Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 16. Permintaan Maaf.


__ADS_3

Evan di bawa ke dalam ruang interogasi yang sudah pernah dia masuki sebelumnya. Beberapa polisi yang melihatnya tampak mengernyitkan kening mereka, karena ingat dengan kasus lamanya beberapa waktu yang lalu.


"Baiklah, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan pada Anda. Saya harap Anda menjawabnya dengan jujur, karena jika Anda berbohong, maka hukuman yang akan diberikan akan semakin berat," ucap polisi tersebut saat sudah berada di dalam ruangan, dan duduk saling berhadapan.


Evan mengangguk paham. Biar bagaimana pun juga, dia sudah tahu hasil dari kasus ini nanti. Di mana dia memang bersalah karena sudah memberikan tuduhan tidak berdasar pada David, dan melakukan fitnah di depan banyak orang.


Satu-persatu pertanyaan mulai diberikan oleh polisi itu pada Evan, dan dijawab dengan jujur sesuai dengan apa yang terjadi waktu itu. Dia memutuskan untuk berkata jujur karena tidak mau menambah masalah, dan semoga kejujurannya dapat menarik simpati David agar laki-laki itu memaafkannya.


Tidak terasa, satu jam telah berlalu dan sepuluh pertanyaan berhasil dijawab oleh Evan. Kini polisi tinggal memberikan satu pertanyaan terakhir, dan setelah itu pertemuan mereka berakhir.


"Dari semua jawaban Anda, sudah bisa dipastikan bahwa Anda bersalah karena telah menuduh tuan David tanpa alasan dan merusak nama baiknya. Untuk itu, saya ingin memberikan pertanyaan terakhir," ucap polisi itu, membuat Evan menghela napas kasar.


"Setelah Anda mengetahui bahwa bukan tuan David yang melakukan pencurian, kenapa Anda tidak pernah sekali pun meminta maaf atau memperbaiki nama baiknya di depan semua orang?" tanya Polisi itu.


Evan mengeratkan kedua tangannya yang saling bertautan. "Saat itu saya masih sangat syok, dan tidak tidak bisa menerima kebenaran tentang istri saya. Hingga saya melupakan tentang kesalahan yang telah saya perbuat, dan terlambat meminta maaf." Dia kembali menjawab jujur.


Polisi itu menganggukkan kepalanya dan sudah mencatat semua jawaban yang Evan berikan. "Baiklah, terima kasih karena sudah menjawab semua pertanyaan saya dengan jujur. Anda sudah bisa meninggalkan tempat ini, tapi ingatlah bahwa masih banyak rangkaian pemeriksaan tentang status Anda nanti."


Evan kembali menganggukkan kepalanya mendengar ucapan polisi itu. "Saya mengerti, Pak. Jujur saja, saya sudah berniat untuk meminta maaf pada David, tapi ternyata saya terlambat." Dia menghela napas lelah.


"Saya mengerti posisi Anda, Tuan. Tapi saya juga mengerti bagaimana perasaan pihak pelapor. Silahkan untuk menyewa pengacara atas kasus ini, karena pihak pelapor sepertinya tidak akan mau berdamai."


Evan yang semula menunduk langsung melihat ke arah polisi itu dengan nyalang. "Ti-tidak mau berdamai?"


Polisi itu menganggukkan kepalanya. Dia lalu mengatakan bahwa David sudah bicara dengan jelas pada pihak kepolisian, bahwa tidak akan menerima perdamaian dalam bentuk apapun dengan Evan.

__ADS_1


Evan terdiam dengan tatapan tidak percaya saat mendengarnya. Kedua tangan yang semula saling bertautan, kini tampak terkepal dengan erat.


"Mungkin Anda bisa membicarakannya dengan pihak pelapor. Jika tuan David bersedia berdamai, maka kasus ini pasti akan ditarik dan kami juga berharap agar diselesaikan secara kekeluargaan. Tapi jika beliau menolak, maka hukum akan tetap berjalan sesuai dengan undang-undang," ucap polisi itu kemudian.


Evan kembali menganggukkan kepalanya dan beranjak keluar dari tempat itu. Dia berjalan gontai menuju mobilnya berada, dan langsung masuk ke dalamnya dengan membanting pintu mobil tersebut.


"Kenapa, kenapa masalah terus saja terjadi padaku?" teriak Evan sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa lelah dan sakit terus menggerogoti hati dan pikirannya, membuat dia hampir kehilangan kewarasan. "Tidak, bukan saatnya aku seperti ini. Aku harus segera menemui David." Dia lalu menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu pergi menuju rumah David.


Hari ini juga, Evan harus bertemu dengan David dan menyelesaikan semuanya. Jika laki-laki itu ingin dia meminta maaf, maka dia akan melakukannya dengan tulus dan kembali mempekerjakan David di kantornya.


Beberapa saat kemudian, Evan sudah sampai di halaman rumah orang tua David. Dia memutuskan untuk menelepon laki-laki itu dulu, memastikan bahwa David sedang berada di rumah.


Namun, sudah beberapa kali Evan menghubungi David tetapi tidak juga dijawab oleh laki-laki itu. Dengan kesal, dia keluar dari mobil dan memilih untuk langsung berkunjung ke rumah David.


"Tuan Evan?" ucap Maryam saat melihat siapa laki-laki yang berkunjung ke rumahnya, tentu saja dia mengenal atasan dari putranya dulu.


"Maaf mengganggu waktu Anda, Buk. Bisakah saya bertemu dengan David?" tanya Evan.


Maryam lalu mengatakan bahwa saat ini David sedang tidak berada di rumah, dan bertepatan dengan kedatangan sang suami bersama Bram.


"Siapa Ma?" tanya Danu, ayah David. Dia dan Bram baru saja keluar dari ruang kerja, dan bermaksud untuk mengantar adiknya itu sampai depan rumah.


Maryam langsung membalikkan tubuhnya saat mendengar suara sang suami, begitu juga dengan Evan yang melihat ke arah Danu dan Bram.


"Anda, tuan Evan?" seru Danu saat sudah berdiri di depan Evan, sementara Bram hanya diam dengan kening mengernyit dalam.

__ADS_1


"Benar, Pak. Maaf mengganggu waktu Anda, bisakah saya bicara dengan Anda sebentar?" tanya Evan. Jika dia tidak bisa bertemu dengan David, maka tidak ada salahnya dia bicara dengan keluarga laki-laki itu.


Danu melirik ke arah Bram saat mendengar ucapan Evan, dia tahu jika laki-laki itu pasti ingin membicarakan tentang apa yang putranya lakukan.


"Baiklah, kalau gitu silahkan masuk, Tuan." Danu segera mempersilahkan Evan untuk masuk, membuat Evan tersenyum lega.


Bram yang tadinya akan pulang terpaksa mengurungkan niatnya karena kedatangan Evan, dia segera mengirim pesan pada David tentang semua ini, lalu ikut duduk bersama mereka.


"Maaf jika kedatangan saya menganggu Anda semua, saya pasti sudah membuat kalian merasa tidak nyaman," ucap Evan berbasa-basi, tentu saja untuk memberikan kenyamanan.


"Tidak apa-apa, Tuan Evan. Kami sama sekali tidak merasa terganggu," balas Danu. "Apa Anda datang kemari karena ingin membicarakan tentang laporan yang putra saya lakukan?"


Ucapan Danu langsung tepat sasaran, membuat Evan mengangguk lemah. Dia lalu memberitahukan tentang maksud kedatangannya untuk meminta maaf pada David, dan juga semua keluarga laki-laki itu.


"Saya tahu jika apa yang sudah saya lakukan merusak nama baik David dan juga Anda semua, untuk itulah saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang telah terjadi," ucap Evan dengan lirih dan kepala tertunduk.


"Bukankah permintaan Anda ini sudah sangat terlambat, Tuan Evan?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2