Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 146. Satu Pukulan.


__ADS_3

Setelah mengetahui di mana lokasi para gadis-gadis itu berada, Keanu langsung memerintahkan agar semua anak buahnya berkumpul karena mereka akan menyergap bar itu saat ini juga.


Tidak peduli ada berapa banyak anak buah Rian yang menjaga tempat itu, yang jelas mereka harus menghancurkannya saat ini juga.


"Papa sudah menghubungi semua teman-teman papa, dan mereka sudah dalam perjalanan menuju ke sini," ucap Abbas.


Keanu mengangguk paham. Dia lalu menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengamankan cctv yang ada dibar itu, mereka tidak boleh kehilangan satu bukti pun tentang kejahatan Rian.


"Para bajingan itu akan mampus ditanganku," gumam Abbas dengan kemarahan yang luar biasa. Sangking marahnya, mungkin dia bisa sampai menghancurkan pegunungan.


"Lalu bagaimana dengan Rian?" tanya Fathir. "Dia sedang tidak ada di bar itu, dan jika melakukan penyergapan sekarang, maka dia tidak akan tertangkap."


Ah, Keanu dan Abbas melupakan tentang bajing*an yang satu itu. Lalu, apa yang harus mereka lakukan sekarang?


"Untuk apa memikirkan tentang semua itu? Ada atau tidak dia di tempat itu, sudah jelas kita akan menemukan bukti tentang kepemilikan bajing*an itu," ucap Abbas.


Fathir dan Keanu terdiam sambil memikirkan langkah apa yang harus mereka lakukan saat ini. Mereka yakin jika semua ini tidak sesederhana itu mengingat sepak terjang Rian selama ini.


"Tidak, kita harus menahan penyergapannya sampai besok," ucap Fathir tiba-tiba membuat Abbas dan Keanu menatap dengan heran.


"Apa maksudmu, Fathir? Kenapa kau menunda penyergapan itu?" tanya Abbas dengan emosi.


Fathir lalu menjelaskan tentang rencana yang sudah dia siapkan untuk memukul Rian dengan sekali pukulan saja, dan pukulan itu akan langsung menghancurkan laki-laki itu.


"Besok Rian akan dilantik menggantikan papa, dan besok saya juga akan hadir ke perusahaan. Saya sudah memberitahu papa agar menghubungi para dewan direksi yang dia percaya, dan mereka akan memberikan dukungan penuh pada saya. Saat itulah saya akan memberikan pukulan padanya di perusahaan, juga tentang semua perbuatannya pada Fathan," ucap Fathir dengan jelas.


"Setelah itu, pancing dia agar pergi ke tempat ini. Lalu kita akan menyergapnya bersama-sama," sambungnya kemudian.


Keanu dan Abbas terdiam mendengar rencana Fathir. Mereka sedang memikirkannya dengan serius, karena tidak boleh salah langkah atau mereka sendiri yang akan celaka.


"Baiklah, aku setuju," sahut Keanu. "Aku akan memberitahu Alden tentang rencana ini supaya dia bisa melakukan serangan dari dalam bar itu. Dan jika bisa, dia harus mengamankan gadis-gadis itu supaya tidak terluka."


Fathir dan Abbas menyetujui ucapan Keanu. Lalu mereka segera menghubungi Alden untuk mengatakan semua rencana itu dan memberitahu tugas yang harus laki-laki itu kerjakan.

__ADS_1


Alden yang masih berada di ruangan itu mengangguk paham. Dia lalu kembali menatap ke arah gadis-gadis yang ada di hadapannya, padahal dia sama sekali tidak ingin melihatnya.


"Si*al. Gara-gara cctv itu aku jadi harus terus menatap mereka." Alden merasa sangat kesal. Biar bagaimana pun, dia adalah seorang laki-laki yang memiliki napsu. Bagaimana mungkin dia bisa menahan diri jika melihat gadis-gadis itu tidak memakai pakaian apapun?


Ya, semua gadis yang ada dalam ruangan itu memang tidak menggunakan apapun, bahkan tidak ada sehelai benang pun ditubuh mereka. Sungguh pemandangan yang sangat menyayat hati.


Alden lalu memilih salah satu di antara gadis itu untuk ikut bersamanya, sontak membuat gadis itu memucat dengan tubuh gemetaran.


"Aku mohon jangan sakiti aku, Tuan. Aku mohon jangan-"


"Diam!" bentak Leo sambil menarik gadis pilihan Alden membuat gadis lainnya menundukkan kepala mereka sambil menutup kedua telinga.


Emosi Alden benar-benar terkuras habis malam ini. Namun, dia tetap harus bersikap biasa demi rencana sang tuan.


"Tutup tubuhnya, aku tidak ingin dia menjadi bahan tontonan orang," ucap Alden dengan tajam.


Leo mengangguk paham dan langsung menyuruh salah satu pengurus di tempat itu untuk memakaikan pakaian pada gadis itu, lalu mereka pergi ke salah satu kamar yang tersedia di bar tersebut.


"Jangan takut, aku tidak akan melakukan apapun padamu," ucap Alden saat mereka berdua sudah berada di dalam kamar. Dia sudah memeriksa seluruh isi kamar itu dan tidak ada alat perekam atau kamera tersembunyi.


"Siapa namamu, dan berapa umurmu?" tanya Alden.


Dengan takut-takut, Lani menjawab pertanyan Alden sambil meringkuk di atas ranjang. "Na-namaku Lani, umurku 19 tahun."


Alden tersenyum miris, usia gadis itu bahkan sama dengan usia adiknya. Lalu, bagaimana mungkin dia bisa menidur*i Lani begitu saja?


"Apa kau ingin bebas dari tempat ini?" tanya Alden. "Aku bisa membebaskanmu, tapi kau harus membantuku."


Lani menatap dengan heran dan bingung, lalu bertanya apa yang harus dia lakukan agar bisa terbebas dari tempat ini.


Alden lalu menyuruh Lani untuk mengambil berkas yang ada di dalam ruangan Leo setelah ini, karena gadis yang sudah dibeli tidak akan kembali di kurung di ruang bawah tanah. Dia juga menjelaskan apa-apa saja yang harus gadis itu kerjakan.


"Aku bukan hanya akan melepaskanmu, tapi juga akan melepaskan semua gadis yang ada di tempat ini. Jadi kau harus melakukan pekerjaanmu dengan baik."

__ADS_1


Lani mengangguk paham. Walau dia tidak sepenuhnya percaya dengan Alden, tetapi ini jauh lebih baik dari pada terus terkurung di tempat terkutuk itu.


Beberapa jam kemudian, Alden keluar dari kamar itu seolah telah melakukan pertempuran di atas ranjang. Namun, dia memang sempat melakukan pertempuran walau hanya memberikan tanda kemerahan di sekujur tubuh Lani saja. Supaya sebagai tanda bahwa mereka telah menghabiskan malam panas.


Alden lalu kembali menemui Leo dan mengatakan bahwa dia merasa puas. Besok dia juga akan kembali datang, dia ingin membeli yang lain dan akan membayar dalam jumlah besar.


"Baiklah, saya senang jika Anda merasa senang. Saya juga sudah mengatakannya pada tuan besar, dan besok beliau akan datang ke sini karena ingin bertemu dengan Anda."


Alden menyeringai, semua rencana mereka berjalan dengan lancar. Kini saatnya dia kembali bergabung dengan Keanu dan yang lainnya.


Setelah semua penyelidikan selesai, Fathir dan Keanu memutuskan untuk pulang karena besok masih ada pertempuran yang harus di selesaikan, sementara Abbas tetap berada di tempat itu karena teman-temannya sudah datang.


*


*


Keesokan harinya, Fathir dan Farhan sudah terlihat rapi karena akan berangkat ke perusahaan. Namun, Farhan berangkat lebih dulu, sementara Fathir menunggu agar datang di saat yang tepat.


Setelah sampai di perusahaan, Farhan langsung menuju ruang rapat karena semua orang sudah berkumpul di tempat itu. Begitu juga dengan Rian.


Wajah Rian tampak sengat cerah dengan senyum lebar yang terus melekat di bibirnya, dia merasa sangat senang karena sebentar lagi impiannya menjadi kenyataan.


"Baiklah, terima kasih saya ucapkan pada semua pimpinan dan para pemegang saham yang sudah berkumpul di ruangan ini. Saya harap acara hari pelantikan tuan Rian ini dapat berjalan lancar dan baik," ucap pembawa acara yang merupakan salah satu pemegang saham, dan dia adalah salah satu orang yang akan mendukun Fathir karena sudah tahu rencana kedatangan laki-laki itu.


"Langsung saja, saya persilahkan agar tuan Rian maju ke depan untuk di-"


"Maaf saya terlambat." Tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka oleh seseorang yang langsung masuk ke dalam ruangan, membuat beberapa orang merasa kaget dengan mata terbelalak lebar, terutama Rian.


"A-Anda?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2