Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 119. Tahap Lanjutan.


__ADS_3

Ayun merasa senang saat mendengar ucapan Keanu, begitu juga dengan semua orang yang ada di tempat itu.


"Berhati-hatilah, Mas. Aku yakin kejadian di masa lalu bukan hanya dilakukan oleh Fathan saja, tapi ada pihak lain yang juga terlibat," ucap Nindi dengan khawatir.


Dia sendiri tahu jelas apa yang terjadi di masa lalu karena saat itu dia berteman baik dengan Fathir. Bukan hanya Fathir saya, dia bahkan berteman baik dengan mendiang istri laki-laki itu.


Itu sebabnya Nindi merasa curiga bahwa ada pihak lain yang terlibat dengan kejadian itu, apalagi dulu dia sama sekali tidak pernah menaruh curiga pada mendiang istri Fathir. Dia sendiri mengenal baik wanita itu, dan tidak menyangka jika wanita sebaik Clarissa sanggup mengkhianati Fathir.


"Nindi benar, Ken," sambung Abbas sambil melihat ke arah Keanu dengan serius. "Papa juga berpikir seperti itu, bahkan sejak dulu papa sangat curiga dengan kejadian yang sampai menghilangkan nyawa istrinya. Kalau dipikir-pikir, sejak kapan Fathan mahir menggunakan pistol? Sementara jarak tembakan yang dia buat itu lebih dari lima meter."


Keanu terdiam sambil menganggukkan kepalanya. Benar, dia setuju dengan apa yang mertuanya katakan. Sejak dulu, Fathan memang tidak mahir dalam ilmu bela diri, termasuk memanah dan menembak, dan yang mahir dalam semua itu adalah Fathir.


"Aku akan kembali menyelidikinya, Pa," sahut Keanu. "Dulu aku berhenti melakukan penyelidikan saat Fathan divonis penjara seumur hidup, juga karena permintaan Fathir. Sekarang aku akan mengupas sampai ke akar-akarnya." Dia berucap dengan penuh penekanan.


Abbas mengangguk setuju. Dia sendiri juga akan ikut menyelidiki tentang kejadian itu, apalagi sekarang Fathir adalah calon menantunya. Dia tidak ingin kejadian buruk kembali terjadi.


Setelah selesai, mereka semua kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Apalagi saat ini malam sudah sangat larut, dan sudah waktunya untuk terlelap.


Ayun merebahkan tubuhnya di atas ranjang saat sudah sampai di kamar. Senyum tipis terbit dibibirnya saat membaca pesan dari Fathir, yang memberitahukan bahwa laki-laki itu sudah sampai ke rumah dengan baik-baik saja.


"Kami semua bersamamu, Fathir. Aku yakin kau pasti akan baik-baik saja," gumam Ayun dengan sendu. Dia lalu memeluk ponsel yang ada dalam genggaman tangannya seolah sedang memeluk laki-laki itu, dan berharap agar segala keburukan menjauh dari hidup mereka.


***


Keesokan harinya, seperti biasa semua orang tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing, termasuk Ayun yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.

__ADS_1


Sebelumnya, Ayun sudah membuat janji temu dengan Dokter yang merawat Fathir, dan dia juga ingin menemui seseorang di rumah sakit itu.


Sesampainya di rumah sakit, Ayun langsung berjalan cepat menuju ruangan Dokter itu sambil menentang bekal makan siang untuk sang calon mertua. Dia sengaja menyiapkannya karena ingin menemui wanita paruh baya itu.


"Silahkan masuk, Nyonya. Dokter sudah menunggu Anda," ucap seorang perawat saat Ayun sampai di depan ruangan itu.


Ayun menganggukkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih. Dia lalu masuk ke dalam ruangan yang ada di hadapannya, dan kedatangannya disambut dengan baik oleh Dokter tersebut.


"Maaf jika kedatangan saya mengganggu Anda, Dokter," ucap Ayun dengan sungkan. Walau dia sudah membuat janji temu, tetapi dia merasa tidak enak hati karena sudah menganggu waktu Dokter tersebut.


Dokter itu mengangguk dengan senyum ramah. "Tidak apa-apa, Nyonya. Saya senang dengan pertemuan ini, bahkan jika Anda tidak memintanya, mungkin nantinya saya yang akan menghubungi Anda."


Ayun tertegun saat mendengar ucapan Dokter itu. Tidak disangka bahwa keputusannya untuk menemui Dokter tersebut tidak salah, padahal dia sudah merasa tidak enak hati.


Ah, Ayun tersadar dari lamunannya. Dia lalu bertanya perihal keadaan Fathir saat ini, karena itu dululah yang harus dia ketahui.


"Seperti yang Anda lihat beberapa hari yang lalu, Nyonya. Keadaan tuan Fathir masih sangat rentan sekali, dan sepertinya dia benar-benar mengalami masa-masa sulit di masa lalu," ucap Dokter itu. Dia sendiri bisa melihat ada kesedihan yang mendalam dalam kedua sorot mata Fathir.


Ayun mengangguk lemah. "Benar, Dokter. Sebenarnya saya tidak tahu apakah yang akan saya ucapkan ini benar atau tidak tidak, tapi saya merasa jika keadaan Fathir hanya bisa disembuhkan oleh kakaknya sendiri, yaitu Fathan."


Dokter itu terdiam, jelas dia sudah tahu apa yang terjadi dalam kehidupan Fathir di masa lalu dari Alma dan Farhan yang sudah lebih dulu menemuinya.


"Saya ingin meminta saran dan pendapat Anda, Dokter. Saya tahu jika saat ini Fathir tidak bisa bertemu dengan Fathan, dan keadaannya sangat tidak memungkinkan sekali. Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Ayun dengan bibir gemetaran.


Dokter itu sangat paham dengan kekhawatiran Ayun, tetapi semua tidak bisa dilakukan dengan secepat itu.

__ADS_1


"Saya mengerti, Nyonya. Tapi tuan Fathir membutuhkan waktu yang tidak sebentar, dan butuh waktu sangat lama untuk menyembuhkan kepanikan dalam dirinya," jawab Dokter itu.


"Tapi Fathan tidak punya waktu banyak, Dokter," sahut Ayun.


Dia lalu mengatakan bagaimana keadaan Fathan saat ini, juga bagaimana perasaan kedua orang tua Fathir dan Fathan dengan keadaan yang menimpa keluarga mereka.


"Hidup dan mati seseorang memang berada ditangan Tuhan, tapi kita juga tidak tahu sampai kapan umur akan bertahan 'kan, Dokter?"


Dokter itu mengangguk karena setuju dengan ucapan Ayun. Benar, dia tidak memikirkan tentang Fathan, juga perasaan keluarga mereka. Namun, dia juga tidak bisa mengambil keputusan yang nantinya malah akan membahayakan keadaan Fathir.


Lalu, tiba-tiba Dokter teringat dengan sesuatu. "Benar, kita bisa melakukan cara seperti itu."


Ayun mengernyitkan kening bingung saat mendengar ucapan Dokter itu, sementara Dokter tersebut tampak sedang menelepon seseorang.


Setelah selesai bicara dengan rekan kerjanya, Dokter kembali berhadapan dengan Ayun sambil memberikan sebuah berkas.


"Kita akan melakukan tahapan tingkat lanjut agar pasien bisa mengeluarkan semua rasa sakit yang sejak lama dia pendam, yaitu melalui teknik hipnotis dan memasuki alam bawah sadarnya. Setelah itu, kita akan langsung melanjutkannya ke tahap akhir."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2