
Seketika suasana berubah menjadi hening saat Fathir mengutarakan keinginannya di hadapan semua orang. Tidak ada ketegangan, kegugupan, dan juga rasa takut diwajah laki-laki itu. Bahkan dia mengatakannya dengan tegas, disertai senyum tulus dengan wajah berseri-seri membuat semua orang merasakan ketulusan dari ucapannya.
"Dengan mengucap bismillah, saya memohon keridhoan pada Allah untuk melangkahkan kaki datang ke rumah ini, dan dengan meminta izin pada Anda berdua, saya ingin menjadikan Ayun sebagai istri saya," ucap Fathir kemudian.
Perasaan Fathir terasa sangat lega karena sudah mengungkapkan semua keinginannya dengan baik dan lancar, hingga membuat semua orang merasa terharu, terutama Ayun yang kini menunduk dengan mata berkaca-kaca.
Abbas juga menatap Fathir dengan kagum. Hatinya merasa lega saat mendengar ucapan laki-laki itu, begitu juga dengan Hasna yang sudah berulang kali mengusap air matanya.
"Terima kasih karena sudah datang ke rumah kami ini, Fathir. Saya merasa terharu dengan apa yang kau katakan, juga merasa senang jika memang kau jatuh hati dengan putri saya Ayun," sahut Abbas. Dia lalu menoleh ke arah Ayun yang masih menunduk.
"Itulah putri kami Ayun, putri sulung yang sangat kami sayangi. Dia wanita yang mandiri dan tidak banyak bicara, dia juga wanita yang selalu menjaga harga diri dan akhlaknya. Sungguh dia wanita yang sangat pantas sekali untuk dicintai dan dibahagiakan."
Ayun langsung menegakkan kepalanya dan menatap sang papa dengan banjir air mata, dia merasa tertegun saat mendengar perkataan yang sangat menyentuh hati dari papanya itu.
Abbas tersenyum kala bersitatap mata dengan Ayun, dia lalu menganggukkan kepalanya dan kembali melihat ke arah Fathir.
"Kami memberi izin padamu untuk menikahi anak kami, Fathir. Tapi, alangkah baiknya jika yang punya badan sendiri yang menjawab keinginanmu tadi," sambung Abbas. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berpindah ke samping Ayun.
Semua orang tampak tegang saat melihat ke arah Ayun, terutama keluarga wanita itu yang merasa cemas jika Ayun belum siap untuk menerima pinangan Fathir.
"Ayun, putriku," ucap Abbas sambil mengusap puncak kepala Ayun, membuat Ayun menatapnya dengan sendu. "Malam ini, ada seorang laki-laki baik yang datang ke rumah kita untuk meminta izin agar bisa menikah denganmu, Nak. Papa dan ibu sudah memberi izin padanya, tapi kami menyerahkan semua keputusan ditanganmu. Apapun keputusan itu, papa dan ibu akan tetap mendukungnya." Dia tersenyum haru sambil mengusap air mata Ayun yang terus mengalir deras.
Ayun mengangguk sambil berusaha untuk menahan tangisannya, dia lalu menoleh ke arah Fathir yang sejak tadi menatapnya dengan penuh cinta.
Sesaat Ayun memejamkan kedua matanya, untuk kembali meyakinkan diri tentang jawaban yang akan dia berikan untuk Fathir.
Melihat Ayun diam, Fathir mulai dilanda gelisah. Dia yang sejak tadi merasa yakin, kini mulai goyah juga jika wanita itu masih belum siap untuk menerima cintanya.
"Bismillahirrahmanirrahim, dengan nama Allah, aku menerima lamaran saudara Fathir, dan insyaallah aku siap untuk menjadi istrinya," ucap Ayun dengan lirih.
Deg.
__ADS_1
Deg.
Deg.
Jantung Fathir berdetak kencang saat mendengar kata demi kata yang Ayun ucapkan. Dia benar-benar merasa tidak percaya dengan jawaban wanita itu, hingga membuatnya merasa jika semua ini tidak nyata.
"Alhamdulillah," seru Farhan dan semua orang yang ada di tempat itu.
Semua orang bersorak senang saat mendengar jawaban Ayun, lautan rasa syukur menggema di tempat itu, terutama dari Ezra, Adel, dan juga Faiz yang benar-benar merasa sangat bahagia saat mendengarnya.
"Selamat, Papa!" ucap Faiz dengan kuat sambil menubruk tubuh papanya dari belakang, membuat lamunan Fathir terhenti dan dia terlonjak kaget dengan apa yang putranya lakukan.
"Alhamdulillah, Sayang. Selamat untukmu," ucap Alma sambil menepuk bahu Fathir dengan pelan. Air mata kebahagiaan tidak bisa ditahan dan jatuh membasahi wajah, membuat Fathir tersadar jika apa yang terjadi saat ini benar-benar kenyataan.
Semua orang tertawa geli saat melihat raut wajah Fathir yang terlihat kebingungan, jelas saja laki-laki itu pasti merasa sangat syok karena lamarannya diterima oleh Ayun.
"Apa, apa Ayun benar-benar bersedia menikah denganku?" tanya Fathir pada mamanya dengan pelan, dia masih benar-benar sulit untuk mempercayai semuanya.
Mendengar jawaban sang papa, Fathir langsung menoleh ke arah Ayun yang sejak tadi menatapnya dengan malu. Tampak wanita itu langsung menundukkan pandangan saat bersitatap mata dengannya.
"Ada apa, Fathir? Apa kau tidak percaya dengan apa yang sudah kau dengar tadi?" tanya Abbas sambil menggelengkan kepalanya.
Fathir ikut menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dengan lebar. "Tidak, Tuan. Sekarang saya sudah percaya, dan saya merasa sangat senang karena Ayun bersedia untuk menerima saya."
Semua orang ikut tersenyum senang mendengar ucapan Fathir, walau tadi mereka merasa gemas melihat reaksi laki-laki itu saat Ayun memberikan jawaban.
Setelah Ayun menerima lamaran Fathir, Alma langsung membuka seserahan yang dia bawa untuk Ayun.
Semua mata langsung menatap kagum saat melihat isi dari kotak beludru berukuran sedang yang dibuka oleh Alma. Terlihat ada satu set perhiasan yang tampak sangat berkilauan karena terbuat dari berlian asli, membuat siapa saja yang menatapnya merasa terpesona.
"Majulah, Nak. Tante akan memakaikannya untukmu," ucap Alma dengan lembut sambil meminta Ayun untuk maju.
__ADS_1
Ayun tercengang saat melihat perhiasan yang dibawa oleh Fathir dan keluarganya, semua itu benar-benar sangat mewah dan harganya pasti sangat mahal.
"Ta-tapi Tante, ini-"
"Majulah, Nak," potong Hasna sambil menepuk punggung tangan Ayun.
Ayun langsung menoleh ke arah sang ibu yang sedang menggelengkan kepala, seolah memberi kode bahwa dia tidak boleh menolak pemberian dari calon mertuanya.
Tanpa mengatakan apa-apa, Ayun langsung maju menghampiri Alma. Wanita paruh baya itu lalu memasangkan kalung, gelang, dan juga cincin ke jari manisnya membuat dadanya kembali berdegup kencang.
"Masyaallah, kau tampak sangat cantik sekali, Nak," ucap Alma sambil mengecup kening Ayun.
Ayun segera menyalim tangan calon mertuanya itu sambil mengucapkan terima kasih, tidak lupa dia melirik ke arah Fathir yang tersenyum hangat je arahnya.
"Ya Allah, aku tidak menyangka jika akan merasakan kebahagiaan seperti ini lagi." Ayun membalas senyum Fathir dengan tulus.
Setelah semua barang-barang itu diserahkan pada Ayun, kedua keluarga mulai mendiskusikan acara pernikahan untuk mereka. Apalagi sudah tidak ada lagi alasan untuk menundanya terlalu lama.
"Sesuai kesepakatan, pernikahan Ayun dan Fathir akan diadakan minggu depan. Jadi, mulai hari ini-"
"Maaf menyela ucapan Papa." Tiba Ayun bersuara membuat ucapan Abbas terpaksa berhenti.
"Ya, Sayang. Ada apa?" tanya Abbas dengan heran, begitu juga dengan semua orang yang ada di tempat itu.
"Maaf jika saya sudah berlaku tidak sopan, tapi saya ingin menyampaikan sesuatu pada semuanya," ucap Ayun sambil menatap semua orang, lalu tatapannya berhenti saat mengarah pada Fathir. "Saya ingin pernikahan kami diadakan dalam waktu dua minggu lagi."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.