Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 102. Papaku Sedang Sakit.


__ADS_3

Walau harus menahan malu dengan apa yang terjadi, tetapi rasanya tidak sebanding dengan apa yang dia dapatkan saat ini.


Perhatian, kehangatan, dan ketulusan yang Ayun berikan benar-benar membuat darahnya berdesir. Bahkan rasanya dia hampir gila karena tidak bisa menahan bunga-bunga yang sedang bermekaran dihatinya.


"Makanlah, semoga kau menyukainya," ucap Ayun sambil meletakkan semangkuk bubur ayam di hadapan Fathir.


Fathir mengangguk lalu mengucapkan terima kasih untuk makanan itu. Sebenarnya dia merasa sungkan jika sarapan duluan seperti ini, tetapi karena paksaan Ayun, maka dia melakukannya dengan hati riang gembira.


"Papa!"


Fathir yang akan memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya beralih menoleh ke arah belakang, tampak Faiz sedang berlari untuk menghampirinya.


"Papa sudah tidak apa-apa, 'kan?" tanya Faiz dengan tatapan khawatir.


Fathir menganggukkan kepalanya. "Duduklah, Faiz. Ada yang ingin papa bicarakan denganmu."


Dengan semangat Faiz langsung duduk dikursi yang ada di samping sang papa, membuat Ayun menutup mulutnya dengan tangan karena menahan geli.


"Ada apa, Pa?" tanya Faiz dengan cepat.


Fathir meletakkan sendok yang ada ditangannya, lalu beralih mengusap puncak kepala Faiz. "Terima kasih yah, karena sudah berulang kali menolong papa." Tangan yang semula mengusap kepala, kini mulai beralih turun ke telinga. "Tapi Faiz, kenapa kau malah membawa ke sini dan bukannya pulang ke rumah?" Dia menarik telinga Faiz sampai anak itu memekik sakit.


"Aah sakit, Pa. Aku kan khawatir dengan keadaan Papa," ucapnya sambil memegangi telinga.


Fathir melepaskan tarikan tangannya ditelinga Faiz, terlihat telinga itu berubah warna menjadi merah. "Lain kali jangan seperti itu, Faiz. Kau tidak boleh merepotkan orang lain dan membuat papamu malu." Tukasnya dengan penuh penekanan.


Faiz mengangguk paham sambil cemberut. Padahal dia sudah melakukan hal yang tepat, tetapi masih saja disalahkan oleh sang papa.


"Om Fathir!"


Fathir yang akan kembali menikmati sarapannya kembali terhenti saat mendengar teriakan Adel. Terlihat gadis itu sudah berpakaian rapi.


"Om pagi sekali datangnya?" tanya Adel dengan heran, tidak biasanya laki-laki itu datang dijam segini. "Loh, kau di sini juga?" Di beralih melihat ke arah Faiz.


Fathir melirik ke arah Ayun saat mendengar pertanyaan Adel, terlihat wanita itu menggelengkan kepala seolah sedang memberi kode.


"Tadi om lewat sekitar sini, jadi singgah sebentar," sahut Fathir dengan berbohong, membuat Faiz langsung menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


Adel mengangguk-anggukkan kepalanya sambil duduk di samping sang ibu. Tidak berselang lama, semua orang datang dan berkumpul di meja makan.


Mereka senang saat melihat Fathir sudah membaik, dan mereka sengaja tidak memberitahu Adel karena mulut gadis itu tidak bisa diajak kerja sama.


Mereka semua lalu menikmati sarapan yang sudah tersaji di atas meja. Suasana hangat dan ceria sangat terasa sekali, apalagi sesekali mereka bersenda gurau, baik yang muda maupun yang sudah dewasa.


Setelah selesai, Ayun memberikan obat yang harus diminum pada Fathir. Dia juga menjelaskan bagaimana ukuran dalam meminumnya, sama persis seperti apa yang Dokter katakan.


Fathir meminum obat itu dengan sekali telan, apalagi yang memberikannya adalah Ayun. "Terima kasih, Ayun. Setelah ini aku harus pulang." Dia sekalian berpamitan.


Ayun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, hati-hati dijalan." Dia mengulas senyum lebar.


Fathir membalas senyum itu, lalu ada satu hal lagi yang sebenarnya imgin dia katakan pada Ayun. "Em ... Ayun, masalah penyakitku-"


"Aku sudah tahu, Fathir. Dokter menyarankan agar kau bertemu dengan psikolog dan melakukan terapi. Kalau mau, aku akan menemanimu," potong Ayun dengan cepat.


Fathir terpaku saat mendengarnya, tidak disangka Ayun akan menawarkan diri untuk menemaninya. "Baiklah, aku akan mengabarimu nanti." Dia lalu memanggil Faiz dan berlalu pergi dari tempat itu.


Ayun mengantar mereka sampai ke halaman depan. "Hati-hati bawa mobilnya, Faiz."


"Semoga masalahmu cepat selesai, Fathir, dan kau terbebas dari segala sakit yang selama ini kau rasakan," gumam Ayun. Dia lalu kembali masuk ke dalam rumah karena harus bersiap-siap berangkat ke kantor.


Sementara itu, di tempat lain tampak kedua orang tua Fathir sedang mondar-mandur di halaman rumah mereka. Sudah sejak tadi mereka menunggu kepulangan Fathir dan Faiz, tetapi ayah dan anak itu tidak juga menampakkan diri.


Malam tadi, mereka merasa sangat cemas aaat mendapat kabar dari Ayun jika Fathir berada di rumah wanita itu. Apalagi Ayun mengatakan jika Fathir tidak dalam kondisi baik, membuat mereka langsung memutuskan untuk pulang dan melihat keadaan laki-laki itu.


Namun, mereka mengurungkan niat saat akan berkunjung ke rumah Ayun. Akan sangat tidak sopan jika mereka bertamu saat larut malam seperti itu.


"Itu mereka," seru Farhan saat melihat mobil Fathir memasuki pekarangan rumah.


Alma menghela napas lega saat melihatnya, dia terus menatap mereka dengan raut khawatir dan sendu di saat bersamaan.


Fathir dan Faiz yang sudah sampai di tempat tujuan segera turun dari mobil. Mereka sedikit terkejut saat melihat keberadaan papa Farhan dan mama Alma di halaman rumah.


"Fathir, Faiz!" panggil Alma sambil berjalan menghampiri mereka dengan diikuti oleh sang suami. "Ka-kalian baik-baik saja?" Dia bertanya dengan cemas sambil memperhatikan kedua lelaki itu.


Fathir menganggukkan kepalanya, sementara Faiz hanya diam karena enggan untuk bicara. "Aku masuk dulu." Fathir berucap pelan sambil melangkah masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Alma dan Farhan menatap dengan sendu, tetapi mereka merasa lega saat melihat Fathir dan Faiz baik-baik saja.


Fathir segera masuk ke dalam kamarnya untuk bergantian. Dia yang awalnya ingin istirahat, berubah pikiran dan memutuskan untuk pergi ke kantor.


"Ayo kita sarapan, Faiz. Oma sudah masak makanan kesukaanmu," ajak Alma.


Faiz menggelengkan kepalanya. "Aku sudah makan bersama tante Ayun." Dia berjalan terus untuk naik ke lantai dua tanpa melihat ke arah sang oma.


Hati Alma terasa seperti sedang ditusuk oleh ribuan pisau saat melihat keacuhan anak serta cucunya, hingga membuat air matanya kembali keluar.


Beberapa saat kemudian, Fathir sudah siap dengan pakaian kerjanya. Dia bergegas berangkat menuju perusahaan dan tidak sempat untuk menemui sang mama.


Faiz menghela napas kasar saat melihat papanya pergi bekerja, padahal Dokter mengatakan jika harus banyak istirahat terlebib dahulu.


"Aku tidak bisa membiarkan oma dan opa melakukan itu lagi pada papa, mereka harus tau bagaimana keadaan papa yang sebenarnya," gumam Faiz dengan tajam.


Dia keluar dari kamarnya dan berjalan ke kamar sang papa untuk mengambil obat yang disimpan oleh papanya itu. Setelah dapat, dia segera membawanya untuk ditunjukkan pada oma dan juga opanya.


"Faiz," ucap Alma yang saat itu sedang duduk di samping kolam bersama dengan Farhan.


Faiz terus berjalan mendekati mereka lalu meletakkan bungkusan obat itu ke atas meja. "Itu adalah obat yang selama ini diminum oleh papa." Dia berucap dengan lirih.


Alma dan Farhan tersentak kaget saat mendengarnya, dengan cepat mereka mengambil obat itu untuk memeriksanya.


"I-ini kan-" Alma menutup mulutnya dengan tangan bergetar saat mengetahui obat apa yang saat ini sedang dia lihat. Seketika kedua matanya menjadi berkaca-kaca sambil menatap ke arah Faiz.


Farhan yang tidak mengerti langsung bertanya obat apa yang sedang mereka lihat saat ini, tetapi Alma malah menangis dengan tersedu-sedu.


"Selama ini papa meminum obat itu saat terkena serangan panik. Papa, papaku sedang sakit."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2