
Ayun tercengang dengan tatapan tidak percaya saat mendengar ucapan Fathir, sungguh dia merasa kaget karena laki-laki itu mengatakan hal sedemikian rupa.
"Apa kau ingin melihatnya?" tanya Fathir kembali saat belum mendapat jawaban dari Ayun.
Ayun menghela napas berat. Dia bukannya tidak mau menjenguk Suci, bahkan dia sangat ingin sekali melihat gadis kecil itu karena merasa benar-benar kasihan.
Namun, Ayun juga tidak ingin membuat suasana di tempat itu menjadi tidak nyaman. Apalagi hubungannya dengan Evan dan Sherly tidak baik, walaupun dia sudah sama sekali tidak mempermasalahkan semua itu dan mengikhlaskannya.
"Sepertinya untuk saat ini lebih baik aku tidak menjenguknya, Fathir. Aku tidak ingin membuat suasana menjadi tidak nyaman untuk semua orang," sahut Ayun dengan pelan.
Fathir mengangguk paham. Betul juga apa yang Ayun katakan, apalagi pertemuan terakhir mereka saat itu berakhir dengan tidak baik. Jelas jika bertemu lagi akan kembali memunculkan konflik, walaupun dia merasa jika saat ini Evan dan Sherly tidak akan kembali mengusik Ayun.
Setelah menikmati makan siang, Fathir kembali mengantar Ayun ke kantor wanita itu. Sejak Ayun dinyatakan sembuh oleh Dokter, dia langsung kembali ke kantor untuk mengerjakan pekerjaannya.
"Apa kau mau masuk dulu?" tawar Ayun saat sudah sampai di parkiran kantornya.
Fathir menggelengkan kepalanya. "Maaf, aku harus segera kembali ke perusahaan. Tapi, bolehkah nanti malam aku mengundangmu untuk makan malam di rumahku?"
Ayun terkesiap mendengar ucapan Fathir. "Ma-makan malam di rumahmu?"
Fathir mengangguk. Dia lalu mengatakan jika orang tuanyalah yang ingin makan malam bersama dengan Ayun, juga dengan Adel dan Ezra.
"Tentu saja, Fathir. Nanti malam aku dan anak-anak akan datang ke rumahmu, kau tidak perlu menjemput kami," ucap Ayun sambil tersenyum. Ini adalah kali pertama kedua orang tua Fathir mengundang makan malam, tentu saja mereka harus datang.
"Tidak apa-apa, aku sendiri yang ingin menjemput kalian," balas Fathir kemudian.
Tidak bisa lagi menolak keinginan Fathir, Ayun memilih untuk menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, aku dan anak-anak akan menunggu di rumah. Terima kasih karena sudah mengantarku, Fathir." Dia beranjak keluar dari mobil sambil menentang tas mahalnya.
"Sama-sama, Ayun." Fathir bergegas pamit dan melaju pergi dari tempat itu.
Sepanjang perjalanan menuju perusahaan, Fathir terus menebarkan senyum ke seluruh penjuru mobil walau tidak ada yang melihat. Perasaannya sedang sangat berseri-seri saat ini, walau Ayun tidak mengatakan apa-apa perihal pengakuan rasa sukanya waktu itu.
__ADS_1
Walau sempat renggang, hubungan mereka kembali dekat karena banyaknya urusan yang harus dikerjakan bersama. Apalagi anak-anak mereka selalu bersama, mau tidak mau mereka juga akan bergabung.
"Tapi, kenapa aku merasa ada yang tidak beres?" gumam Fathir. Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal dengan putranya juga kedua anak Ayun, karena sepertinya akhir-akhir ini mereka selalu melakukan sesuatu yang berakhir dengan kebersamaannya dan Ayun.
Fathir lalu tersenyum simpul. Baiklah, dia ingin melihat apakah dugaannya benar atau tidak jika anak-anak nakal itu sengaja ingin mendekatkannya dengan Ayun, karena tingkah mereka sungguh sangat mencurigakan sekali.
Sementara itu, Ayun yang sudah berada di dalam ruangannya bergegas menghubungi Ezra untuk memberitahukan undangan makan malam dari Fathir. Dia ingin Ezra dan Adel berada di rumah saat dia pulang nanti, agar tidak terlambat.
"Tapi, aku harus membawa buah tangan apa ya?" gumam Ayun dengan bingung. Tidak mungkin dia datang ke rumah Fathir dengan tangan kosong saja, apalagi ini pertama kalinya dia berkunjung ke rumah laki-laki itu.
Pada saat yang sama, di rumah sakit terlihat Keanu dan Nindi sedang berjalan menuju ruang ICU. Tidak ada senyuman yang biasanya selalu menghiasi wajah wanita itu, bahkan saat ini wajahnya tampak menggantung mendung.
"Tenanglah, Sayang. Kau tidak boleh seperti ini," ucap Keanu dengan tajam sambil menggenggam sebelah tangan Nindi.
Nindi hanya mengangguk saja dan tetap melihat lurus ke depan. Hatinya terasa sakit saat mendengar berita tentang Suci dari Fathir dua hari yang lalu, dan dia juga merasa kesal karena sang suami baru mengizinkannya pergi ke rumah sakit hari ini.
Tidak berselang lama, sampailah mereka di depan ruangan yang ditempati oleh Suci. Terlihat Evan sedang duduk di kursi yang ada di tempat itu, lalu mereka pun menghampirinya.
Evan yang sejak tadi menunduk terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang. Sontak dia mendongakkan kepalanya ke arah kanan untuk melihat orang tersebut.
"Ka-kalian?" ucap Evan dengan tergagap sambil beranjak bangun dari kursi.
Nindi dan Keanu tampak terkejut saat melihat raut wajah Evan yang tampak pucat dengan kantung mata hitam, pipi laki-laki itu juga tampak tirus dengan rambut sedikit gondrong dan tidak terurus.
"Ka-kau baik saja-saja?" tanya Keanu dengan tajam. Sungguh dia merasa jika saat ini Evan benar-benar sangat kacau.
Evan menganggukkan kepalanya. "Saya baik-baik saja, tapi kenapa Anda berdua ada di sini?" Dia bertanya dengan lirih.
Keanu terdiam dan enggan untuk kembali bersuara, sementara Nindi langsung menoleh ke arah ruangan Suci.
"Aku ingin menemui Suci, aku ingin melihatnya," jawab Nindi dengan sendu, belum melihat secara langsung saja dadanya benar-benar terasa sakit.
__ADS_1
Evan menunjuk ke arah ruangan putrinya. "Dia ada di sana. Kalau Anda ingin masuk, harus menggunakan pakaian medis."
Nindi mengangguk paham, dia lalu mengajak sang suami untuk memakai pakaian medis agar bisa segera melihat keadaan Suci.
"Tapi di mana istrimu, Evan?" tanya Nindi sebelum pergi dari tempat itu.
Evan terdiam dengan helaan napas frustasi. "Saat ini dia sedang berada di ruangan lain, karena kondisinya sedang tidak baik." Dia menjawab dengan getir.
Nindi terdiam. Sebenarnya dia sudah tahu bagaimana keadaan Sherly saat ini dari Fathir, tetapi dia ingin melihatnya secara langsung.
Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Nindi dan Keanu segera menemui perawat untuk memakai pakaian medis, sementara Evan terus menatap mereka getir.
Sungguh Evan tidak menyangka mereka akan datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Suci, dan tampak jelas juga kesedihan diwajah mereka.
Evan lalu mengusap wajahnya dan kembali duduk dikursi. Saat ini hidupnya benar-benar sudah berhasil, yaitu berhasil menghancurkan hidup anak-anak dan semua keluarganya.
Sejak Suci dinyatakan koma, hidup Evan dan Sherly benar-benar hancur tak bersisa. Rasa bersalah menghantam jiwa raga mereka, bahkan sampai membuat Sherly mengalami depresi yang terus memanggil Suci sambil mengucapkan maaf.
Untuk itulah Sherly harus mendapatkan perawatan demi kesembuhan mental dan jiwanya, jika tidak maka dia akan masuk ke tahap yang sangat mengkhawatirkan yaitu mengalami kegilaan.
Disisi lain, Nindi yang sudah masuk ke dalam ruangan Suci spontan terisak pilu saat melihat keadaan gadis kecil itu. Tubuhnya gemetaran saat melihat banyaknya jarum yang menusuk tubuh Suci, hingga Keanu terpaksa memeluknya dengan erat.
"Ya Allah, Suci, Mas."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1