
Evan terkesiap saat mendengar seseorang menyebut namanya. Dia lalu mendongakkan kepala dan terkejut saat melihat mantan partner bisnisnya sedang berdiri tepat di hadapannya.
"Anda terkejut karena melihat saya?" tanya laki-laki bernama Anton itu. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, dia langsung duduk tepat di hadapan Evan.
Evan terdiam saat mendengar pertanyaan laki-laki itu. Dia memilih untuk diam dan tidak menanggapinya karena tidak mau tersulut emosi.
"Kenapa diam, apa kau sudah jadi bisu setelah bangkrut?" cibir Anton dengan sarkas. "Kau tahu, Evan. Berita tentangmu sangat menggemparkan kami, loh. Kau benar-benar hebat." Dia mengacungkan dua jempol tepat di hadapan Evan.
Evan terdiam dengan kedua tangan terkepal erat. Tidak, dia tidak boleh lagi membuat masalah. Lebih baik segera pergi dari tempat ini sebelum laki-laki kurang ajar itu membuat masalah.
"Maaf, Anton. Saya duluan," ucap Evan sambil beranjak bangun dari kursi.
Evan menghela napas lega saat bisa mengendalikan emosinya sendiri, walau pun rasanya ada sesuatu yang ingin meledak di dalam tubuhnya.
"Kenapa kau buru-buru, Evan? Apa kau takut ditangkap polisi lagi karena bicara denganku?"
Deg.
Ayun dan David yang sedang menikmati makan siang mereka langsung menoleh ke arah kanan saat mendengar suara seseorang, dan kedua mata mereka terbebelak saat melihat ada Evan di tempat itu.
"Mas Evan?" gumam Ayun.
Orang-orang yang berada di tempat itu juga ikut memperhatikan ke arah Evan, tentu saja mereka merasa terusik dengan suara kuat yang terdengar beberapa saat yang lalu.
"Ayolah, kenapa kau buru-buru sih? Kau 'kan harus berbagi pengalaman dulu denganku. Aku ingin tahu bagaimana rasanya tinggal di dalam penjara, atau bagaimana rasanya saat mempunyai dua istri dan bermain petak umpet bersama mereka. Aku sangat penasaran," ucap Anton lagi.
Orang-orang yang tadinya merasa terusik kini mulai berbisik-bisik sambil menatap ke arah Evan, seolah-olah ikut menghakimi dengan apa yang Anton katakan tadi.
Ayun yang sejak tadi memperhatikan benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Bisa-bisanya laki-laki itu mempermalukan orang lain di depan umum, apalagi membuka aib orang lain seperti itu.
David juga tampak memperhatikan ke arah Evan. Dia merasa bingung melihat reaksi mantan bosnya itu, apa terjadi sesuatu dengannya?
"Cih, untuk apa aku peduli?" gumam David, dia lalu kembali menikmati makanan yang ada di hadapannya.
"Woy, Evan! Kau benar-benar keterlaluan ya, bagaimana mungkin kau bisa mengabaikanku seperti ini? Dasar laki-laki tidak berguna!" umpatnya dengan kesal.
__ADS_1
Kedua tangan Evan semakin mencengkram dengan kuat. Wajahnya berubah jadi merah padam, dengan urat-urat yang menonjol di sekitaran leher.
"Lihat aku, dasar brengs*ek!"
"Hentikan!"
Evan yang sudah berbalik dan siap memberikan pukulan untuk Anton, mendadak jadi diam saat melihat seorang wanita sedang berdiri di hadapannya. Tepat di tengah-tengah antara dia dan juga laki-laki itu.
"Heran yah, lihat laki-laki jaman sekarang. Kelakuan kok kaya banci, taunya nyeritain keburukan orang terus," ucap seorang wanita yang masih berusia sekitar 20 an tahun.
"Kau bilang apa?" pekik Anton dengan tidak terima. Beraninya wanita itu mengatainya banci?
Wanita itu tersenyum sambil bersedekap dada. "Memangnya hobimu apa, Tuan. Menceritain orang lain, mengungkit masalahnya, lalu membongkar aibnya. Begitu kan?"
Anton mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dia mulai tersulut Emosi atas apa yang wanita itu katakan.
"Beraninya kau-"
"Cukup. Jangan membuat keributan di restoran ini!" seru manager dari restoran membuat Anton tidak jadi membalas ucapan wanita itu.
"Cih, dasar laki-laki lemah!" ucap Anton dengan sarkas. Dia lalu pergi meninggalkan tempat itu sambil menggerutu dan tetap mengumpati Evan.
"Sepertinya ada sedikit perubahan dengan mantan suami Anda, Buk," ucap David setelah selesai menyantap semua makanannya.
Ayun tersenyum mendengar ucapan David. "Syukurlah kalau dia berubah menjadi yang lebih baik lagi." Dia juga ikut merasa senang.
David mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dia mengajak Ayun untuk naik ke ruang pribadi yang ada di lantai dua, karena mereka akan bertemu dengan seseorang di ruangan itu.
Sementara itu, Evan yang sudah keluar dari restoran berusaha untuk mengejar wanita yang sudah menolongnya tadi.
"Tunggu, tunggu sebentar!" ucap Evan sambil berdiri tepat di hadapan wanita tersebut.
Wanita itu mengernyitkan kening heran saat melihat Evan berdiri tepat di hadapannya. "Maaf, Anda mau apa?" Dia bertanya dengan ketus.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih untuk-"
__ADS_1
"Tidak perlu. Saya melakukannya bukan untuk menolong Anda, tetapi untuk menghormati sesama manusia. Kenapa Anda diam saja direndahkan seperti itu?" tanyanya dengan sarkas.
Evan terdiam. Tidak disangka jika wanita itu berkata sedemikian rupa padanya. Memang sih, dia hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Akan tetapi, itu adalah cara agar tidak membuat masalah.
"Sudahlah, intinya hargai dan hormati diri Anda sendiri dan sesama manusia, Tuan. Dan Anda tidak boleh diam saja jika harga diri Anda diinjak-injak," ucap wanita itu kemudian. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu menuju kafe yang ada di sebrang jalan.
"Tunggu, kenapa laki-laki tadi mirip dengan wajah seseorang yah?" gumam wanita itu dengan heran. Sudahlah, terserah saja mau mirip atau tidak. Dia juga tidak peduli.
Evan menggelengkan kepalanya melihat wanita itu. Memang mudah saja bicara seperti itu, tetapi sangat susah untuk mengendalikannya.
Dia lalu berjalan ke arah mobilnya dan bergegas pergi dari tempat itu. Seharian ini dia berkeliling kota untuk melihat berbagai macam usaha masyarakat, dan mengamati bisnis apa yang paling disukai oleh orang-orang.
Setelah Evan pergi, sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan restoran itu. Lelaki yang mengendarai motor tersebut segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo, Riana. Kamu ada di mana?" tanya Ezra sambil membuka helm yang masih terpasang dikepala. "Aku sudah di depan restoran ini, cepat keluar." Dia berucap dengan kesal.
"Aku ada di kafe sebrang restoran itu, ke sini aja," balas Riana dari sebrang telepon.
"Dasar. Tadi katanya di restoran ini, sekarang udah di kafe. Gak jelas," gerutu Ezra dengan kesal. Sudah dipaksa suruh jemput, malah masih juga merepotkan.
"Tadi itu ada keributan di sana, jadi aku pindah ke sini."
"Benarkah? Apa kau tidak apa-apa?" tanya Ezra dengan wajah panik. Dia lalu mematikan panggilan itu dan berlalu pergi ke kafe yang ada di sebrang jalan, untuk melihat langsung bagaimana keadaan Riana.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Fathir sedang duduk di kursi belajar Faiz. Sudah seharian ini dia terus menemani putranya itu walau Faiz sama sekali tidak menganggap keberadaannya, dia bahkan sampai tidak masuk kerja demi untuk menemaninya.
"Makanlah sedikit, kau harus minum obat," ucap Fathir untuk yang kesekian kalinya, tetapi tidak ada sama sekali pergerakan dari seseorang yang sedang berada di balik selimut.
Fathir menghela napas kasar. Susah sekali mengurus anak keras kepala seperti Faiz, bersyukur sekali dia punya ibu yang bisa mengurus anak kurang ajar itu.
"Kau mau makan atau tidak?" tanya Fathir kembali. "Ya sudah kalau tidak mau, biar papa aja yang makan."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.