Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 49. Anak yang Tidak Sopan.


__ADS_3

Faiz berteriak marah saat harga perhiasan yang dia inginkan lebih tinggi dari seminggu yang lalu, padahal sudah susah payah dia mengumpulkan uang sakunya selama setahun untuk membeli perhiasan tersebut.


"Maaf, harganya memang sudah naik dari seminggu yang lalu. Atau kalau tidak Anda bisa pilih cincin yang-"


"Aku tidak mau cincin yang lain, aku mau cincin yang itu!" tukas Faiz dengan tajam.


Terjadilah sedikit keributan di tempat itu karena Faiz tetap bersikeras ingin membeli perhiasan yang dia mau, tentu saja dengan sejumlah uang yang dia miliki.


Ayun yang sejak tadi diam merasa iba dan bingung saat melihat pemuda itu. Dia merasa kasihan karena sepertinya lelaki muda itu sangat menginginkan perhiasan yang dimaksud, tetapi dia juga merasa bingung kenapa tidak membeli perhiasan dengan uang yang dia punya?


Manager toko itu terpaksa turun tangan saat keributan mulai tidak terkendali. Padahal para karyawan sudah memberikan perhiasan yang tidak kalah cantik, tetapi Faiz tetap keukeh ingin cincin itu.


"Maaf, apa belanjaan saya sudah selesai di hitung?" tanya Ayun pada karyawan yang menjaga meja kasir, membuat wanita itu menganggukkan kepalanya.


"Maaf menunggu lama, Nyonya. Ini kartu Anda," jawab wanita itu sambil memberikan kartu kredit milik Ayun.


Jangan tanya dari mana Ayun memiliki kartu tersebut, sudah pasti semuanya dari sang papa. Dia bahkan bebas menggunakannya sampai limit setiap hari, walau pun dia sama sekali tidak ada niat seperti itu.


"Tolong bungkus perhiasan yang anak itu mau, sisa uangnya ambil saja dari kartuku," ucap Ayun dengan pelan, membuat wanita itu terbelalak.


"Ba-baik, Nyonya."


Dengan cepat wanita itu segera mengambil perhiasan yang menjadi bahan keributan, lalu segera mengemasnya.


Merasa sudah tidak sabar dengan tingkah Faiz, pihak keamanan segera membawanya keluar dari toko itu walau Faiz terus memberontak.


"Tu-tunggu sebentar, Pak!" seru Ayun saat melihat laki-laki muda itu ditarik paksa untuk keluar.


Petugas keamanan segera menghentikan tarikannya, begitu juga dengan Faiz yang sedang melihat ke arah seorang wanita yang kini sudah berdiri di hadapannya.


"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ayun dengan pelan.


Faiz terdiam saat mendapat pertanyaan dari wanita yang tidak dia kenal, apalagi wanita itu mencoba untuk bersikap ramah padanya. Mungkinkah wanita itu mengenalnya?


"Kau mengenalku?" tanya Faiz dengan tajam.

__ADS_1


Ayun tersenyum mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Faiz, sungguh sangat tidak sopan sekali. Dia lalu kembali ke meja kasir untuk mengambil perhiasan yang sudah dia bayar.


"Ayo, ikut tante keluar! Kau tidak boleh membuat keributan di sini," ajak Ayun membuat Faiz mengernyit dengan tidak suka.


Jangan-jangan wanita itu benar-benar mengenalnya? Atau, wanita itu adalah salah satu orang yang ingin mendekatinya karena tertarik dengan sang papa? Membuat Faiz langsung tersenyum sinis.


"Aku tidak mau!" tolak Faiz. Seenaknya saja wanita itu mengajaknya pergi, memangnya siapa dia?


Ayun menghela napas berat, dia lalu mengatakan pada pihak keamanan bahwa dia yang akan mengurus Faiz membuat laki-laki muda itu semakin naik darah.


"Jangan ikut campur urusanku! Kau-"


"Ambillah ini," ucap Ayun sambil memberikan paper bag ke hadapan Faiz yang berisi perhiasan yang laki-laki itu inginkan tadi.


Faiz menatap paper bag itu dengan diam, dia tahu jika isi di dalamnya adalah perhiasan. Ternyata wanita itu benar-benar menginginkan papanya, itu sebabnya memberikan hal seperti ini padanya.


Tanpa mengucapkan apa-apa, Faiz langsung mengambil paper bag tersebut dan beranjak pergi dari tempat itu membuat Ayun merasa terkejut.


Tentu Ayun tidak bisa membiarkan Faiz pergi begitu saja, setidaknya pemuda itu harus mengucapkan terima kasih padanya. Bukankah sangat tidak sopan jika langsung pergi tanpa mengucapkan terima kasih?


Faiz langsung berbalik dan menatap ke arah wanita itu dengan tajam. "Kau tidak akan mendapatkan apapun dengan melakukan ini padaku. Jika kau menginginkan papaku, maka dekati saja dia."


Ayun tercengang saat mendengar ucapan Faiz. Menginginkan papanya? Dia sama sekali tidak mengerti kenapa pemuda itu bisa berbicara sedemikian rupa padanya.


Faiz berdecih lalu kembali melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari tempat itu. Memangnya, apalagi yang wanita itu inginkan selain papanya? Cih, sungguh trik yang sangat murahan sekali.


Namun, dia kembali menghentikan langkahnya saat mengingat sesuatu. "Oh ya, aku akan mengatakan pada papa untuk membayar uangmu ini. Aku tidak suka berhutang pada orang lain!" ucap Faiz dengan ketus.


Ayun semakin dibuat tidak mengerti dengan apa yang Faiz ucapkan. Namun, dia memahami satu hal. Bahwa laki-laki itu benar-benar sama sekali tidak punya sopan santun pada yang lebih tua, benar-benar membuatnya merasa geram.


Faiz lalu berjalan keluar dari pusat perbelanjaan itu menuju parkiran. Sebelum menaiki motornya, dia memasukkan paper bag itu ke dalam tas agar tidak terjatuh, karena perhiasan itu adalah hadiah untuk seseorang yang sangat dia sayangi.


Setelah selesai, dia segera naik ke atas motor dan bersiap untuk pergi. "Apa yang kau lakukan?" tanya Faiz dengan tajam saat tiba-tiba Ayun berdiri tepat di depan motornya, dan kapan pula wanita itu mengikutinya?


Ayun tersenyum sambil menahan kekesalannya. Dia bahkan sampai mengejar laki-laki itu karena merasa geram.

__ADS_1


"Faiz, tante tidak tahu apa yang sejak tadi kau katakan. Tapi, bukankah ucapanmu itu tidak sopan?" ucap Ayun dengan penuh penekanan membuat Faiz menjadi benar-benar kesal.


"Tante memberikan itu bukan karena menginginkan papamu, tapi tante tidak akan menyangkal jika tante memang mengenal papamu. Anggap saja itu sebagai hadiah, jadi jangan berkata seperti itu lagi pada orang lain ya, Faiz. Itu tidak boleh, dan jangan memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan kau. Itu sangat tidak sopan, tante harap Faiz memahaminya," ucap Ayun dengan pelan. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu tanpa menunggu jawaban dari Faiz.


Semoga saja Faiz bisa mengerti dengan apa yang Ayun katakan, karena jika Faiz berkata seperti itu pada orang lain, bisa-bisa orang tersebut akan marah dan menghardiknya.


"Apa-apaan wanita itu, bikin kesal saja!" ucap Faiz dengan ketus. Dia lalu segera menaiki kuda besinya dan melaju pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah selesai membeli hadiah, Ayun bergegas pergi ke rumah papa Abbas. Sepanjang perjalanan dia terus memikirkan tentang Faiz, pantas saja Fathir selalu bertengkar dengan putranya itu. Ternyata sikap Faiz memang menyebalkan dan tidak sopan.


"Dia masih seumuran dengan Adel, tapi kenapa sikapnya seperti itu?" gumam Ayun. Dia lalu ingat dengan permintaan Fathir beberapa waktu yang lalu, haruskah Adel benar-benar mengawasi Faiz?


Entahlah, Ayun jadi merasa pusing sendiri. Untuk saat ini, dia akan fokus menyiapkan kejutan untuk hari ulang tahun Nindi saja, dan hal lain biar dipikirkan nanti.


Beberapa saat kemudian, Ayun sudah sampai di tempat tujuan. Terlihat semua orang sudah berkumpul di rumah sang papa, terkecuali Nindi dan Keanu.


"Kenapa sampai maghrib Ibu baru datang?" tanya Adel dengan cemberut, dia sampai khawatir karena sang ibu tidak kunjung menampakkan diri.


"Ibu tadi beli hadiah dulu, Nak. Bagaimana, apa kejutannya sudah siap?"


Adel menganggukkan kepalanya, dia lalu menyuruh sang ibu untuk berganti pakaian dulu. Setelahnya baru mereka akan pergi ke kolam renang di mana kejutan sudah disiapkan untuk Nindi.


Dari kejauhan, Ayun melihat jika Fathir sedang berjalan ke arahnya. Sepertinya laki-laki itu akan segera pergi dari tempat ini.


"A-anda mau pergi, Tuan?" tanya Ayun.


Fathir menganggukkan kepalanya. "Iya. Apa pekerjaan Anda lancar?"


"Alhamdulillah lancar berkat buku-buku yang Anda berikan, jadi saya bisa lebih mudah memahami apa yang David katakan," jawab Ayun. Dia lalu ingat dengan pertemuannya dan Faiz tadi, haruskah dia mengatakannya pada Fathir?




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2