
Bram berkata dengan lantang dan penuh penekanan membuat seisi ruangan itu mendadak jadi tegang, terutama Evan yang menatapnya dengan tajam dan dipenuhi amarah.
"Itu karena Ayun sudah tidak mau mendengarkan ucapanku sebagai suaminya. Orang lain juga akan murka jika punya istri pembangkang seperti dia!" tiba-tiba Evan bersuara. Dia yang sudah tidak bisa menahan amarahnya langsung berkata dengan penuh penekanan, bahkan sampai menunjuk ke arah Ayun.
"Dimohonkan untuk tetap tenang, pihak tergugat," ucap Hakim dengan cepat sebelum terjadi keributan.
Bram tersenyum sinis saat mendengar ucapan Evan, kali ini laki-laki itu benar-benar terjebak dalam permainannya.
"Dewan hakim yang terhormat. Salahkah bila seorang istri memakai uang suaminya sendiri?" tanya Bram dengan lirih, seolah merasakan bagaimana pahitnya perasaan Ayun. "Klien saya hanya belanja dengan anak-anaknya, tapi begitu pulang. Tuan Evan langsung memarahi mereka bahkan sampai mengusirnya."
"Tutup mulutmu!" ucap Evan dengan nada membentak, membuat keadaan sidang semakin riweh.
"Jika Anda tidak bisa tenang, maka Anda akan saya keluarkan dari ruang sidang, Tuan Evan," ancam Hakim dengan penuh penekanan.
Agung berusaha untuk menenangkan Evan dan memaksa agar laki-laki itu kembali duduk, begitu juga dengan Sherly atau mereka semua akan ditendang keluar.
Abbas dan Keanu sangat puas sekali saat melihat apa yang terjadi, apalagi melihat wajah panik dan marah Evan yang sebenarnya membuat posisi laki-laki itu semakin terpojok.
Bram langsung saja mengatakan bagaimana kehidupan kliennya selama ini, bahkan dia membandingkan kehidupan Ayun dengan Sherly saat bersama Evan. Tentu saja disertai bukti betapa bergelimangnya harta Sherly saat sudah menikah dengan Evan, sementara Ayun? Jangan ditanya lagi, jelas membuat siapa saja merasa miris.
"Kami keberatan, yang Mulia," bantah Agung. "Sejak awal nona Sherly adalah orang kaya, jelas dia punya banyak harta walau tidak menikah dengan tuan Evan sekali pun."
Ucapan Agung itu sontak membuat Keanu dan Abbas tertawa dengan kuat, tentu saja menyita perhatian semua orang. Termasuk Sherly yang menatap papa tirinya dengan nanar.
__ADS_1
Akhirnya sidang itu berakhir dengan hasil keputusan bahwa mediasi telah gagal, dan pihak tergugat dinyatakan bersalah karena terbukti berselingkuh, dan sama sekali tidak mensejahterakan pihak penggugat yang merupakan istri sah.
Sidang kedua akan dilanjutkan minggu depan, sesuai dengan keinginan Abbas yang sudah melobi pihak pengadilan. Bahkan dia meminta putusan akhir sudah keluar dalam bulan ini, karena semua bukti sudah sangat jelas.
Evan keluar dari ruang sidang dengan amarah yang sudah berada diubun-ubunnya. Begitu juga dengan Sherly dan Sella yang ikut melangkah keluar dari tempat itu.
Ayun sendiri mengucapkan syukur yang sangat besar atas hasil sidang pada hari ini, dia juga mengucapkan banyak terima kasih pada Bram yang telah membantu semuanya sampai berjalan lancar seperti ini.
"Itu sudah menjadi tugas saya, Buk. Sekarang kita tidak perlu khawatir lagi, kemenangan jelas ada ditangan kita. Paling tidak Anda akan mendapatkan bagian harta sebesar 50% dari milik mantan suami Anda, dan bisa naik sampai 70% jika kedua anak Anda memilih untuk ikut bersama dengan Anda. Karena umur mereka sudah di atas 12 tahun, jadi mereka berhak untuk menentukan pilihan sendiri,"ucap Bram, menjelaskan.
Ayun langsung tersenyum cerah saat mendengarnya, bahkan sampai membuat matanya berkaca-kaca karena merasa tidak percaya.
"Kenapa kau menangis? Sebentar lagi kau akan mendapatkan semua yang menjadi hakmu, jadi kita harus menyambutnya dengan penuh suka cita," ucap Nindi dengan lembut. Dia mengusap air mata yang ada diwajah Ayun, sudah cukup selama ini wanita itu hidup berselimutkan dengan air mata.
Ayun menganggukkan kepalanya dan memeluk tubuh Nindi dengan erat. "Terima kasih, Nindi. Aku tidak bisa sampai ke tahap ini tanpa bantuan darimu, sungguh aku tidak bisa membalas apa yang sudah kau lakukan." Dia terisak dengan lirih.
"Sudah-sudah. Ayo, kita harus ke rumah sakit! Ini sudah sangat siang," ucap Abbas, membuat pelukan Ayun dan Nindi terlepas.
Ayun langsung menatap Nindi dengan khawatir saat mendengar kata-kata rumah sakit. "Ka-kau sakit lagi, Nindi?"
Nindi langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan aku, tapi ibumu. Ayo!" Dia kembali menggandeng lengan Ayun, membuat wanita itu tercengang dan tidak mengerti.
"Ken sudah mengatakannya pada kami tentang keadaan ibumu. Jadi, apa kami boleh menjenguknya?" ucap Abbas, yang berakhir dengan pertanyaan.
__ADS_1
Ayun langsung menganggukkan kepalanya. "Te-tentu saja boleh, Tuan. Tapi saya tidak mau merepotkan Anda."
"Sama sekali tidak merepotkan," bantah Abbas. Kemudian dia mengajak mereka semua untuk segera ke rumah sakit.
Ayun menatap mereka semua dengan tatapan penuh syukur dan bahagia. Tidak pernah terbayangkan jika dia akan bertemu dengan orang-orang sebaik mereka, sungguh tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa besar kebaikan yang telah mereka lakukan untuknya.
"Ya Allah. Aku mohon panjangkanlah umur mereka, dan berikanlah kebahagiaan yang berlimpah untuk mereka. Mereka benar-benar orang yang sangat baik, mereka adalah hamba-Mu yang sangat mulia."
Do'a tulus selalu Ayun lantunkan untuk Nindi dan keluarganya. Baik dalam setiap shalatnya, atau bahkan dalam keadaan apapun. Berharap Tuhan akan mengambulkannya.
20 menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit dan langsung menuju ruangan di mana Hasna dirawat.
"Assalamu'aikum," ucap Ayun sambil masuk ke dalam ruangan sang ibu bersama dengan yang lainnya, terlihat Hasna dan semua yang ada di ruangan itu langsung melihat ke arah pintu.
"Wa'alaikum salam, Ayun-" Hasna tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat sosok lelaki yang sedang berdiri di belakang tubuh Ayun.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Mampir ke karya baru aku juga ya 😍