Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 113. Sebelum Terlambat.


__ADS_3

Abbas menganggukkan kepala sambil mengusap air mata yang entah kapan jatuh membasahi wajahnya, dia setuju dengan apa yang Keanu katakan tentang takdir yang membawa perjumpaan mereka dengan Ayun.


Tanpa mereka berdua sadari, sejak tadi Nindi sudah berlinang air mata karena mendengar ucapan sang papa. Awalnya dia memang tertidur akibat efek obat yang diberi oleh Dokter, tetapi dia terbangun saat mendengar suara sang papa yang menceritakan tentang masa lalu dan hubungan beliau dengan Ayun.


Sungguh Nindi merasa terkejut dengan apa yang papanya katakan, tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika sang papa punya anak lain selain dirinya.


Nindi mengusap air mata yang sudah membasahi wajah dan berusaha untuk duduk, membuat Keanu yang berada tepat menghadapnya terkesiap.


"Sa-Sayang?" Keanu membulatkan matanya saat melihat istrinya bangun, membuat Abbas langsung menoleh ke arah kiri di mana Nindi berada.


Mendadak tubuh Abbas menjadi kaku dan tegang saat melihat putrinya sudah duduk di atas ranjang, bahkan saat ini sedang menatapnya dengan sendu.


"Sayang," gumam Abbas dengan mata berkaca-kaca. Dadanya berdegup kencang dengan napas terasa sesak seakan tercekat ditenggorokan.


Dengan cepat Keanu beranjak dari sofa untuk menghampiri sang istri. "Ka-kau udah bangun, Sayang? Apa ingin sesuatu, hem?" Dia bertanya dengan gugup sambil menggenggam kedua tangan Nindi.


Nindi yang tadinya menatap sang papa kini beralih menatap suaminya dengan sendu dan sayu. "Kenapa, Mas? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" Dia bertanya dengan bibir pucatnya yang gemetaran.


Keanu menatap sang istri dengan nanar. Pertanyaan yang terlontar dari mulut istrinya menandakan bahwa Nindi sudah mendengar obrolannya dengan sang mertua tadi.


"Sayang."


Keanu yang akan menjawab pertanyaan Nindi terpaksa mengurungkan niatnya saat mendengar suara sang mertua, dia dan Nindi lalu beralih melihat ke arah Abbas yang sedang berjalan ke arah mereka.

__ADS_1


"Nindi, Sayang. Maafkan papa," ucap Abbas dengan lirih, dia berdiri di samping ranjang dengan tatapan penuh rasa bersalah.


Nindi menatap sang papa dengan sendu. "Kenapa Papa tidak mengatakannya padaku? Bagaimana jika aku lebih dulu mati sebelum mengetahui bahwa aku punya saudara?" Lirihnya dengan berurai air mata.


Abbas dan Keanu langsung menggelengkan kepala mereka saat mendengar ucapan Nindi. "Jangan berkata seperti itu, Sayang. Kau pasti akan baik-baik saja." Abbas langsung memeluk tubuh putrinya dengan erat, membuat Nindi terisak.


"Kenapa, Pa? Kenapa Papa tidak mengatakannya padaku?" tanya Nindi kembali dengan terisak.


"Maaf, maafkan papa." Hanya kata maaf sajalah yang bisa Abbas berikan untuk Nindi. Dia tidak tahu bagaimana perasaan putrinya saat mendengar kebenaran tentang hubungannya dan Ayun, dia takut Nindi merasa kecewa dan tidak bisa menerima semua kenyataan itu.


Keanu yang melihat sang istri menangis langsung memencet tombol intercom yang ada di dalam ruangan itu, agar Dokter dan perawat bisa segera datang. Dia khawatir keadaan Nindi akan kembali turun karena masalah ini.


Nindi terus terisak dalam dekapan sang papa. Dia merasa kaget sekaligus bersyukur saat mengetahui bahwa dia punya saudara, walaupun berbeda ibu.


Abbas segera melerai pelukannya, lalu mengusap wajah Nindi dengan lembut. "Jangan menangis, Nak. Jangan menangis karena kesalahan yang telah papa lakukan." Dia berucap dengan pelan.


Nindi terdiam sambil mencoba untuk menenangkan diri dan menahan rasa sakit yang terasa sangat menusuk, dia tidak mau jika sang papa dan juga suaminya kembali khawatir.


"Tidak, Pa. Aku menangis bukan karna Papa membuat kesalahan, tapi karena aku tahu kalau aku punya saudari. Aku, aku merasa senang," ucap Nindi dengan pelan. Terlepas apa yang terjadi di masa lalu, dia tetap merasa bahagia karena sang papa tidak akan hidup sendiri setelah dia tiada.


Bersamaan dengan itu, Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa keadaan Nindi, dan bertanya apa yang sedang terjadi.


"Saya baik-baik saja, Dokter. Saya hanya merasa senang karena tahu kalau punya kakak, dan kakak saya itu adalah wanita yang sangat saya sayangi," ucap Nindi saat mendengar pertanyaan Dokter.

__ADS_1


Dokter paruh baya itu langsung melihat ke arah Abbas saat mendengar ucapan pasiennya, karena setahunya Nindi tidak punya saudara selain adik tiri.


Nindi tersenyum sambil mencengkram selimutnya dengan erat, sekuat apapun dia mencoba untuk baik-baik saja, rasa sakit itu malah semakin menyiksa.


"Apa Papa sudah mengatakannya pada Ayun? Ah, maksudku mbak Ayun? Aku ingin sekali bertemu dan memeluknya dengan erat," ucap Nindi dengan semangat.


Bukan tanpa alasan Nindi berkata seperti itu, dia hanya ingin memeluk dan mengakui Ayun sebagai kakaknya selagi nyawa masih dikandung badan. Dia merasa sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang terasa meremukkan tulang-tulangnya, dan menusuk semua organ yang ada dalam tubuhnya.


"Papa, aku ingin memanggil Ayun dengan sebutan mbak atau kakak. Bagaimana menurut Papa?"


Brak.


Sebuah suara dari benda yang terjatuh menggema di tempat itu membuat semua orang langsung melihat ke arah pintu, di mana seorang wanita sedang berdiri dan menjatuhkan kotak makanannya akibat terkejut dengan apa yang Nindi katakan.


"A-Ayun?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2