
Api kemarahan Evan semakin menyala dahsyat saat mendengar ucapan Bram. Dengan cepat dia mencengkram kerah kemeja laki-laki itu, membuat semua orang terkesiap.
"Beraninya kau mengatakan itu padaku!" bentak Evan. "Aku adalah pemilik usaha ini, dan semua ini adalah milikku!"
Brak.
Bram langsung mendorong tubuh Evan sampai cengkraman laki-laki itu terlepas, tentu saja dengan bantuan Ezra dan yang lainnya yang berusaha memisahkan mereka.
"Benar. Semua ini adalah milik Anda, tapi itu dulu. Karena sekarang semua ini adalah milik Buk Ayun dan kedua anaknya," balas Bram dengan penuh penekanan.
"Kau-"
"Hentikan, Evan!"
Evan tidak dapat melanjutkan ucapannya karena dipotong oleh sang ayah, sementara Abbas hanya diam sambil menikmati semua pertunjukan itu.
"Ada apa, Tuan Evan? Apa Anda tidak rela kehilangan harta Anda ini?" cibir Ezra dengan tajam, membuat Evan menatap miris. "Padahal sudah lama loh, Anda dan istri Anda itu menikmati semuanya. Lalu ibuku, sejak dulu tidak pernah menikmatinya. Jadi, bukankah sudah sepantasnya kalau semua ini menjadi milik Ibu?"
Evan tidak bisa membalas ucapan Ezra, seakan suaranya tercekat di tenggorokan. Dia hanya bisa menatap putranya itu dengan tajam, dan dibalas dengan tatapan penuh kebencian oleh Ezra.
"Tanda tangani semua berkas itu, Evan," ucap Endri tiba-tiba, membuat semua orang langsung melihat ke arahnya, terutama Evan yang menatap tidak percaya.
"Tapi ini semua tidak adil, Yah. Bagaimana mungkin mereka-"
"Bagian mana yang kau anggap tidak adil, Evan?" potong Endri dengan tajam, membuat Evan terdiam. "Kau lihat dia, dia adalah putra kandungmu. Darah dagingmu sendiri. Apa kau tidak rela memberikan hak putramu sendiri?" Dia menunjuk tepat ke arah Ezra.
Evan kembali diam dan tidak bisa membantah ucapan sang ayah, sementara Abbas tersenyum senang karena masih ada kebaikan dalam hati kedua orang tua lelaki itu.
"Harta ini bukan jatuh ketangan orang lain, tapi ke tangan putra dan putri kandungmu sendiri. Tapi kenapa kau tidak rela dan menolaknya, hah?" tanya Endri kembali, semakin memojokkan Evan.
__ADS_1
Endri menatap putranya itu dengan tajam. Sudah cukup, hentikan tentang pembahasan harta sampai di sini saja. Dunia tidak akan kiamat hanya karena Evan tidak lagi memiliki semua aset, dan laki-laki itu bahkan masih bisa bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan kekayaan yang lain.
"Lalu bagaimana dengan Suci?"
Semua orang tersentak kaget saat mendengar suara teriakan seorang wanita, dan langsung melihat ke arah pintu.
"Bagaimana dengan putriku? Dia juga anak kandung Evan, seharusnya kalian juga memikirkan masa depannya," ucap Sherly dengan tidak terima.
Abbas langsung tergelak saat mendengar ucapan Sherly, membuat semuanya merasa merinding. Bisa-bisanya wanita itu datang dan ikut campur, sangat tidak tahu diri sekali.
"Suci kau bilang?" tanya Abbas dengan smirik iblisnya. "Memangnya siapa kau dan Suci, hah? Kalian sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah ini, dan anakmu itu tidak ada hak sepeser pun atas harta putriku dan kedua cucuku!"
Deg.
Semua orang tersentak saat mendengar ucapan Abbas, terutama Evan yang menatap laki-laki paruh baya itu dengan heran dan bertanya-tanya.
"Pu-putri?" tanya Evan dengan tergagap.
Abbas tersenyum sinis. "Kalian dengarkan aku baik-baik." Dia menatap Evan dan Sherly secara bergantian dengan tajam. "Ya, dia adalah putriku. Ayun adalah putri kandungku."
Deg.
Evan dan Sherly tercengang saat mendengar pengakuan Abbas, begitu juga dengan Endri yang menatap laki-laki paruh baya itu dengan kedua mata membelalak lebar.
"I-itu, itu tidak mungkin." Lirih Sherly dengan tidak percaya. Pendengarannya pasti sudah rusak, hingga dia mendengar sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
"Terserah kalian mau percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya," sambung Abbas. "Sejak aku mengenal Ayun, aku sudah memberikan dukungan padanya. Apalagi sekarang, jelas aku akan memberikan semuanya untuk putriku sendiri. Dan juga, aku akan menghancurkan semua orang yang menyakitinya."
Dada Evan dan Sherly langsung berdegup kencang saat mendengarnya. Secara tidak langsung, Abbas memberikan peringatan dan ancaman untuk mereka. Bahwa laki-laki paruh baya itu akan menggancurkan siapa saja yang berani menyusik Ayun, termasuk mereka berdua. Namun, kenapa Ayun bisa menjadi anak Abbas?
__ADS_1
"Tidak, itu tidak mungkin," bantah Sherly. Selama bertahun-tahun hidup bersama dengan Abbas, dia sama sekali tidak pernah mendengar jika laki-laki paruh baya itu punya anak selain Nindi.
Abbas mengendikkan bahunya dengan tidak peduli. "Terserah padamu mau percaya atau tidak, Sherly. Jika kau ingin memastikannya, maka cobalah ganggu Ayun. Ah ya, aku bahkan belum membalas apa yang sudah kau lakukan pada putriku."
Sherly menalan salivenya dengan kasar saat mendengar ucapan terakhir Abbas. Rasa takut dan khawatir langsung menyelimuti hatinya, apa karena itu Abbas mengambil semua aset miliknya?
"Sudahlah, kami tidak punya waktu untuk semua ini. Cepat tanda tangani berkas itu, atau aku akan memaksamu untuk tanda tangan, Evan!" ucap Abbas dengan penuh ancaman.
Mau tidak mau, Evan terpaksa menandatangani semuanya walau tidak ikhlas. Dia bahkan masih tidak percaya dengan apa yang Abbas katakan, dan harus segera bertemu dengan Ayun untuk menanyakan tentang semua itu.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat David dan pengacaranya sedang berada di kantor polisi. Kemaren malam, dia sudah membicarakan semuanya dengan Bram, dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyerang Evan.
"Jadi, Anda ingin melaporkan kasus pencemaran nama baik?"
"Benar, Pak," jawab pengacara David yang bernama Suny. "Sebulan yang lalu, klien saya mendapat tuduhan dan fitnahan yang tidak berdasar dari atasannya. Beliau dipermalukan di hadapan banyak orang, dan membuat nama baiknya tercemar." Dia menjelaskan semua kejadian yang David alami dengan sedramatis mungkin.
Polisi itu menganggukkan kepalanya, lalu mencatat dan menerima laporan yang Suny dan David berikan padanya. "Baiklah, kami akan segera menyelidiki kasus ini." Dia lalu mengajak David ke dalam ruang interogasi untuk mendapatkan penjelasan tentang apa yang terjadi secara sigifikan.
David segera menjelaskan semuanya tanpa sisa. Mulai dari tuduhan yang Evan layangkan, sampai dia dibawa paksa oleh polisi di hadapan banyak orang yang membuat harga dirinya terinjak-injak.
"Mamp*us kau, Evan. Dengan ini, kau akan segera menuju gerbang kehancuran."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1