
Evan menatap sang ayah dengan nyalang. Ingin membantah, tetapi tidak punya kata-kata yang pas untuk di katakan. Akhirnya dia memilih untuk pergi dari tempat itu menuju kamarnya. Bukankah dalam keadaan seperti ini seharusnya sebagai orang tua mereka membantu? Tetapi kenapa ayahnya malah berkata seperti itu?
"Si*alan!"
Brak.
Evan melemparkan tas kerjanya dengan kasar saat sudah tiba di kamar. Dia benar-benar sangat kesal dan marah saat ini. Kenapa, kenapa tidak ada satu pun orang yang mengerti kesusahan yang sedang dia alami? Kenapa mereka malah menyalahkannya tentang semua kesia*alan ini?
"Brengs*ek, bajing*an!" teriak Evan dengan kekesalan yang memuncak. Ingin sekali dia menghancurkan semua yang ada di hadapannya saat ini. Kenapa semua tidak berjalan seperti apa yang dia inginkan?
"Mas, apa kau baik-baik saja?"
Evan terkesiap saat mendengar suara Ayun, dia lalu menoleh ke arah samping dan terkejut melihat keberadaan wanita itu di sana. "A-Ayun, kau di sini?"
"Tenanglah, semua pasti akan baik-baik saja. Sekarang mandi dan tenangkan pikiran, aku akan menyiapkan makan malam istimewa untuk Mas. Setelah itu istirahat, dan besok baru kita cari jalan keluarnya bersama-sama."
Evan terpaku dengan perasaan hangat saat mendengar apa yang Ayun katakan. Namun, seketika bayangan itu hilang tertiup angin dan menyisakan ruangan hampa yang menyedihkan.
"Aarrgh!" Evan kembali berteriak dengan frustasi saat sadar bahwa apa yang dia dengar dan lihat hanya ilusinya saja. Kenapa disaat seperti ini dia malah membayangkan dan mendengar kata-kata yang selalu Ayun ucapkan dulu?
"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Atau aku akan menjadi gila," gumam Evan sambil mencoba untuk menenangkan diri. Dia harus menyelesaikan masalah ini satu persatu, atau dia akan benar-benar hancur.
__ADS_1
Pada saat yang sama, Ayun sudah bertemu langsung dengan Bram di kafe yang ada di samping sekolah Adel. Ezra dan Adel juga ada di tempat itu, karena tidak mau pergi dan ngotot ingin tahu apa yang terjadi pada ayah mereka.
Bukan hanya Bram saja yang datang menemui mereka, tetapi David juga ikut bersamanya karena memang mereka satu mobil.
Bram lalu menyuruh David untuk menceritakan apa yang sudah terjadi di kantor mereka, apalagi masalah mereka sampai ke tangan polisi dan kemungkinan pelakunya akan dipenjara.
Ayun dan kedua anaknya tercengang saat mendengar apa yang David katakan, terutama Ayun yang merasa aneh karena baru kali ini Evan kehilangan berkas penting seperti itu.
"Ba-bagaimana mungkin dia bisa kehilangan berkas penting seperti itu? Dan, dan kenapa dia bisa sampai menuduhmu, David?" tanya Ayun dengan tidak mengerti. Memang, siapa saja bisa menjadi tersangka kejahatan walaupun karyawan setia seperti David. Hanya saja, kenapa Evan semudah itu menuduh David yang telah bekerja bertahun-tahun dengannya?
David menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu, Buk. Tapi saya berani bersumpah kalau bukan saya yang mengambilnya, dan saya juga sangat sakit hati dengan apa yang dia lakukan." Dia berucap dengan jujur.
David langsung tersenyum miris. Rasa sakit hatinya bahkan sudah menutup semua rasa simpati yang dia punya. Persetan dengan laki-laki itu, yang jelas saat ini tujuan hidupnya adalah untuk membalas apa yang sudah Evan lakukan.
"Besok Anda dan juga anak-anak Anda akan dipanggil ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Apa saya harus menyiapkan pengacara?" tanya Bram. Kasus pidana seperti ini bukanlah keahliannya, tetapi dia punya banyak teman yang ahli dalam tindak pidana.
Ayun menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Pak. Saya dan anak-anak sama sekali tidak tahu tentang berkas itu, jadi tidak akan ada masalah yang terjadi."
Bram mengangguk paham. Kemudian mereka semua bubar barisan dan pergi ke tempat masing-masing. Ayun menaiki taksi menuju rumah sakit, sementara Ezra dan Adel memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, sesuai dengan surat panggilan dari pihak kepolisian. Ayun dan kedua anaknya berangkat menuju kantor polisi dengan menggunakan taksi.
Sama halnya dengan mereka, saat ini Sherly dan Sella juga dalam perjalanan menuju kantor polisi. Semalaman Sherly tidak bisa tidur saat menerima surat panggilan itu, apalagi nomor ponsel Evan tidak aktif membuatnya dilanda ketakutan.
"Tenangkan dirimu, Sherly. Kalau kau terus seperti ini, mereka semua akan tahu kalau kau yang mengambilnya," ucap Sella dengan tajam. Sejak semalam dia tidak bisa tidur gara-gara mengurus Sherly yang terus saja gelisah dan takut.
"Bagaimana aku bisa tenang, Ma. Bagaimana kalau mereka tau dan aku dipenjara?" balas Sherly dengan ketus. Dia sampai tidak bisa bawa mobil sendiri karena gemetaran.
Selle menghela napas kasar. "Sekarusnya kau berpikir dulu sebelum melakukan itu. Udah kayak gini baru kau ketakutan, semua 'kan kesalahan mu sendiri." Dia menjadi emosi. Hidupnya terus mengalami kesusahan gara-gara ulah Sherly, dia bahkan sudah diambang kemiskinan sekarang.
Sherly mengusap wajahnya dengan kasar. Dia harus menenangkan diri sebelum semuanya tahu, terutama Evan. Namun, kenapa laki-laki itu sampai bawa-bawa polisi seperti ini sih? Bukankah itu hanya pelelangan biasa saja? Bahkan Evan sama sekali tidak menghubunginya sampai sekarang.
"Tenanglah. Tidak akan terjadi apapun, dan aku pasti bisa mengatasi semua ini dengan baik. Tuhan, tolong bantu aku sekali ini saja. Aku mohon."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1