Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 59. Membuka Hati.


__ADS_3

Begitu lomba di mulai, Fathir dan Faiz langsung melompat ke pinggir tenda sambil memegang tali di setiap sisinya. Ayun dan Adel juga tidak mau kalah, mereka segera memegangi bagian ujungnya sambil memberi semangat.


Semua orang bersorak dengan meriah, banyak juga di antara mereka yang merekam perlombaan itu supaya bisa diviralkan.


Keringat Fathir dan Faiz bercucuran karena harus mengerjakannya dengan cepat, Ayun dan Adel bahkan tercengang melihat kecepatan ayah dan anak itu.


"Hati-hati, Faiz. Awas tanganmu terluka," ucap Ayun.


"Aw!" Faiz memekik sakit saat tangannya tidak sengaja terkena ujung kayu, padahal baru saja Ayun selesai mengingatkan.


"Kau baik-baik saja?" tanya Ayun dengan panik. Dia segera merobek ujung hijabnya untuk menutup luka yang ada di jari Faiz.


Faiz terdiam saat melihat apa yang Ayun lakukan, tiba-tiba dadanya terasa hangat dan berdegup kencang.


"Nanti kita pinjam P3K untuk membersihkan lukanya. Kalau sakit istirahat saja, jangan dipaksa ya," ucap Ayun.


Faiz mengangguk dengan ragu. "Ti-tidak sakit kok, Tante." Dia langsung berjongkok untuk melanjutkan perlombaan dengan wajah yang memerah.


Ayun sendiri merasa senang karena Faiz sudah mau memanggilnya dengan sebutan tante, sementara Fathir yang sejak tadi memperhatikan karena khawatir tampak tersenyum lega.


15 menit telah berlalu, dan masing-masing tim sudah hampir menyelesaikan pekerjaan mereka membuat semua orang berdecak kagum.


"Kami sudah selesai!" ucap Fathir dan Adel secara bersamaan, sementara Faiz masih mengikat tali terakhir.


"Wah, mereka hebat sekali."


"Benar, tuan Fathir dan Faiz sangat hebat sekali."


Semua orang memuji pekerjaan mereka diiringi dengan tepuk tangan yang sangat meriah, membuat Faiz menunduk dengan wajah memerah.


"Kamu hebat sekali, Faiz," seru Ayun dengan semangat. Dia memegang kedua bahu Faiz dengan lembut, dan memberikan tatapan hangat serta senyuman tulus.


Wajah Faiz semakin memerah saat melihatnya. "Te-terima kasih. Tapi, kita kalah." Dia berucap sedih.


"Kalah menang itu hal biasa dalam perlombaan. Tapi lihat, semua orang sangat kagum dengan kehebatanmu," ucap Ayun sambil menunjuk ke arah orang-orang yang menyoraki Faiz.


Faiz menganggukkan kepalanya dengan senang. Dia tersenyum, tetapi karena menunduk jadi tidak ada yang bisa melihat senyumannya.


"Anakku, selamat sudah jadi pemenang," ucap Ayun sambil memeluk Adel dengan erat.


"Yeay, kami menang. Om Fathir paling the best," seru Adel sambil bersorak-sorak dengan senang.

__ADS_1


Fathir tersenyum untuk menanggapi ucapan Adel, dia lalu melirik ke arah Faiz yang juga sedang melihat ke arahnya.


"Kau hebat, litle bro. Senang bisa berlomba denganmu," ucap Fathir sambil menepuk bahu Faiz dengan lembut.


Faiz mengangguk. Dengan ragu dia memeluk lengan sang papa karena masih merasa malu jika langsung memeluk tubuhnya.


Fathir yang merasa peka langsung melingkarkan tangannya di bahu Faiz, lalu merangkul tubuh putranya itu dengan erat.


Sungguh Faiz merasa sangat senang sekali hari ini, sampai-sampai air mata ingin menerobos keluar dari kedua matanya. Dia lalu melihat ke arah Ayun yang juga sedang melihatnya.


Ayun kembali tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, dia tahu betul bahwa tatapan Faiz itu dipenuhi dengan rasa terima kasih yang berlimpah.


Mereka berempat lalu kembali difoto dan diberi hadiah oleh kepala sekolah, yaitu empat tiket untuk masuk ke wahana permainan.


Setelah semuanya selesai, semua orang kembali berkumpul untuk makan siang bersama. Sejak perlombaan itu, Ayun dan Fathir selalu bersama. Begitu juga dengan Faiz dan Adel walau mereka sering adu mulut dan adu jotos.


"Terima kasih untuk hari ini, Nona," ucap Fathir saat mereka sudah kembali ke tenda untuk istirahat.


"Saya hanya perantara saja, Tuan. Anda dan Faiz lah yang memang sama-sama bersemangat," sahut Ayun.


Fathir menganggukkan kepalanya. Andai sejak dulu dia peduli pada Faiz, putranya itu pasti tidak akan menderita terlalu lama.


Dua jam kemudian, semua orang kembali ke lapangan untuk perlombaan. Masing-masing anak dan orang tua akan berpasangan, ada juga permainan untuk anak- anak saja.


Suasana dipenuhi dengan gelak tawa dan bahagia. Semua orang tampak bersemangat, terutama Faiz dan Adel yang mulai sekarang sudah menjadi rival.


Ayun dan Fathir juga ikut bermain. Mulai dari bola dangdut, sepatu dayung, sampai jaran goyang juga mereka ikuti.


Tidak terasa, waktu sangat cepat berlalu. Semua orang sudah tepar karena merasa lelah, terutama Adel yang begitu sampai tenda langsung terlelap.


"Mandi dulu, Nak. Nanti keburu malam," ucap Ayun, tetapi putrinya itu sudah tidak sadar lagi.


Ayun melihat jam dipergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dia lalu memakai sendalnya dan bersiap untuk mencari kayu. Dia sengaja tidak mengajak Faiz karena tahu jika anak itu pasti kelelahan.


"Anda mau ke mana?" tanya Fathir yang baru keluar dari tenda.


"Saya ingin mencari kayu."


"Sebentar, biar saya panggilan Faiz."


Ayun langsung menghentikan Fathir dengan tidak sengaja menarik tangannya, membuat Fathir terdiam kaku.

__ADS_1


"Tidak usah, Tuan. Faiz pasti lelah karena tadi habis bermain," ucap Ayun. Dia lalu melepaskan tangan Fathir saat baru sadar sudah menggenggamnya.


"Bagaimana kalau aku memanggilmu dengan sebutan Ayun saja. Apa boleh?" tanya Fathir.


Ayun terdiam saat mendengarnya. Sebenarnya dia sama sekali tidak masalah mau dipanggil nama atau tidak, tetapi dia merasa kaget karena Fathir yang mengatakannya.


"Kau bisa memanggilku dengan sebutan Fathir, bagaimana?" sambung Fathir. Entah setan apa yang sedang merasukinya saat ini, yang pasti dia ingin mengubah panggilan mereka.


"Ba-baiklah. Terserah An- maksudku terserah kau saja," jawab Ayun dengan tergagap.


Fathir tersenyum senang saat mendengarnya sampai tidak sadar jika Faiz sudah berdiri di belakangnya.


"Faiz? Kau mengagetkan papa," tukas Fathir dengan tajam.


Faiz mencebikkan bibirnya. Dia tidak menyangka jika sang papa akan meminta panggilan non-formal pada ibunya Adel itu.


"Ayo, kita cari kayunya Tante!" ajak Faiz.


"Biar tante sendiri saja, kau kan capek habis main," sahut Ayun.


Faiz menggelengkan kepalanya. "Kalau Tante pergi sendiri, pasti nanti ada nyamuk besar yang ngikuti."


"Faiz!" Fathir menggeram kesal saat mendengar ucapan Faiz, sementara Ayun menatap ayah dan anak itu dengan tidak mengerti.


Faiz lalu segera mengajak Ayun untuk mencari kayu disekitaran belakang tenda mereka. Tidak perlu terlalu jauh, takutnya nanti malah tersesat.


"Apa ini?" gumam Faiz saat melihat sebuah tali yang terikat dipohon.


"Jangan dipegang, Faiz. Nanti bahaya," ucap Ayun.


Faiz mengangguk paham. Lalu tiba-tiba kakinya tidak sengaja menginjak tali yang lain membuat sebuah batu meluncur dari atas kepalanya.


"Faiz!"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2