Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 2. Perseteruan Mertua VS Menantu.


__ADS_3

Senyum mengembang terbit dibibir Hasna sambil menatap ke arah Abbas, membuat Yuni yang sedang berada tepat di sampingnya tampak tersenyum simpul.


"Udah itu Bu, tuan Abbas gak akan hilang kok, kalau gak diliatin," ucap Yuni memberikan sindiran membuat ibunya terkesiap.


Hasna tampak salah tinggah saat mendengar ucapan sang putri. "Si-siapa yang ngeliatin, orang ibu cuma liatin Adel sama Ezra kok." Dia memberikan bantahan, yang sebenarnya malah semakin mendukung apa yang Yuni ucapkan tadi.


Yuni mencebikkan bibirnya dengan senyum mengejek saat mendengar ucapan sang ibu, begitu juga dengan Angga yang merasa jika ada sesuatu yang terjadi dengan mertuanya dan Abbas.


"Ka-kalau gitu ayo, kita ke ruang ICU!" ajak Hasna kemudian. Dia segera memutar kursi rodanya dan berlalu pergi ke ruang ICU dengan wajah merah padam karena menahan malu.


Yuni menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang ibu, dia dan sang suami lalu ikut beranjak ke ruangan di mana kakaknya berada.


Setelah menjalani operasi, Ayun dan Nindi di tempatkan di ruang ICU yang sama karena masih harus mendapat penjagaan ketat dari Dokter. Segala jenis pemeriksaan pasca operasi masih harus dilakukan, agar efek samping yang mungkin terjadi dapat segera diamankan.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Evan dan Sherly sedang berada di dalam kamar dan duduk di atas ranjang. Mereka merasa senang karena berhasil membujuk sang ibu agar mengizinkan Sherly tinggal di rumah itu.


Sherly sendiri tentu saja sangat senang. Akhirnya keinginannya untuk tinggal di rumah itu terkabul, karena memang seharusnya sudah lama dia berada di tempat itu.


"Jadi, kapan kau akan menikahiku secara sah, Sayang?" tanya Sherly. Kebahagiaannya akan terasa lengkap jika dia menjadi istri sah Evan, baik di mata hukum maupun agama, terutama di mata semua orang.


Mendengar ucapan Sherly, Evan langsung memalingkan wajahnya dengan tatapan tajam. "Menikah sah?" Dia kembali mengulang ucapan wanita itu dengan penuh penekanan.


Sherly langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Tentu saja, apa kau lupa kalau kita masih menikah siri?" Dia mencebikkan biburnya karena merasa sebal.


Evan tergelak mendengar ucapan wanita itu. "Iya ya, kenapa aku bisa tidak ingat? Padahal kita hanya menikah siri, dan aku hanya perlu menjatuhkan talak saja padamu. Lalu setelah itu, kita akan berpisah."


Deg.

__ADS_1


Sherly terkesiap saat mendengar ucapan Evan, kedua pupil matanya melebar dan menatap laki-laki itu dengan tajam.


"A-apa maksudmu?" tanyanya dengan tajam.


Evan tersenyum sinis sambil beranjak mendekati Adel yang sedang terlelap dengan nyenyak. "Apa aku harus mengingatkanmu tentang apa yang sudah kau lakukan, Sherly?"


Glek.


Sherly menelan salivenya dengan kasar, dia merutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya melupakan masalah yang membawanya ke dalam penjara. Namun, bukankah dia sudah mendapatkan hukuman atas semua itu?


"Kau kan sudah menjual semua asetku, aku bahkan sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang," ucap Sherly dengan ketus, terdengar jelas kemarahan dan ketidak sukaannya. Memangnya siapa yang suka jika semua aset miliknya dijual? Dia bahkan sudah bangkrut sekarang.


"Aset kau bilang?" tanya Evan sambil tersenyum sinis. "Aset mana yang kau bilang, hah?" Dia menatap Sherly dengan tajam seolah ingin menelan wanita itu bulat-bulat.


Sherly juga menatap Evan dengan tidak kalah tajam. "Bisa-bisanya kau bertanya aset yang mana, jelas-jelas kau sendiri yang-"


"Semua asetmu di ambil oleh papa Abbas."


Deg.


Evan lalu menceritakan apa yang sudah dia lihat dan dengar dari Sella waktu itu, di mana Abbas mengambil semua aset yang Sherly miliki. Baik yang diberikan secara langsung, atau pun aset yang diambil sendiri oleh wanita itu.


Sherly tercengang dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang Evan katakan. Tidak, tidak mungkin Abbas melakukan itu. Lagi pula kenapa, kenapa laki-laki paruh baya itu mengambil asetnya yang tidak seberapa?


"Karena itu aku jadi tidak bisa melunasi pinjamanku pada Robin, aku bahkan tidak tahu bagaimana membayar pinjaman di bank bulan depan, dan semua itu karena ulahmu!" ucap Evan dengan sarkas sambil berlalu keluar dari kamar.


Sherly terdiam mendengar semua ucapan Evan. Tidak, semua ini tidak boleh terjadi. Lalu bagaimana dengan kedai dan beberapa kaplingan tanah miliknya?

__ADS_1


Dengan cepat Sherly mencari ponselnya untuk menghubungi Abbas, dia harus bicara pada laki-laki itu yang seenaknya saja mengambil semua aset miliknya. Namun, dia baru ingat jika ponselnya sampai saat ini belum diberikan padanya.


"Apa ponselku masih tertinggal di rumah?" gumam Sherly. Dia lantas keluar kamar untuk menanyakannya dengan Evan. Jika benar ponselnya masih tertinggal di rumah mereka, maka habislah sudah. Benda pipih itu pasti sudah raib diambil oleh orang lain.


"Evan!"


Suara Sherly menggema di tempat itu membuat Mery yang sedang berada di dapur terlonjak kaget, sampai membuat air yang ada di tangannya tumpah ke lantai.


"Evan, apa kau ada di-" Sherly tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat keberadaan sang mertua di dapur.


Mery menatap kedatangan Sherly dengan tajam dengan raut wajah tertekuk dengan sempurna.


"I-ibu, apa, apa Ibu melihat-"


"Kalau kau ingin tinggal di sini, maka tingallah dengan diam dan tahu diri!" ucap Mery dengan ketus sambil melipat kedua tangan di depan dada.


Sherly terdiam sambil menahan emosi saat mendengar ucapan wanita paruh baya itu. Dia lalu menarik napas dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan.


"Baik, Bu. Nanti akan aku bersihkan,"


"Baguslah. Binatang saja tahu diri jika dirawat oleh manusia," ucap Mery kemudian sambil berlalu pergi dari tempat itu.


Sherly mengepalkan kedua tangannya dengan erat, sampai membuat kuku-kuku tangannya memutih. "Dasar tua bangka. Lihat saja, aku pasti akan membalasmu nanti."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2