
Hati Evan bergetar mendengar ucapan Fathir. Bukan artinya dia jatuh cinta pada laki-laki itu, tetapi dia merasa tertegun karena Fathir mau memberikan nasihat untuknya.
"Sudahlah, terserah kau mau melakukan apa. Lagi pula itu tidak ada hubungannya denganku, yang jelas sekarang mereka sudah menjadi milikku. Baik mantan istrimu, atau pun anak-anakmu," sambung Fathir dengan penuh kesombongan.
Evan tersenyum simpul, dia sama sekali tidak merasa marah atau tersinggung dengan ucapan Fathir, malah sebaliknya. Dia merasa jauh lebih tenang dengan semua yang laki-laki itu ucapkan.
Tanpa mereka berdua sadari, sejak tadi Ayun, Adel, dan juga Faiz mendengar percakapan mereka dari balik dinding.
Kekaguman dan rasa cinta Ayun terhadap Fathir terasa semakin besar saat melihat apa yang laki-laki itu lakukan, dia senang karena Fathir mau memberi nasihat kepada Evan.
Lain hal dengan Adel, tampak gadis kecil itu terdiam dengan kepala tertunduk dan mata berkaca-kaca. Merasa sedih mendengar percakapan antara Fathir dan ayahnya.
Faiz yang ada di samping Adel langsung menggenggam sebelah tangan gadis itu, seolah memberikan dukungan dan kekuatan agar Adel bisa menghadapi semua masalah yang sedang terjadi.
"Ayo, Sayang! Kita kembali ke sana." Ayun lalu mengajak Adel dan Faiz untuk menjauh dari tempat itu, agar Fathir dan Evan tidak tahu jika mereka mendengar semuanya.
Setelah bicara dengan Evan, Fathir kembali menghampiri Ayun dan yang lainnya. Dia melirik ke arah belakang di mana Evan sedang mengikutinya, lalu tersenyum senang karena laki-laki itu mau mengikuti ucapannya.
Sebenarnya tidak ada untungnya Fathir melakukan semua itu, hanya saja dia merasa kasihan pada Adel dan Ezra. Dia bisa menjadi seorang ayah untuk mereka, dan bisa juga memberikan kebahagiaan yang berlimpah.
Namun, Fathir tidak mau masih ada masa lalu yang tersisa. Apalagi masa lalu buruk yang terus menjadi penyakit hati untuk mereka. Bagaimana mungkin dia bisa menjalani bahtera rumah tangga yang bahagia sementara anak-anak sambungnya masih menderita?
Walau mereka tersenyum dan ikut bahagia dengan pernikahannya dan Ayun, tetapi hati mereka tetap tidak bisa berbohong. Masih ada luka yang harus disembuhkan, dan dia bukanlah orang yang bisa menyembuhkannya, melainkan ayah kandung mereka sendiri.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu," ucap Fathir.
Ayun mengangguk dengan senyum hangat, lalu melirik ke arah Evan yang sudah berdiri di samping Fathir. Begitu juga dengan Adel dan Faiz.
Evan mencoba untuk tersenyum ramah pada mereka semua, terutama Adel. "Maaf kalau aku mengganggu kalian, aku hanya ingin mengucapkan selamat untuk Adel." Dia menatap Adel penuh cinta.
"Tentu saja tidak mengganggu," sahut Ayun. Dia lalu menepuk bahu Adel dengan lembut.
Evan mengangguk. "Selamat untuk kelulusanmu, Nak. Dan selamat juga karna sudah menjadi peringkat ketiga, Ayah sangat bangga padamu. Terimalah." Dia memberikan buket bunga yang sejak tadi dipegang.
Adel terdiam, dan hanya menatap buket bunga itu dengan nanar. Dia sendiri juga sudah memegang buket bunga pemberian Fathir.
"Bi-biarkan aku yang bawakan Om, Adel pasti susah bawanya," ucap Faiz setelah beberapa saat Adel tetap tidak bergerak mengambil buket bunga itu.
__ADS_1
"Ah, kalau gitu terima kasih," sahut Evan. Dia lalu memberikan buket bunga itu pada Faiz sambil tetap tersenyum dan tidak goyah dengan apa yang Adel lakukan.
"Ayo, Bu! Katanya kita mau makan siang," ajak Adel sambil melihat ke arah sang ibu, dan sama sekali tidak memperdulikan ayahnya.
Ayun menghela napas kasar. "Ya sudah, sana kemobil duluan. Tapi, ucapkan terima kasih dulu pada ayah." Dia menatap penuh harap.
Adel kembali diam. Lidahnya langsung terasa kaku untuk mengiyakan apa yang ibunya katakan, membuat sang ibu menatap sedih.
"Te-terima kasih." Adel langsung berlari ke mobil setelah mengucapkan terima kasih pada ayahnya, membuat mereka semua tersenyum senang, terutama Evan.
Evan menatap Adel yang sudah menjauh dengan berbinar-binar. Seperti ini saja sudah membuatnya bahagia, dan mungkin benar apa yang Fathir katakan padanya beberapa saat yang lalu.
"Maaf kalau Adel seperti itu, Mas. Dia butuh waktu untuk-"
"Tidak, Ayun. Jangan meminta maaf," potong Evan. "Aku sudah sangat senang dengan apa yang dia katakan tadi, dan aku tidak berharap lebih. Aku sadar bahwa kesalahanku sudah sangat banyak padanya, juga padamu."
Ayun terdiam. Dia tidak ingin lagi membahas tentang masa lalu, apalagi kini ada Fathir di antara mereka yang sejak tadi menatap dengan tajam.
"Ka-kalau gitu kami permisi," ucap Ayun kemudian. Firasatnya mengatakan jika dia harus segera pergi dari tempat ini.
"Baiklah, hati-hati," sahut Evan.
"Aku juga ingin mengucapkan banyak terima kasih padamu, Fathir. Terima kasih karena sudah menyadarkanku, dan aku berhutang banyak padamu," ucap Evan dengan tulus.
Fathir tersenyum sinis. "Yah, aku memang sudah banyak membantu agar kau bisa memperbaiki hubunganmu dengan anak-anakmu. Tapi, bukan berarti kau juga memperbaiki hubunganmu dengan Ayun!" Dia berucap dengan penuh penekanan. "Dia calon istriku, aku tidak suka melihatmu dekat dengannya."
Evan terkekeh pelan mendengar ultimatum dari Fathir, membuat laki-laki itu semakin murka.
"Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi," balas Evan dengan menahan senyumnya.
Fathir langsung melangkah pergi untuk menyusul Ayun dan yang lainnya, meninggalkan Evan seorang diri di tempat itu.
"Fathir, Fathir. Aku tidak menyangka kau bisa sangat mencintainya seperti itu," gumam Evan. Tawa yang ada diwajahnya seketika berubah sendu. "Tapi memang dia pantas untuk dicintai seperti itu, aku saja yang bod*oh karena sudah menyia-nyiakannya." Dadanya kembali berdenyut sakit.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Keanu kembali mengunjungi Fathan untuk membicarakan masalah Rian. Namun, kali ini dia datang bersama dengan Abbas yang juga ingin membantu menghancurkan laki-laki itu.
"Mungkin besok aku sudah harus kembali ke penjara," ucap Fathan sambil menunjuk ke arah dua orang polisi yang sedang bertugas di depan ruangannya.
__ADS_1
Ah, pantas saja sejak tadi keanu melihat ada beberapa polisi yang berlalu-lalang di rumah sakit, ternyata sedang memeriksa keadaan Fathan.
"Tapi hebat juga selama ini kau tidak dijaga dengan ketat, mengingat bahwa kasusmu adalah pembunuhan," ucap Abbas.
Fathan tersenyum. Tentu saja semua itu bisa diselesaikan dengan uang, itu sebabnya dia tetap berada di ruang ICU walau keadaannya sudah membaik.
"Jadi apa yang mau kau katakan?" tanya Keanu kemudian.
Fathan lalu menceritakan tentang apa-apa saja yang dia ketahui tentang Rian. Mulai dari hubungan laki-laki itu dengan geng bermotor, sampai hubungan Rian dengan pengedar nark*oba.
"Dia menjadi salah satu donatur terbesar untuk geng motor, tapi aku tidak tahu geng motor apa yang berada dalam genggamannya. Dan dia juga berhubungan dengan Nico, mungkin kau sudah tahu tentang itu."
Keanu mengangguk. "Kalau hanya ini saja, maka aku tidak bisa menghancurkannya." Informasinya sangat kurang.
"Tidak, ada satu hal lagi yang sangat penting. Tapi aku juga tidak tahu pasti keberadaan tempat itu," sahut Fathan.
Fathan lalu mengatakan jika Rian punya sebuah bar yang lumayan besar. Bar itu bukan hanya menyediakan minuman, tetapi juga wanita malam.
"Bar itu sudah biasa, orang lain juga-"
"Tidak, bar itu berbeda," potong Fathan dengan cepat. Dia lalu mengatakan jika pernah menguping obrolan Rian dengan anak buah laki-laki itu, dan mereka sedang membahas tentang wanita-wanita yang ada dibar.
Bukan hanya wanita dewasa saja yang ada di sana, tetapi juga gadis-gadis bahkan anak di b*awah u*mur. Ada yang sebagian diculik, dan ada juga yang di dapat dari hasil rampasan karena orangtua mereka tidak bisa membayar utang.
"Kau, kau bilang apa?" tanya Abbas dengan tajam. Rahangnya mulai mengeras dengan wajah merah padam.
"Itu yang saya dengar, Tuan Abbas. Dia memerintahkan anak buahnya untuk memberi pelatihan pada anak-anak itu, agar bisa melayani tamu dengan baik. Lalu tetap menjaga keamanan agar mereka tidak bisa keluar dari lokasi bar."
"Bajing*an!" umpat Abbas dengan emosi yang membara, begitu juga dengan Keanu yang baru mengetahui bahwa Rian telah melakukan eksploit*asi pada a*nak-anak. "Lalu kenapa selama ini kau diam saja, Fathan? Kenapa kau diam saat mengetahui perbuatan biad*ab itu?" Dia menatap Fathan dengan mata memerah.
"Maaf, Tuan. Saat itu saya masih sangat percaya padanya, dan saya tidak ingin ikut campur dengan apa yang dia lakukan karena tidak berkaitan dengan perusahaan. Apalagi dia sudah benar-benar sangat loyal pada saya."
Abbas menggeram marah. Dia lalu beralih melihat ke arah Keanu. "Lakukan apapun untuk menghancurkan bajing*an itu, Ken. Jangan pikirkan apa yang terjadi, karena papa yang akan membereskan semua perbuatanmu."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.