Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 138. Keseruan Hari Ini.


__ADS_3

Fathir yang semula tersenyum senang langsung mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan Ayun. "Walaupun tua, ketampananku ini tidak akan pernah luntur." Dia berucap dengan bangga sambil membusungkan dada.


"Dih, kamu pede sekali," seru Ayun. Dia lalu tergelak sambil menggelengkan kepalanya membuat Fathir juga ikut tergelak.


"Ibu, kenapa tidak keluar?"


Suara teriakan Adel seketika menghentikan tawa Ayun dan juga Fathir. Dengan cepat mereka keluar dari mobil sebelum kembali mendengar teriakan dari anak-anak itu.


Kemudian mereka semua memasuki wahana permainan yang sedang tidak terlalu ramai, karena memang hari ini bukanlah hari libur untuk anak sekolah maupun para pekerja.


Dengan semangat, Adel dan Faiz menaiki semua wahana yang ada di tempat itu. Begitu juga dengan Ezra dan Mayra, yang setia mendampingi kedua bocah itu walau sebenarnya mereka juga sangat bersemangat untuk bermain.


Ayun dan Fathir sendiri hanya menaiki beberapa wahana saja, itu pun karena dipaksa oleh anak-anak mereka. Jika tidak mereka merasa malu dengan umur jika bermain seperti itu.


Tawa canda mereka semua menggema di tempat itu. Terlihat jelas kebahagiaan diwajah setiap orang, apa lagi saat melihat tingkah konyol yang Adel dan Faiz lakukan.


"Dengar, mulai sekarang kau harus memanggil papaku dengan sebutan papa juga. Masa iya sih, manggil papa om om gitu," ucap Faiz dengan penuh penekanan.


"Hah, memangnya apa yang salah? Om Fathir 'kan, memang om," sahut Adel dengan heran.


"Iya, tapi papa kan sebentar lagi menikah dengan ibumu, jadi kau harus memanggilnya papa mulai dari sekarang," perintah Faiz.


Ah, benar juga. Adel tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, sementara Ezra dan Mayra hanya menahan senyum melihat ada saja keributan yang dua anak itu lakukan.


Setelah selesai menaiki wahana tornado yang membuat perut Mayra dan Ezra bergejolak, mereka segera bergabung dengan Fathir dan Ayun yang sedang duduk di bangku. Wajah mereka tampak pucat karena tidak sanggup lagi untuk menaiki wahana-wahana yang ekstrim, sementara Adel dan Faiz tampak biasa saja dan masih sibuk ke sana kemari.


"Bu, mau minum," ucap Ezra dengan lemas saat menghampiri sang ibu. Dia langsung terduduk di samping ibunya sambil menyandarkan kepalanya ke bahu.


Ayun langsung memberikan sebotol air mineral pada putranya yang sudah pucat itu. "Makanya jangan naik kayak gitu kalau tidak tahan. Lihat, Mayra juga pucat itu." Dia menunjuk ke arah Mayra yang juga sedang duduk di bangku yang sama dengan mereka.


Ezra hanya mengangguk saja mendengar ucapan sang ibu, dia lalu meminum air mineral yang ada ditangannya.


"Ini, minumlah." Fathir juga memberikan air untuk Mayra yang memang tampak pucat.


Mayra mengangguk, dia lalu menerima air itu sambil mengucapkan terima kasih. Walau merasa lelah dan mual akibat menaiki wahana ekstrim, tetapi dia merasa bahagia bisa bersama dengan keluarga Ezra.

__ADS_1


"Papa!"


Fathir yang sedang memperhatikan Ayun terlonjak kaget saat mendengar teriakan Adel, begitu juga dengan Ayun dan yang lainnya. Terlihat Adel dan Faiz sedang berlari ke arah mereka semua.


"Ibu, Papa. Kita masuk ke rumah hantu yuk!" ajak Adel sambil menunjuk ke arah di mana rumah hantu berada.


Fathir tercengang saat mendengar panggilan yang Adel sematkan untuknya, begitu juga dengan Ayun.


"Adel, kau, kau memanggil om apa?" tanya Fathir dengan tergagap.


Adel tersenyum. "Kata Faiz aku harus panggil Om dengan sebutan papa, jadi ya udah, aku panggil Papa." Dia berucap dengan jujur.


Fathir tertegun mendengar jawaban Adel, dia lalu beralih melihat ke arah Faiz yang sedang pura-pura sibuk dengan ponselnya.


"Memang sudah seharusnya kami memanggil Om dengan sebutan Papa. Ya 'kan, Bu?" ucap Ezra sambil melihat ke arah sang ibu.


Ayun tersenyum dengan semburat malu yang ada diwajahnya. "Terserah kalian saja. Selagi itu baik, maka lakukanlah." Dia merasa malu untuk langsung menjawab iya.


Hati Fathir terasa berbunga-bunga saat mendengar ucapan anak-anak Ayun, ternyata mereka benar-benar sudah menerima kehadirannya untuk menjadi ayah sambung mereka.


"Tapi udah jam segini, nanti kita kemalaman pulangnya," ucap Ayun sambil memberi tahu bahwa sekarang sudah sangat sore.


Fathir lalu mengatakan tidak apa-apa yang penting saat adzan maghrib nanti sudah keluar, supaya bisa shalat di masjid terdekat sebelum pulang ke rumah.


Akhirnya mereka semua setuju dan bergegas masuk ke rumah hantu. Suara teriakan Adel menggema di tempat itu karena merasa takut saat melihat hantu jadi-jadian itu, padahal tadi dia yang memaksa untuk masuk.


Mayra juga sama takutnya dengan Adel, membuat Ezra harus ekstra sabar mendengar jeritan mereka. Apa lagi saat kuku-kuku Mayra menancap di lengannya, karena wanita itu mencengkram lengannya dengan kuat.


"Pergi kalian semua dasar setan jadi-jadian. Kalian yang dapat uang, aku yang remuk redam," teriak Ezra di hadapan semua hantu jadi-jadian itu membuat mereka langsung tergelak.


Ayun sendiri juga tertawa terbahak-bahak melihat kemarahan Ezra, bahkan sejak tadi dia juga terus tertawa melihat Adel dan Mayra berteriak ketakutan.


"Apa kau tidak takut?" tanya Fathir yang sejak tadi terus memperhatikan Ayun, dia merasa senang saat melihat wanita itu tertawa.


Ayun langsung menoleh ke arah Fathir. "Ini pertama kalinya aku masuk ke rumah hantu. Awalnya aku merasa takut, tapi setelah masuk malah jadi lucu." Dia kembali tertawa.

__ADS_1


Fathir ikut tersenyum lebar. Dia ikut merasa bahagia jika bisa membuat mereka semua tertawa bahagia seperti ini, dan ke depannya dia akan melakukan yang terbaik agar mereka selalu bahagia.


"Terima kasih karena sudah membawaku dan anak-anak ke sini, Fathir. Kami merasa sangat senang hari ini," ucap Ayun dengan tulus. "Terima kasih juga karena sudah memberi banyak hal untuk kami, padahal kami tidak bisa memberikan apapun untukmu."


Fathir terkekeh pelan mendengar ucapan Ayun. "Jangan berterima kasih untuk sesuatu yang sudah seharusnya aku lakukan, karena membuat kalian bahagia itu sudah menjadi kewajiban untukku. Dan aku tidak mengharapkan imbalan apapun, cukup tetap bersama denganku dan berada disisiku dalam keadaan apapun."


Ayun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Insyaallah. Jika Allah berhendak, maka kami akan selalu bersama denganmu."


Fathir dan Ayun saling bertatapan dengan hangat, sampai akhirnya mereka menyudahi tatapan itu karena sudah keluar dari rumah hantu.


Mereka semua lalu keluar dari tempat wahana permainan itu saat adzan maghrib berkumandang. Sebelum pulang, mereka singgah sebentar ke masjid untuk menunaikan kewajiban. Setelah selesai, lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah Ayun.


*


*


*


Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Semua orang sangat sibuk mempersiapkan hari pernikahan Ayun dan Fathir, walaupun sebagian sudah diserahkan pada pihak WO.


Selama kesibukan itu berlangsung, Keanu sama sekali tidak terlihat karena sedang mencari keberadaan bar yang merupakan milik Rian. Lalu Fathan hari ini juga akan dibawa kembali ke sel tahanan.


Alma dan Farhan mengantar kepergian Fathan dengan sedih. Dulu saat penangkapan laki-laki itu, Alma hanya bisa menangis di dalam kamar dan Farhan tidak sudi untuk menemani. Namun, saat ini mereka sudah mengikhlaskan semuanya dan mencoba memperbaiki hubungan yang sempat memburuk.


"Tunggu sebentar!"


Fathan yang akan masuk ke dalam mobil polisi menghentikan langkahnya saat mendengar suara seseorang yang sangat dia kenal, seketika dia berbalik untuk melihat ke arah orang tersebut.


"Fathir?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2