Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 69. Firasat Seorang Ibu.


__ADS_3

Setelah Evan pergi dari tempat itu, Ezra segera membawa Adel masuk ke dalam rumah dan bergabung dengan yang lain. Setibanya di dalam, Yuni dan Angga langsung mengintrogasi kakak baradik itu tentang apa yang terjadi karena mereka memang baru dengar setengahnya.


Sementara itu, di rumah sakit terlihat Hasna sudah sadarkan diri membuat Ayun langsung terisak pilu sambil menundukkan kepala di hadapannya.


"Kenapa kau menangis, Yun? Apa kau tidak senang, bertemu dengan ibu?" tanya Hasna dengan lirih. Padahal sudah sekuat tenaga dia mengeluarkan suaranya, tetapi malah tetap terdengar pelan.


"Senang, sangat senang. Tapi tidak dalam kondisi seperti ini, Bu," balas Ayun tak kalah lirih, suaranya bahkan bergetar sekarang.


Hasna tersenyum sambil menatap sang putri sulung, sepertinya Ayun sudah tahu mengenai penyakit yang dia derita.


"Sudah, jangan menangis lagi. Ibu tidak apa-apa."


Perlahan Ayun mengangkat kepalanya, dan menatap ke arah sang ibu. Dia kembali menangis, dan terus seperti itu karena merasa bersalah.


"Maaf, Bu. Maafkan aku," ucap Ayun membuat sang ibu langsung menenangkan. Entah kenapa dia benar-benar merasa bersalah karena selama ini tidak peduli dengan sang ibu, bahkan jarang sekali menelepon.


Setelah merasa lebih tenang, Ayun lalu mengajak ibunya bercerita tentang Hasan dan Hasri yang ada di sini juga. Sampai akhirnya satu pertanyaan terlontar dari mulut sang ibu, yang langsung membuat Ayun terdiam.


"Kenapa Evan tidak di sini?"


Itulah pertanyaan yang membuat Ayun langsung diam. Dia bingung harus mengatakan apa, haruskah dia berbohong? Tetapi di saat seperti ini memang itulah yang tepat.


"Dia sedang kerja, Bu. Ibu tau sendiri pekerjaannya banyak." Lirih Ayun, membuat sang ibu mengangguk paham.


Kemudian Hasna kembali tidur akibat efek obat yang membuat matanya selalu mengantuk, tetapi itu justru bagus agar kesehatannya bisa membaik.


Sore harinya, Ezra dan yang lainnya kembali ke rumah sakit untuk gantian menemani sang nenek. Hasna merasa sangat senang saat melihat anak dan cucu-cucunya berkumpul, dia seperti sudah ikhlas jika Tuhan mengambil nyawanya saat ini juga.

__ADS_1


Setelah beberapa jam menghabiskan waktu bersama, Ayun kembali menyuruh mereka semua untuk pulang. Namun, Ezra menolak dan ingin tetap menemani sang nenek, dan malah menyuruh ibunya yang pulang.


"Besok Ibu harus datang ke persidangan, dan Ibu harus tunjukkan wajah bahagia ibu pada mereka semua. Aku yakin wanita itu pasti akan mendampingi ayah," ucap Ezra dengan getir, membuat Ayun tersenyum.


"Ya sudah, besok setelah sidang ibu akan ke sini. Kabarin ibu bagaimana keadaan nenek ya," perintah Ayun yang langsung diiyakan oleh Ezra.


Kemudian Ayun pamit pada sang ibu untuk pulang ke rumah bersama dengan yang lainnya, tinggallah Ezra dan Angga yang berada di tempat itu untuk menemani Hasna.


"Ezra, boleh nenek bertanya sesuatu padamu?" tanya Hasna setelah Ayun dan yang lainnya pulang.


Ezra menganggukkan kepalanya sambil menggenggam tangan sang nenek. "Tentu saja, Nek. Nenek boleh tanya apapun, aku pasti akan menjawabnya." Dia tersenyum dengan ceria.


Hasna ikut menganggukkan kepalanya. "Jadi, apa nenek boleh bertanya apa yang terjadi pada ayah dan ibumu?"


Deg.


"Jangan berkata tidak tahu atau tidak terjadi sesuatu dengan mereka. Nenek bisa tau hanya dari sorot mata ibumu. Mata yang biasa berbinar saat nenek menyebut nama Evan, kini tampak redup dan menyimpan banyak duka di dalamnya," sambung Hasna dengan lirih. Tentu saja instingnya sebagai seorang ibu dan wanita sangat peka sekali dalam hal seperti ini.


Ezra terdiam saat mendengarnya. Dia sedang berada dalam kebingungan yang luar biasa, tetapi saat melihat tatapan sang nenek. Dia terpaksa mengatakan yang sejujurnya, dan berharap setelah mengetahui semuanya keadaan neneknya baik-baik saja.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ayun dan Yuni pamit pada Nayla dan Rio untuk pindah ke rumah yang sudah Ayun sewa. Terkesan buru-buru sebenarnya, tetapi Ayun sudah merasa tidak enak hati jika harus terus menumpang dan menyusahkan sahabatnya.


Nayla dan Rio mengantar mereka sampai ke tempat tujuan, dan membantu membereskan barang-baramg yang dibawa agar Ayun tidak terlalu lelah.


"Aku akan menemanimu dipersidangan nanti, jadi kau tidak perlu khawatir," ucap Nayla. Sungguh Ayun sangat beruntung sekali punya sahabat sebaik dirinya.

__ADS_1


Ayun menepuk bahu Nayla dengan pelan. "Tidak apa-apa, Nay. Ajaklah sih kecil jalan-jalan, aku akan ke persidangan sendiri." Dia menolak dengan tidak enak hati.


"Tapi Yun, mereka pasti-"


"Tidak apa-apa, di sana kan sudah ada pengacaraku. Jadi kau tidak perlu khawatir," ucap Ayun meyakinkan, dia juga melihat ke arah sang adik yang tampak khawatir.


Nayla menganggukkan kepalanya dengan terpaksa, kemudian dia dan sang suami pamit untuk kembali ke rumah sekalian membawa Adel ke sekolah.


Sama seperti Nayla, Yuni juga menawarkan diri untuk menemani sang kakak sidang. Namun, Ayun menolaknya dengan alasan kasihan dengan keponakannya yang masih kecil-kecil.


"Percaya sama mbak, mbak pasti akan baik-baik saja. Sekarang ayo kita bersiap, kau juga harus menemani ibu di rumah sakit!" ajak Ayun dengan tujuan yang berbeda, membuat Yuni mau tidak mau menuruti ucapannya.


Setelah selesai bersiap, Ayun segera pergi menuju pengadilan agama dengan menaiki taksi online. Dia melangkahkan kakinya dengan yakin untuk memasuki tempat itu, tidak ada sedikit pun keraguan dalam hatinya untuk bercerai dengan Evan.


Langkah Ayun terhenti saat melihat pengacaranya dengan beberapa orang sedang duduk menunggunya, mereka langsung beranjak bangun dari kursi saat melihat kedatangannya.


"Sudah siap untuk beraksi di persidangan?"





Tbc.


Mampir juga ke karya baru aku yah 🥰

__ADS_1



__ADS_2