Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 120. Kedewasaan Ezra.


__ADS_3

Ayun mengusap dadanya dan mencoba untuk kembali tenang, dia lalu berbalik dan terkejut saat melihat Ezra berdiri tepat di hadapannya. "Astaghfirullah. Ezra? Kau ngagetin ibu aja." Dia kembali mengusap dadanya yang berdegup kencang.


Ezra terkekeh pelan saat melihat raut terkejut sang ibu. "Maaf, Bu. Abis dari tadi kupanggil, tapi Ibu gak dengar." Dia berucap sambil menggelengkan kepalanya.


Ayun menghela napas kasar saat mendengar ucapan sang putra, sepertinya lagi-lagi dia melamun hingga tidak dengar panggilan Ezra.


"Maaf, ya Nak. Tapi, di mana adikmu?" tanya Ayun yang tidak melihat keberadaan Adel.


"Adel dan paman pergi ke mini market yang ada di depan, sekalian beli makan siang untuk kita," jawab Ezra membuat sang ibu mengangguk paham.


Ayun lalu mengajak Ezra ke ruang ICU untuk menunggu Yuni dan ibu mereka sadar. Namun, dia tidak jadi melangkahkan kaki saat Ezra menahan tangannya.


"Ada apa, Nak?" tanya Ayun dengan heran.


"Apa Ibu sudah tahu semunya?" Bukannya menjawab, Ezra malah memberikan pertanyaan pada ibunya, membuat Ayun merasa bingung.


"Tahu semuanya?" tanya Ayun dengan tidak mengerti.


Ezra menarik tangan sang ibu agar kembali duduk di kursi mereka tadi, membuat Ayun dilanda kebingungan yang luar biasa.


"Apa kakek Abbas mengatakan sesuatu pada Ibu?"


Deg.


Ayun terkesiap saat mendengar ucapan Ezra, mungkinkah putranya itu tahu jika dia adalah anak kandung Abbas? "A-apa kau tahu sesuatu, Ezra?" Dia kembali bertanya.


Akhirnya mereka berdua saling melempar pertanyaan tanpa adanya jawaban, karena sama-sama merasa bingung untuk mengatakannya.

__ADS_1


Sebenarnya, bukan tanpa alasan Ezra bertanya seperti itu. Sejak perselingkuhan yang dilakukan sang ayah, entah kenapa dia menjadi manusia yang sangat peka dan sensitif. Itu sebabnya dia tahu jika sedang terjadi sesuatu antara ibunya dan Abbas, terlihat jelas diwajah mereka yang sama-sama tidak nyaman dan gelisah.


"Aku tidak sengaja mendengar percakapan antara nenek dan juga kakek Abbas waktu itu," ucap Ezra. Dia lalu menceritakan semua yang sudah didengar, karena dia yakin jika sang ibu juga sudah mengetahui tentang masalah tersebut.


Ayun tercengang dengan tatapan tidak percaya saat mendengar cerita Ezra, tidak disangka ternyata kedua anaknya sudah lebih dulu tahu bahwa dia adalah anak kandung Abbas.


"Kenapa kau tidak memberitahu ibu, Nak?" tanya Ayun dengan lirih. Wajahnya kembali basah karena air mata yang mengalir deras.


Ezra menghela napas kasar. "Mana mungkin aku mengatakannya saat nenek dan kakek melarangnya, Bu. Kalau pun aku mengatakannya pada Ibu, apa Ibu akan percaya?"


Ayun langsung menggelengkan kepalanya. Dia pasti tidak akan percaya jika Ezra yang mengatakan tentang semua itu, bahkan saat ini dia juga masih kesulitan untuk menerimanya.


"Apa Ibu baik-baik saja?" tanya Ezra dengan khawatir. Dia dan Adel saja merasa sangat syok dengan semua itu, lalu bagaimana dengan ibu mereka?


Ayun menatap Ezra dengan sendu, rasanya sangat tidak pantas sekali jika dia mengeluh di hadapan anaknya sendiri, tetapi cuma Ezra lah yang saat ini berada di sampingnya, dan menjadi tempat peraduan.


Ezra terdiam karena paham betul bagaimana perasaan sang ibu saat ini. Dia lalu menggenggam kedua tangan ibunya dengan erat.


"Ibu boleh marah dan kecewa dengan apa yang terjadi, karena semua itu adalah hak Ibu. Tapi, bukankah Ibu sendiri yang bilang bahwa sesuatu yang sudah terjadi tidak dapat diubah lagi?" ucap Ezra dengan pelan, tetapi syarat akan makna.


Ayun terdiam saat mendengar ucapan Ezra. Apa yang putranya itu katakan adalah benar, dan tidak ada siapa pun yang bisa mengubahnya.


"Ibu tau, Nak. Hanya saja hati Ibu terasa berat menerimanya, semua ini terjadi dengan sangat cepat dan mengguncang jiwa ibu," ucap Ayun dengan sendu. Dia lalu mengucap istighfar sampai beberapa kali agar kembali tenang.


"Terlepas dari apa yang terjadi, kakek Abbas adalah orang yang sangat baik dan selalu membantu kita. Mungkin, mungkin kita bisa membalasnya dengan menerima semua ini. Lagi pula, apa yang terjadi bukan karena kemauan nenek dan kakek. Tapi karena garis takdir yang sudah ditentukan," ucap Ezra.


Ayun merasa terharu dengan kedewasaan yang Ezra tunjukkan padanya. Dia tidak menyangka jika putranya yang baru berumur 22 tahun itu memiliki sifat yang sangat dewasa.

__ADS_1


"Kau benar, Nak. Ibu sudah sangat egois sekali jika marah atau membenci mereka, terima kasih karena sudah mengingatkan ibu." Lirih Ayun samping mengusap punggung tangan Ezra.


Ezra menganggukkan kepalanya dengan senang. Dia bisa berkata seperti itu karena sudah mendengar langsung cerita dari Abbas, dan dia merasa kasihan dan simpati dengan apa yang laki-laki paruh baya itu alami.


"Kakek, aku sudah berusaha untuk menenangkan ibu. Aku harap kedepannya kita bisa hidup bersama-sama." Ezra tersenyum membayangkan masa depan mereka nanti, dan berharap agar tidak ada lagi masalah yang terjadi.


Sementara itu, di ruang perawatan lain. Terlihat Dokter sedang memeriksa kondisi Nindi yang kembali tidak sadarkan diri. Dokter terpaksa memasang alat pacu jantung karena detak jantung Nindi semakin melambat, bahkan hampir tidak terdeteksi sama sekali.


Keanu berdiri di depan pintu dengan sangat khawatir. Beberapa kali dia menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya, dan terus berdo'a agar keadaan sang istri baik-baik saja.


Abbas yang sudah berada di tempat itu juga merasa sangat khawatir. Dia menatap ruangan putrinya dengan sendu, tanpa terasa air mata jatuh membasahi wajah.


"Ya Allah, aku mohon selamatkanlah putriku. Aku mohon." Abbas terus berdo'a demi keselamatan sang putri.


Setelah memakan waktu sampai hampir 2 jam lamanya, tampak Dokter keluar dari ruangan Nindi membuat Keanu dan Abbas segera menghampirinya.


"Ba-bagaimana keadaan istri saya, Dokter? Dia baik-baik saja 'kan?" tanya Keanu dengan cemas, kedua matanya kembali berkaca-kaca.


Dokter itu menatap Keanu dan Abbas dengan sendu. "Maaf, Tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Tuhan berencana lain."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2