Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 6. Berkunjung ke Kantor.


__ADS_3

Setelah menanyakan kabar sang ibu dan berbincang cukup lama, Ezra berlalu pamit pada ibunya untuk pergi sebentar. Dia beralasan ingin menemui teman kuliahnya, agar sang ibu tidak bertanya terlalu banyak.


Ezra melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah sakit sambil mengirim pesan di aplikasi hijau pada seseorang. Dia mengatakan sudah berada di parkiran rumah sakit, dan akan menunggu di tempat itu.


"Ezra!"


Ezra memalingkan wajahnya ke arah samping kanan saat mendengar suara panggilan seseorang, dia lalu tersenyum dan menghampiri orang tersebut.


"Kakek udah lama nunggu?" tanya Ezra dengan tidak enak hati.


Abbas menggelengkan kepalanya sambil menepuk bahu sang cucu. "Tidak, kakek baru aja sampai. Ayo, kita berangkat sekarang!" Dia lalu mengajak Ezra untuk masuk ke dalam mobil.


Ezra menganggukkan kepalanya dan berlalu masuk ke dalam mobil kakeknya, mereka berdua lalu melaju pergi dari tempat itu untuk menemui Bram yang sudah menunggu di depan kantor Evan.


Hari ini, Bram mengajak Abbas dan juga Ezra untuk menemui Evan guna membahas malasah harta yang sudah dibagi menurut pengadilan. Awalnya dia ingin membicarakan masalah ini dengan Ayun dan Ezra saja, tetapi karena keadaan Ayun tidak memungkinkan, itu sebabnya dia meminta tolong pada Abbas.


Tidak berselang lama, Abbas dan Ezra sudah sampai di tempat tujuan. Terlihat Bram keluar dari mobil saat mereka sampai di tempat itu, lalu menyambut kedatangan mereka.


"Selamat pagi menjelang siang, Tuan. Maaf sudah mengganggu waktu Anda," ucap Bram dengan sungkan.


Abbas menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Bram. Saya senang karena kau memberitahu tentang hal ini." Dia menepuk bahu Bram dengan senyum tulus, karena merasa sangat berterima kasih atas kerja keras pengacara itu.


Bram ikut tersenyum senang karena pekerjaannya berjalan lancar, dia lalu mengajak Abbas dan Ezra untuk masuk ke dalam kantor Evan. Namun, sepertinya laki-laki itu sedang tidak berada di tempat.

__ADS_1


"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionis dengan ramah pada Bram dan Abbas, dia lalu mengernyitkan kening saat melihat kedatangan Ezra yang baru saja masuk ke dalam tempat itu.


"Selamat siang juga, Nona. Bisa kami bertemu dengan atasan Anda?" ucap Bram yang langsung mengatakan tujuan mereka datang.


"Maaf, Tuan. Tuan Evan saat ini sedang tidak berada di tempat," jawab wanita itu.


Bram lalu menanyakan di mana keberadaan Evan, yang langsung dijawab oleh wanita itu jika sejak semalam Evan belum datang ke kantor dan dia tidak tahu di mana atasannya saat ini.


Ezra tersenyum sinis saat mendengarnya. Tanpa mengatakan apa-apa, dia langsung saja berjalan masuk ke ruangan sang papa membuat Abbas dan yang lainnya menatap heran. Tentu saja tidak ada yang bisa menghentikan apa yang dia lakukan, karena kantor itu adalah milik orang tuanya.


"Bagaimana ini? Sepertinya kita harus segera mencari pekerjaan baru."


Langkah Ezra terhenti saat mendengar ucapan dari salah satu karyawan sang ayah yang berada di salah satu ruangan, dia lalu melirik ke arah ruangan itu dan terlihat ada beberapa orang di dalamnya.


Saat ini, terjadi beberapa masalah keuangan di dalam bisnis property itu. Proyek yang sedang berjalan bahkan tidak bisa untuk dilanjutkan, begitu juga dengan rencana pengembangan proyek baru yang terhalang karena dana.


"Lalu, bagaimana dengan gaji kita bulan ini? Jangan bilang kita tidak dibayar," ujar seorang wanita dengan panik bercampur kesal. Siapapun pasti akan merasa khawatir jika kantor tempat mereka mengalami masalah keuangan dan sedang menuju kebangkrutan.


Brak.


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu terlonjak kaget saat tiba-tiba pintunya dibuka dengan kasar oleh seseorang, kedua pupil mata mereka membulat sempurna saat melihat keberadaan Ezra, dengan wajah panik dan langsung beranjak berdiri.


"A-anda di sini, tuan?" ucap salah satu dari mereka dengan sungkan dan terkejut. Tidak biasanya Ezra datang ke kantor ayahnya, apalagi saat melihat raut wajah laki-laki itu yang sepertinya mendengar obrolan mereka tadi.

__ADS_1


Ezra menghela napas kasar dan mencoba untuk mengandalikan emosinya. "Kalian tidak perlu khawatir. Tetap kerjakan pekerjaan kalian, karena kantor ini tidak akan bangkrut." Dia berucap dengan tajam, membuat mereka semua yang menunduk langsung melihat ke arahnya.


"Maaf, Tuan. Bukannya saja mendo'akan atau tidak percaya dengan ucapan Anda, tapi kenapa Anda bisa mengatakan jika kantor ini tidak bangkrut sementara masalah keuangan semakin besar?" tanya seorang lelaki dengan lantang.


"Benar. Anda karena belum melihat bagaimana keadaan kantor belakangan ini, apalagi sudah tidak ada pak David lagi di sini," sambung yang lainnya.


Semua orang yang ada di tempat itu menyetujui apa yang wanita itu katakan, bahkan orang-orang yang berada di lapangan berulang kali menghubungi mereka tentang pembangunan yang terhenti.


"Baiklah, terserah kalian saja. Jika kalian mau mengundurkan diri maka silahkan pergi, tapi ingat apa yang aku katakan tadi baik-baik," ucap Ezra dengan penuh penekanan, dia lalu keluar dari tempat itu dengan perasaan kesal dan tidak nyaman.


Ezra lalu tersentak kaget saat melihat sang kakek dan Bram sedang berdiri di hadapannya. "Astaga, Kakek bikin kaget saja." Dia berucap dengan dada berdebar-debar.


Abbas tersenyum simpul saat melihat raut wajah Ezra yang terkejut. Ternyata sejak tadi dia dan Bram berada di tempat itu, dan mendengarkan apa yang cucunya katakan pada karyawan Evan.


"Kau tidak perlu khawatir dan memikirkan apapun, Nak. Fokus saja pada ibu dan juga kuliahmu, dan urusan yang lain biar kakek dan Bram yang mengurusnya."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2