Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 153. Rencana Pembongkaran.


__ADS_3

Fathir langsung mengucapkan terima kasih pada Haris karena laki-laki paruh baya itu bersedia untuk membantunya, begitu juga dengan Keanu dan Abbas yang berharap banyak atas bantuan Haris.


Tiba-tiba, dering ponsel Keanu mengagetkan semua orang yang ada di tempat itu hingga menatap ke arahnya. Dengan cepat dia mengambil benda pipih itu lalu menjawab panggilan masuk dari Alden.


"Ya, Alden?" ucap Keanu saat sudah menjawab panggilan itu.


"Saya sudah bicara dengan Leo, dan katanya Rian sedang menuju ke sini, Tuan," lapor Alden yang sedang berada di dalam bar.


Keanu tersenyum sinis. "Baiklah. Kau bisa menunggunya di tempat itu, tapi kau juga harus membereskan apa yang aku katakan tadi." Perintahnya kemudian.


Panggilan itu lalu terputus saat Alden sudah mengiyakan perintah Keanu, sementara yang lain hanya diam sambil menatap penasaran.


"Alden sudah bicara dengan manager bar itu, lalu katanya Rian sedang menuju kemari. Jadi kita harus segera menyusun rencana untuk menyergapnya," ucap Keanu menjelaskan.


Semua orang mengangguk paham saat mendengar ucapan Keanu. Mereka merasa senang karena Alden bisa memancing Rian untuk datang ke tempat mereka saat ini.


Sementara itu, di dalam bar terlihat Alden sedang duduk bersama dengan Lani, wanita yang telah dia beli sebelumnya.


"Bagaimana, apa kau sudah menjalankan perintahku?" tanya Alden tanpa memalingkan wajahnya dari ponsel yang sejak tadi sedang dia pegang.


Lani mengangguk. "Saya sudah memeriksa ruangan Leo, Tuan. Tapi saya hanya bisa mengambil beberapa berkas saja karena hampir ketahuan." Dia berucap dengan pelan.


Alden mengangguk sambil melirik ke arah Leo yang sejak tadi memperhatikan dari lantai dua tempat itu, terlihat senyum puas diwajah laki-laki itu karena mengira dia tergila-gila dengan Lani.


"Mendekatlah," ucap Alden sambil melingkarkan tangannya dipinggang Lani, membuat gadis itu terperanjat kaget. Namun, Lani tetap mendekat walau debaran jantungnya kian menguat. "Setelah ini kau harus menemui Leo, dan katakan padanya bahwa aku ingin kembali memakaimu. Tapi, aku ingin memakaimu bersama dengan yang lain." Dia berucap tepat ditelinga Lani.


Lani mengangguk paham dengan bulu kuduk meremmang akibat hembusan napas Alden. Dia lalu beranjak dari tempat itu untuk menghampiri Leo, sementara Alden hanya diam sambil memperhatikan mereka.


Mendengar permintaan Alden, tentu saja membuat Leo sangat senang. Dengan semangat dia membawa Alden ke kamar yang paling mewah di tempat itu, lalu menyuruh Lani untuk menjemput dua temannya yang lain dari ruang bawah tanah.


"Aku tidak ingin ada yang mengganggu kegiatanku bersama mereka. Jadi, jangan ada satu orang pun yang melintasi lorong ini, atau aku tidak akan menjadi pelanggan kalian lagi," ucap Alden pada Leo.


Leo mengangguk paham. Dia lalu keluar dari kamar itu untuk menemui beberapa anak buahnya yang ada di lorong itu, dan membawa mereka pergi sesuai keinginan Alden.


"Dasar bod*oh," gumam Alden sambil tersenyum sinis. Dia lalu mulai menjalankan aksinya untuk membobol CCTV yang ada di lorong itu sampai ke ruangan bawah tanah, agar anak buah Leo tidak bisa melihat saat dia memasuki tempat itu.

__ADS_1


"Tuan."


Alden memalingkan wajahnya ke arah pintu saat mendengar suara panggilan Lani. "Masuk dan tutup pintunya."


Lani mengangguk. Dia lalu masuk bersama dengan dua orang gadis yang menatap Alden dengan penuh ketakutan.


Alden lalu mengambil ponsel dari dalam sepatunya dan memberikan benda pipih itu pada Lani. "Aku akan pergi ke ruang bawah tanah untuk membawa teman-temanmu ke sini. Setelah mereka semua bersamamu, hubungi aku melalui ponsel itu, maka aku akan kembali."


Lani mengangguk sambil menerima ponsel pemberian Alden. Dia tersenyum saat melihat wallpaper yang ada dilayar ponsel itu, yaitu sebuah foto boneka hello kitty.


Alden berdehem saat menyadari arti senyuman Lani. Dia merutuki kebod*ohannya sendiri karena lupa mengganti wallpaper boneka kesukaannya itu.


Tidak ingin membuang waktu, Alden langsung keluar dari kamar itu setelah berhasil mengendalikan CCTV yang ada di lorong itu, bahkan sampai ke ruang bawah tanah.


"Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya seorang lelaki yang menjaga ruangan para gadis-gadis itu.


"Bukan urusanmu!"


Brak.


Mendengar benturan yang cukup keras, empat orang penjaga yang ada di tempat itu segera menghampiri Alden.


"Apa yang kau-"


Belum sempat mereka bicara, Alden sudah melayangkan pukulan dan tendangan mautnya hingga membuat keempat lelaki itu terkapar di atas lantai.


"Matilah kalian!" ucap Alden sambil menghajar keempat laki-laki itu tanpa ampun, membuat beberapa gadis yang melihatnya memekik ketakutan.


"Diam! Jika kalian berteriak, maka aku tidak bisa membebaskan kalian!" seru Alden pada gadis-gadis itu.


Mereka semua langsung menutup mulut dengan erat sesuai dengan perintah Alden, walau tidak tahu apakah laki-laki itu berkata benar atau tidak.


Setelah membereskan kelima penjaga yang ada di tempat itu. Alden memperhatikan CCTV yang terpasang di sana. Tampilannya masih tetap sama seperti saat dia tinggal tadi, karena sebelumnya sudah diatur sedemikian rupa.


Alden lalu mendatangi satu per-satu kamar gadis-gadis itu untuk membebaskan mereka. Dia benar-benar seperti berada di dalam neraka karena harus tersiksa melihat gadis-gadis itu telanj*ang bulat.

__ADS_1


"Naiklah ke atas, lalu masuk ke kamar nomor 1. Di dalam ada Lani, kalian harus bersamanya," ucap Alden sambil membelakangi mereka.


Gadis-gadis itu mengangguk paham lalu segera naik ke lantai atas dengan menggunakan tangga, sementara Alden masih tetap berada di ruangan itu untuk mengumpulkan bukti.


Beberapa saat kemudian, Alden mendapat telepon dari Lani bahwa semua gadis sudah berkumpul di dalam kamar itu.


"Cari apapun yang bisa dipakai untuk menutupi tubuh mereka!" ucap Alden dengan tajam. Dia lalu mematikan panggilan itu sambil menghela napas kesal. Tidak mungkin 'kan, dia membiarkan mereka semua seperti itu di hadapan Keanu, Fathir dan juga Abbas? Benar-benar membuat emosi.


Setelah selesai mengumpulkan bukti-bukti di ruangan itu, Alden segera beranjak pergi. Tidak lupa dia merusak pintu menuju ruangan bawah tanah, agar Leo dan yang lainnya tidak bisa masuk ke dalam tempat itu.


Kemudian Alden kembali masuk ke dalam kamar itu dan memberitahu Lani agar tetap berada di tempat itu apapun yang terjadi, karena nanti dia akan kembali datang untuk menyalamatkan mereka.


"Tuan!"


Alden yang akan pergi ke tempat lain tidak jadi melangkahkan kaki saat Lani memegang lengannya. "Ada apa?" Dia bertanya sambil menatap gadis itu dengan tajam.


"Terima kasih, Tuan. Terima kasih karena sudah menyelamatkan kami," ucap Lani dengan tulus. Tidak tahu dari mana datangnya laki-laki berhati malaikat itu, sehingga bersedia untuk membebaskan mereka.


Alden terdiam. Untuk pertama kalinya dia menerima ucapan terima kasih yang terasa sangat tulus seperti ini, karena biasanya dia hanya mendapat umpatan dan makian dari orang yang dia sakiti.


"Tetap di sini dan jangan keluar walau apapun yang terjadi," ucap Alden kemudian. Dia jadi merasa gugup dan salah tingkah, hingga akhirnya memilih untuk segera pergi.


Di sisi lain, terlihat Keanu dan Fathir sudah selesai mendiskusikan rencana mereka. Semua orang sudah bersiap di tempat masing-masing, sementara Keanu dan Fathir mengawasi kedatangan Rian dari rooftop rumah itu.


"Lihat, dia datang."





Tbc.


__ADS_1


__ADS_2