Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 3. Kembali Sadar.


__ADS_3

Sementara itu, di tempat lain terlihat Evan sedang berada di coffe shop untuk menikmati secangkir kopi agar pikirannya bisa kembali tenang. Entah kenapa dia merasa kesal dan emosi dengan Sherly, apalagi saat mengingat perbuatan yang telah wanita itu lakukan. Lalu, dengan mudahnya Sherly membahas tentang aset yang rupanya malah diambil kembali oleh Abbas.


"Sh*it." Evan mengusap wajahnya dengan kasar. Perasaan kesal dan marah tercampur jadi satu dalam hatinya, kenapa juga dia harus mengalami semua ini?


Evan kembali mengusap wajahnya dengan kasar, lalu membayar kopi yang baru seteguk dia minum. Dia lalu keluar dari coffe shop itu dan berjalan menyusuri jalanan.


Saat ini, dia masih membutuhkan uang sebesar 200 juta lagi agar bisa melunasi utang yang dia pinjam dari Robin. Belum lagi dia harus memisahkan hartanya dengan Ayun, karena sebagian besarnya sudah menjadi milik wanita itu.


"Apa aku harus meminjamnya dari Ayun? Tapi, harga diriku pasti akan terluka kalau melakukannya," gumam Evan yang merasa bingung sendiri.


Tidak mau semakin bingung, Evan memutuskan untuk pulang ke rumah yang berjarak tidak jauh dari tempat itu. Dia ingin memikirkan semuanya secara matang, agar bisa mengambil keputusan yang benar. Belum lagi dia harus mempersiapkan modal untuk melanjutkan proyek yang tertunda.


Pada saat yang sama, di ruang ICU terlihat Dokter dan para perawat kembali memeriksa keadaan Ayun dan Nindi yang sudah beberapa jam selesai di operasi, sementara keluarga mereka sedang berada tepat di depan ruangan itu untuk menunggu kesadaran mereka.


Dokter tersenyum simpul saat sudah selesai memeriksa keadaan kedua pasiennya. Dia berharap semoga mereka akan segera membaik, dan tidak terjadi efek samping yang membahayakan.


Sebenarnya, keadaan Nindi sekarang saja sudah seperti sebuah keajaiban bagi Dokter. Di mana wanita itu sudah sakit parah tetapi masih bisa beraktivitas seperti biasanya, walau tidak sebanyak dan tidak seaktif yang lainnya.


Namun, Nindi mampu bertahan tanpa pengobatan selama beberapa bulan. Bukan karena wanita itu tidak mampu atau tidak bisa membayar biaya pengobatan, tetapi karena sudah lelah dan tidak kuat menjalani semua proses pengobatan yang sama sakitnya dengan penyakit yang di derita.


Akan tetapi, ternyata Tuhan memberikan jalan keluar dan bantuan yang tidak disangka-sangka. Hingga akhirnya Nindi mendapatkan donor sumsum tulang belakang untuk penyakit yang sudah dideritanya selama beberapa tahun.


Abbas yang sejak tadi memperhatikan dari luar ruangan tampak berkaca-kaca, dia merasa senang sekaligus sedih. Dia senang karena putrinya Nindi mempunyai harapan lagi untuk sembuh, tetapi di sisi lain dia juga merasa sedih karena baru bertemu dengan putri sulungnya dan malah berada dalam posisi seperti ini.


"Ayun, putriku. Papa berjanji akan membalas semua yang sudah kau lakukan ini, dan papa juga berjanji akan mengganti semua penderitaanmu dengan kebahagiaan." Abbas mengusap dinding kaca itu dengan penuh rasa sayang seolah sedang mengusap puncak kepala Ayun.

__ADS_1


****


Keesokan paginya, tepat pukul 5 pagi terlihat Ayun menggerakkan jemari tangannya. Perlahan namun pasti, kedua matanya mulai mengerjap dan kembali menyipit saat sudah terbuka karena terkena sinar lampu yang berada tepat di atas kepalanya.


"Ssh." Ayun mendesis saat merasakan sakit disekitar perut sampai punggungnya. Dia lalu melirik ke arah samping kanan dan tersenyum tipis ketika melihat Nindi terbaring di atas ranjang.


"Apa Nindi baik-baik saja?" Ingin sekali Ayun bangun dan menanyakan bagaimana keadaan Nindi pada Dokter, tetapi tubuhnya terasa sangat lemas dan juga sakit. Jangankan untuk menggerakkan tubuh, bahkan untuk hanya sekedar memiringkan kepala saja rasanya sangat susah sekali.


"Nona Ayun."


Ayun lalu mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara, terlihat Dokter dan beberapa perawat sudah berada di samping ranjang.


"Do-dokter," ucap Ayun dengan pelan sambil mengulas senyum tipis.


Dokter itu tersenyum lalu mencondongkan tubuhnya ke ranjang Ayun. "Bagaimana perasaan Anda saat ini, Nona? Apa ada sesuatu yang sesak atau terasa sakit?" Dia bertanya dengan lembut, lalu memperhatikan infus yang masih terpasang di tangan wanita itu.


Dokter lalu memeriksa kondisi Ayun secara menyeluruh, dan mengatakan jika keadaan wanita itu sudah sangat baik dan stabil saat ini.


"Lalu, bagaimana dengan Nindi, Dokter?" tanya Ayun dengan lemah, dia berusaha untuk bangun, tetapi ditahan oleh Dokter tersebut.


"Jangan banyak bergerak dulu, Nona. Tubuh Anda masih lemas dan masih harus banyak istirahat," ucap Dokter tersebut. Dia ditugaskan khusus oleh Abbas untuk berada di rumah sakit selama 24 jam, agar bisa menjaga dan mengawasi kondisi Ayun dan Nindi secara langsung.


Ayun mengangguk lemah sambil kembali berbaring dengan nyaman, sementara Dokter segera menyuruh perawat untuk memeriksa keadaan Nindi yang kemungkinan juga akan sadar seperti Ayun.


Setelah melihat keadaan Nindi baik-baik saja, Dokter segera keluar dari ruangan untuk memberitahu Abbas dan Keanu, yang saat ini menunggu di ruangan yang berada tidak jauh dari tempat itu.

__ADS_1


"Ma!"


Dokter yang akan masuk ke dalam ruangan yang ditempati Abbas dan Keanu tidak jadi mengetuk pintu, saat mendengar suara panggilan seseorang.


"Fathir?" Dokter paruh baya bernama Alma itu mengernyitkan kening saat melihat putra sulungnya berada di rumah sakit. "Apa yang kau lakukan di sini?" Dia bertanya dengan bingung.


Lelaki bernama Fathir itu mendekati sang ibu. "Aku baru pulang nganter papa ke bandara." Dia menjawab dengan pelan sambil duduk di kursi yang ada di depan ruangan itu.


Alma mengangguk paham, dia baru ingat jika pagi ini suaminya akan berangkat ke luar negeri tepat pukul 6 pagi. Namun, kenapa putranya malah datang ke rumah sakit dan bukannya pulang ke rumah?


"Jadi, kenapa kau tidak-"


"Dokter Alma?"


Alma tidak dapat melanjutkan ucapannya karena mendengar panggilan seseorang, dia lalu melihat ke arah samping kanan dan menganggukkan kepala ketika melihat Abbas.


"Maaf mengganggu tidur Anda, Tuan. Saya hanya ingin memberi tahu jika nona Ayun sudah sadar," ucap Alma dengan pelan.


"Benarkah?" Abbas memekik tidak percaya. Tanpa menunggu jawaban dari Alma, dia langsung berjalan ke arah ruangan yang ditempati Ayun untuk melihat apakah putrinya benar-benar sudah sadar atau tidak, sementara Alma mengikuti langkah Abbas. Begitu juga dengan Fathir, yang entah kenapa malah mengganggu pekerjaan sang ibu.


"Loh, itukan wanita yang menangis waktu itu."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2