dengan penyesalan selalu datang belakangan.

__ADS_1


Apalagi hidup Evan sangat berantakan sejak berpisah dengan Ayun, jelas saja laki-laki itu merasakan perbedaan yang sangat luar biasa dalam hidupnya. Terlepas apakah dia mencintai Ayun atau tidak, yang pasti dia sangat menyesal karena sudah kehilangan wanita sebaik Ayun.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi Mayra terus memperhatikan apa yang terjadi. Dia yang juga baru sampai di tempat itu dan buru-buru untuk melihat acara akad, mengurungkan niatnya saat melihat keberadaan ayahnya Ezra.


Mayra merasa tertegun melihat raut wajah Evan. Dia bisa melihat ketulusan dan rasa sakit dari kedua sorot mata laki-laki itu saat menatap Ayun, dan hatinya terasa teriris saat mendengar ucapan Evan pada kedua orangtua laki-laki itu.


"Waktu tidak bisa diputar ulang, itu sebabnya jangan menyia-nyiakan seseorang yang berada di sisi kita. Karena kalau orang tersebut pergi, maka kita sendirilah yang akan merasa sakit serta penyesalan terbesar dalam hidup ini," gumam Mayra dengan sendu.


Apa yang Mayra lihat saat ini menjadi pembelajaran untuk dirinya sendiri, agar mensyukuri semua yang dia miliki, termasuk orang-orang yang saat ini ada di sisinya dan menyayanginya dengan tulus.


Mayra lalu mendekati Evan sambil memasang senyum lebar diwajahnya. "Kakek, nenek, Om!"


Endri, Mery, dan Evan langsung menoleh ke arah belakang saat mendengar panggilan seseorang, mereka lalu tersenyum saat melihat keberadaan Mayra.


"Kau di sini juga, Nak?" ucap Mery dengan ramah.


Mayra menganggukkan kepalanya. "Iya Nek, aku baru saja sampai." Dia lalu menyalim tangan kakek dan nenek Ezra, tidak lupa Evan juga yang sudah bersikap biasa saja. "Kenapa Kakek, Nenek, dan Om berdiri saja? Ayo, kita duduk di sana!" Dia menunjuk ke arah kursi yang berada di sudut kanan dan dekat dengan pelaminan.


Mery tersenyum. Dia lalu mengangguk dan mengajak mereka semua untuk duduk di tempat yang Mayra tunjuk, begitu juga dengan Evan yang merasa senang dengan keramahan Mayra.


Evan menggelengkan kepalanya, rasa sakit yang sedang dirasakan terasa membaik karena keramahan Mayra.


"Gadis yang sangat baik dan ramah," ucap Evan.


Mery dan Endri setuju dengan apa yang Evan katakan. "Yah, Mayra memang gadis yang baik. Ibu merasa lega karena Ezra berteman dengan gadis sepertinya." Mery berucap dengan lirih.


Sementara itu, Ezra yang baru selesai meluapkan segala kebahagiaan atas pernikahan sang ibu, segera beranjak pergi dari tempat itu saat melihat keberadaan Mayra.


Ezra tersenyum senang karena Mayra datang ke pesta pernikahan sang ibu, padahal semalam gadis itu masih berada di luar kota karena ada urusan keluarga.


"Mayra!" panggil Ezra sambil berjalan menghampiri gadis itu.

__ADS_1


Mayra yang masih sibuk menyiapkan minuman dan makanan ringan langsung menoleh kesumber suara, dia langsung tersenyum lebar melihat kedatangan Ezra.


"Kau baru sampai?" tanya Ezra saat sudah berdiri di hadapan Mayra.


Mayra menganggukkan kepalanya. "Maaf, aku terlambat datang karena dijalan macet." Dia merasa tidak enak hati, padahal waktu itu Ezra datang lebih dulu saat pernikahan sang kakak.


Ezra langsung mengacak-acak rambut Mayra saat mendengar ucapan gadis itu, membuat Mayra langsung menepis tangannya.


"Apaan sih?" pekik Mayra dengan kesal. "Jangan rusak rambutku! Aku menghabiskan banyak waktu untuk merapikannya." Dia melotot tajam ke arah Ezra yang sedang tergelak melihat kekesalannya.


Ezra berdecih sambil mencebikkan bibirnya. "Cih. Alesannya macet, padahal lama datang karena sibuk dandan." Cibirnya dengan jahil.


Mayra langsung mencubit lengan Ezra dengan kuat mendengar sindiran laki-laki itu, membuat Ezra langsung menggeram kesakitan.


"Sakit tahu!" seru Ezra sambil mengusap lengannya yang terasa panas.


"Makanya jangan sibuk!" omel Mayra sambil tertawa senang. Dia lalu memberikan dua piring berisi kue kepada Ezra. "Mending kau bawa ini. Ayo, ikut aku!" Dia lalu berbalik sambil membawa nampan berisi minuman dan tidak membiarkan pelayan membawanya.


Ezra kembali berdecih melihat apa yang Mayra lakukan, tetapi dia tetap membawa makanan itu sambil mengikuti kepergian wanita itu.


"Sebenarnya ini makanan untuk siapa sih? Tumben kau-" Ezra tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat siapa yang saat ini ada di hadapannya, sementara Mayra sedang sibuk menyajikan minuman ke meja Evan dan yang lainnya.


Evan dan kedua orangtuanya tersenyum senang melihat kedatangan Ezra, dengan cepat dia beranjak dari kursi sambil menatap putranya itu dengan senyum hangat.


"Bagaimana kabarmu, Ezra?"




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2