
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga, di mana pernikahan antara Abbas dan Hasna akan dilaksanakan pada hari ini.
Terlihat keluarga besar dari masing-masing pihak sudah berkumpul di rumah Ayun, begitu juga dengan para tamu undangan yang sebagian juga mulai memadati lokasi pesta.
"Apa Ibu merasa gugup?" tanya Ayun sambil menggenggam tangan sang ibu, begitu juga dengan Yuni yang juga ada di dalam kamar itu.
Hasna menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. "Tentu saja ibu gugup, Nak. Rasanya seperti saat menikah dengan ayah kalian dulu."
Ayun dan Yuni tersenyum lebar saat mendengarnya, tentu saja mereka paham bagaimana rasanya diposisi ibu mereka saat ini.
"Tapi hari ini Ibu terlihat sangat cantik, seperti wanita yang masih berusia sama seperti kami," ucap Yuni yang langsung mendapat cubitan dari sang ibu. "Hah, kenapa aku dicubit Bu?" Dia kembali tergelak.
"Makanya, kalau bohong itu jangan kebangetan," sahut Hasna sambil menggelengkan kepalanya.
Ayun yang duduk di samping kanan Hasna tiba-tiba memeluk tubuhnya dengan erat, begitu juga dengan Yuni yang duduk di samping kirinya.
"Aku sangat bahagia melihat kebahagiaan diwajah Ibu, dan aku akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk Ibu," ucap Ayun dengan lirih. Kedua matanya langsung berkaca-kaca karena menahan kesedihan dan keharuan yang sedang terjadi.
Hasna terdiam sambil menggenggam tangan putri-putrinya, hatinya terasa hangat dengan apa yang mereka lakukan saat ini.
"Mbak Ayun benar, Bu. Kami selalu mendo'akan semua yang terbaik untuk Ibu. Terima kasih karena selama ini sudah menjadi Ibu yang hebat untuk kami, juga selalu memberikan kasih sayang yang tidak akan pernah bisa kami balas," sambung Yuni.
Tidak mudah menjadi seorang janda yang hidup dengan dua orang anak, apalagi saat itu anak-anaknya masih sekolah semua.
Hasna harus kerja keras banting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, juga untuk biaya sekolah dan biaya yang tidak terduga lainnya.
Bukan itu saja, dia juga harus mengurus ibunya yang saat itu masih hidup tetapi sudah sakit-sakitan. Hasna terus bekerja siang dan malam demi mendapat uang yang cukup, tak jarang dia sering kelelahan karena kurang tidur dan istirahat.
Namun, kerja kerasnya terbayar saat melihat anak-anaknya tumbuh menjadi wanita yang hebat dan mandiri. Wanita yang tetap berdiri tegak walau diterpa badai besar, wanita yang baik dan menjaga kesopanan.
"Padahal udah pada cantik, tapi gara-gara nangis jadi makeupnya luntur," seru Ezra yang baru masuk ke dalam kamar sang nenek, dan menggelengkan kepala saat melihat ketiga wanita itu menangis secara bersamaan.
"Kau yah, Ezra. Ganggu momen sakral saja," omel Yuni sambil mengambil tisu untuk mengusap air matanya.
Ayun dan Hasna hanya menggelengkan kepala mereka saja saat melihat Ezra, lalu mereka sama-sama tertawa saat melihat makeup yang ada diwajah mereka menjadi berantakan.
__ADS_1
Para perias kembali mendandani mereka agar terlihat cantik, dan tidak lupa membenahi pakaian mereka juga yang sudah berserakan ke sana ke sini.
"Ayo, Nek. Udah disuruh turun sama kakek," seru Adel yang ikut masuk ke dalam kamar itu.
Hasna menganggukkan kepalanya dan segera beranjak dari kursi. Dengan menggandeng lengan Ezra, dia berjalan anggun menuju lantai satu di mana semua orang berkumpul untuk melaksanakan akad.
Ayun, Yuni, dan Adel mengikuti mereka dari belakang sebagai penggiring pengantin sambil membawa seikat bunga di tangan masing-masing.
"Ibu sangat cantik loh Pa, Papa pasti tidak akan bisa mengedipkan mata saat melihatnya," bisik Nindi yang saat ini duduk tepat di samping sang papa. Dia sudah mulai membiasakan diri memanggil Hasna dengan sebutan ibu.
Abbas langsung menoleh ke arah Nindi saat mendengar bisikannya. "Tanpa dia makeup pun, ibumu memang sangat cantik."
Nindi langsung terkikik geli saat mendengarnya. "Wah, ternyata Papa bucin juga yah. Kalah saing dong Ken dan Fathir." Dia melirik ke arah dua laki-laki itu yang saat ini juga sedang melihatnya.
Abbas membusungkan dada dengan bangga. "Tentu saja, mereka mana ada apa-apanya." Dia berkata dengan kesombongan paripurna.
Nindi kembali terkikik geli sampai memegangi perutnya yang terasa kram akibat terlalu banyak tertawa. Dia sengaja melakukan itu karena tahu jika sang papa sedang gelisah dan gugup.
"Ya Allah, lihat itu. Pengantin wanitanya cantik sekali."
Abbas terpaku dan merasa terhipnotis saat melihat penampilan Hasna. Wanita itu terlihat sangat cantik dimatanya, apalagi dengan gaun putih yang seakan semakin memancarkan cahaya keindahan ke segala penjuru arah.
"Lihatkan, Papa sampai tidak bisa mengedipkan mata."
Abbas terkesiap dan tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Nindi, dengan cepat dia menoleh ke arah wanita itu dan langsung mengecup pipi putrinya.
"Benar, Sayang. Ibumu sangat cantik," sahut Abbas sambil memberikan dua jempolnya.
Keanu dan Fathir tampak menggelengkan kepala mereka saat mendengar ucapan Abbas. Bisa-bisanya saat seperti ini laki-laki paruh baya itu mengatakan hal seperti itu.
"Sepertinya mertuaku sedang mengalami puber kedua," gumam Keanu membuat Fathir tergelak tanpa suara.
Abbas lalu beranjak bangun dan berjalan ke ujung tangga untuk menyambut kedatangan sang calon istri. Dia mengulurkan tangan pada Hasna, dan langsung disambut dengan senyuman manis oleh wanita itu.
Mereka lalu duduk di hadapan pak penghulu dan bersiap untuk memulai akad. Begitu juga dengan Ayun dan yang lainnya.
__ADS_1
Fathir terlihat curi-curi pandang ke arah Ayun saat wanita itu sudah duduk di samping mamanya yang juga menghadiri pernikahan ini, dia lalu tersenyum hangat saat Ayun juga melihat ke arahnya.
Ayun menundukkan kepala dengan semburat rona merah diwajahnya karena merasa malu terus ditatap seperti itu oleh Fathir, membuat Keanu, Ezra, dan juga Nindi yang sejak tadi memperhatikan mereka tampak menahan senyum.
"Sepertinya setelah ini kita akan kembali mempersiapkan pesta pernikahan, Mas," bisik Nindi pada Keanu yang dibalas dengan anggukan kepala sang suami.
"Tenang saja, sepertinya sekarang Fathir sudah menjadi sangat aktif," sahut Keanu.
Mereka lalu kembali diam saat mendengar suara pak penghulu yang sedang mempersiapkan akad, dan seketika suasana berubah menjadi sunyi senyap penuh dengan kekhusyukan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Hasna Al-mawari binti Husein dengan mas kawin tersebut dibayar tunai ...."
"SAH!"
Satu kata menggema di rumah itu sebagai tanda bahwa telah bersatunya Abbas dan Hasna. Seketika suasana berubah meriah dan penuh keharuan setelah akad selesai, terutama untuk anak-anak Hasna dan Abbas yang menangis haru melihat pernikahan orang tua mereka.
Hasna sendiri juga tidak bisa menahan air mata yang langsung terjun bebas diwajahnya. Rasa senang, sedih, dan terharu bercampur jadi satu dalam hatinya.
Abbas juga demikian. Beberapa kali dia mengusap sudut matanya yang basah karena merasa sangat bahagis sudah bersatu dengan Hasna dalam ikatan suci pernikahan.
Pak penghulu lalu memanjatkan do'a untuk sepasang pengantin baru yang sudah sah menjadi suami istri, agar kelak rumah tangga mereka selalu diberikan kebahagiaan, kenyaman, dan juga ketenangan.
Setelah selesai, Hasna menyalim tangan Abbas, sementara Abbas sendiri meletakkan tangan kirinya ke kepala sang istri tepat diubun-ubunnya untuk memanjatkan do'a.
Semua orang menatap mereka dengan tatapan penuh bahagia, terutama Ayun dan Nindi yang sejak tadi tidak bisa menahan air mata mereka.
Kemudian semua orang bergantian mengucapkan selamat kepada Hasna dan Abbas karena sudah sah menjadi pasangan suami istri, untuk sekali lagi ruangan itu dipenuhi dengan isak tangis kebahagiaan dan do'a-do'a yang melambung tingga untuk rumah tangga mereka kelak.
"Aku ucapkan selamat untuk Papa dan Ibu, semoga rumah tangga Papa dan Ibu selalu diberkahi oleh Allah dan diberi kebahagiaan yang tiada tara. Kami menunggu kabar baik dari Papa dan Ibu, agar memberi kami seorang adik yang lucu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.