
Ayun langsung berdiri dari duduknya saat melihat Keanu sedang berjalan ke arahnya. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa gugup dan juga gelisah secara bersamaan saat melihat laki-laki itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Keanu saat sudah berdiri di hadapan Ayun, matanya melihat ke arah ruangan yang ada di di samping kanan. Sepertinya wanita itu sedang menunggu seseorang yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Ah, saya sedang-"
"Keluarga Nyonya Hasna!"
Ayun tidak dapat melanjutkan ucapannya saat mendengar suara seseorang yang menyebut nama ibunya, sontak dia berbalik dan langsung menghampiri Dokter yang ternyata sudah keluar dari ruangan sang ibu.
"Sa-saya, Dokter. Bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Ayun dengan cepat. Dadanya sudah berdegup kencang karena merasa khawatir dengan hasil pemeriksaan Dokter.
"Begini, Nyonya. Hasil pemeriksaan kami sesuai dengan laporan yang kami terima dari rumah sakit Husada, bahwasannya ibu Anda harus segera menjalani transplantasi ginjal karena ginjal beliau benar-benar sudah mengalami penurunan ke tahap yang mengkhawatirkan. Itu sebabnya kita harus segera melakukan operasi agar tidak membahayakan nyawa pasien," ucap Dokter itu menjelaskan.
Tubuh Ayun langsung lemas saat mendengarnya. Yah, dia sudah tahu bagaimana keadaan sang ibu saat ini. Namun, tetap saja jiwanya terguncang saat lagi-lagi Dokter mengatakan jika ibunya sedang tidak baik-baik saja.
Sementara itu, Keanu yang masih berada di tempat itu jelas mendengar semua yang Dokter katakan. Dia cukup terkejut saat mendengarnya, dan tidak menyangka jika orang tua wanita itu ternyata sedang sakit.
"Lakukan yang terbaik untuk merawat pasien, dan segera temukan ginjal yang cocok agar operasi bisa segera dilakukan," ucap Keanu tiba-tiba membuat Ayun langsung melihat ke arahnya dengan tajam, sementara Dokter itu mengangguk paham.
Dokter dan beberapa perawat yang bersamanya segera pergi dari tempat itu, meninggalkan Ayun dan Keanu yang saat ini sedang berhadapan.
Ayun menatap laki-laki itu dengan bingung. Kenapa Keanu berkata seperti itu pada Dokter? Seperti mengatakan untuk ibunya sendiri saja.
"Jangan berpikir terlalu banyak, aku mengatakannya supaya Dokter itu cepat pergi. Jika tidak maka dia tetap akan berdiri di sana dan terlambat melakukan pekerjaannya."
__ADS_1
Ayun terkesiap saat mendengar ucapan Keanu. "Ka-kalau gitu terima kasih, Tuan." Dia merutuki kebod*ohannya sendiri yang telah berpikir panjang ke mana-mana, padahal apa yang laki-laki itu ucapkan adalah benar.
Keanu menganggukkan kepalanya. Dia lalu menatap ke arah pintu ruangan yang ada di hadapannya. Jika Dokter tadi mengatakan yang sakit adalah ibunya Ayun, berarti wanita itu sekitar berumur 60 an tahun, sama seperti mertuanya juga. Lalu, apakah mereka bisa mencari ginjal yang sesuai untuk tranplantasi?
"Apa aku harus menolong wanita ini?" Keanu mulai mempertimbangkan apakah harus menolong Ayun atau tidak. Selama ini dia tidak pernah menolong seseorang tanpa mendapatkan keuntungan, jadi kali ini dia harus berpikir serius jika ingin menolong wanita itu.
Ayun yang ingin masuk ke dalam ruangan sang ibu terlihat bingung. Apalagi saat melirik ke arah Keanu yang tetap diam di tempat, tanpa mengatakan apa-apa. Sebenarnya laki-laki itu ingin apa lagi? Ingin menjenguk ibunya atau bagaimana? Kenapa hanya diam saja seperti patung?
"Em ... anu, Tuan-"
"Kalau gitu saya permisi," ucap Keanu sambil menganggukkan kepalanya. Dia lalu berjalan ke arah di mana Dokter yang memeriksa ibunya Ayun tadi pergi, tentu saja setelah pemikiran panjang dan perenungan yang matang.
Ayun tercengang, terpaku dan terpana saat melihat kepergian Keanu. Bukan berarti dia menyukai laki-laki itu, hanya saja apa yang Keanu lakukan benar-benar diluar prediksi pikirannya.
"Apa dia tersinggung denganku, itu sebabnya langsung pergi?" gumam Ayun dengan bingung dan bertanya-tanya.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Evan sudah sampai di rumah Nayla, bahkan sudah berhadapan dengan Rio yang mencegatnya di depan pagar depan rumah.
"Aku cuma ingin bertemu dengan Ayun dan anak-anakku, kau tidak punya hak untuk melarangku!" ucap Evan dengan tajam. Gurat kemarahan terlihat jelas di wajahnya, tetapi ditanggapi santai oleh Rio.
"Tentu saja aku punya hak. Ini rumahku, dan mereka adalah tamuku. Tentu aku punya hak untuk melarang siapapun yang ingin bertemu dengan mereka, termasuk parasit sepertimu,"
"Apa?" Pekik Evan dengan tidak percaya. Kedua tangannya mengepal kuat menahan kemarahan, tentu saja dia marah karna dikatai parasit oleh laki-laki sok hebat yang saat ini ada di hadapannya.
"Sebenarnya kau ini lelaki seperti apa sih, hah? Lelaki kurang belaian atau bagaimana? Sudah punya istri baru, tapi masih saja menjilat lud*ah sendiri dengan mencari istri lama," cibir Rio dengan senyum mengejek, membuat kobaran api kemarahan Evan semakin menyala dahsyat.
__ADS_1
"Tutup mulutmu! Kau tidak berhak-"
"Tentu saja dia berhak, Ayah!"
Deg.
Evan langsung berbalik saat mendengar suara seseorang yang sangat dia kenali, dan betul saja, terlihat Ezra sudah berdiri di belakang tubuhnya.
"Ezra? Kau dari mana saja, Nak?" tanya Evan dengan nada suara yang mulai turun, tidak seperti tadi yang sampai membuat urat-uratnya menonjol kepermukaan.
Ezra menatap sang ayah dengan nyalang. Sebenarnya apa lagi yang ayahnya inginkan, kenapa beliau tidak bisa membiarkan mereka hidup dengan tenang?
"Bisa tolong pinggirkan mobil Ayah? Itu menghalangi mobil Om Rio yang akan masuk ke dalam rumah," ucap Ezra dengan penuh penekanan. Lain yang ditanya, lain pula ucapan yang keluar dari mulutnya.
Evan terdiam sesaat untuk menenangkan diri. Saat ini dia ingin mengambil hati anak-anaknya agar mau ikut pulang, jadi tidak boleh marah-marah.
"Ezra, ada sesuatu yang ingin-"
"Tolong, tolong dengan sangat pergilah dari tempat ini!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.