
Kedua mata Faiz kembali terpejam saat merasa sang papa melihat ke arahnya, sementara Fathir sendiri memilih untuk keluar dari ruangan itu agar bisa menenangkan diri.
Beberapa jam kemudian, Dokter masuk ke dalam ruangan itu untuk kembali memeriksa keadaan Ayun sebelum pulang. Dia memberikan beberapa resep obat, juga memberikan saran agar Ayun mendatangi Dokter spesialis tulang untuk proses penyembuhan.
Setelah semua selesai, Ayun dan yang lainnya segera keluar dari rumah sakit. Dengan masih menaiki mobil milik panitia penyelenggara acara perkemahan, mereka berangkat pulang menuju rumah Ayun.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara di dalam mobil. Baik Ayun dan Fathir, begitu juga dengan Faiz dan Adel. Semua orang tampak saling berdiam diri dengan pikiran masing-masing.
Beberapa kali Fathir melirik ke arah Ayun yang sedang melihat jalanan, tetapi dia langsung kembali melihat ke depan saat wanita itu melirik ke arahnya.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?" tanya Ayun pada Fathir membuat semua orang menatap ke arahnya.
Fathir melihat ke arah Ayun melalui kaca spion yang ada di atasnya dengan memgernyitkan kening. "Tidak." Dia menggeleng pelan. "Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" Dia balik bertanya pada Ayun.
Ayun menyipitkan kedua matanya dengan curiga. Jelas-jelas dia merasa jika sejak tadi Fathir terus melihat ke arahnya, atau memang semua itu hanya halusinasinya saja?
"Aku! Aku ingin mengatakan sesuatu pada Tante." Tiba-tiba Faiz bersuara membuat Fathir menatap dengan tajam. Dia merasa cemas jika putranya itu akan mengatakan sesuatu yang aneh pada Ayun.
"Ya, Faiz? Kau ingin mengatakan sesuatu?"
__ADS_1
Faiz menganggukkan kepalanya saat mendengar pertanyaan Ayun, membuat Adel menatap dengan tidak suka. Jangan-jangan laki-laki itu ingin memanggil ibunya dengan sebutan ibu juga?
"Aku yang telah membuat Tante terluka, jadi aku juga nanti yang akan merawat Tante," ucap Faiz dengan kuat dan tegas.
Semua orang terkejut saat mendengar ucapan Faiz, terutama Fathir yang langsung mencengkram erat setiur mobilnya. Untung saja dia tidak lagi mengerem secara mendadak, atau kali ini mereka akan tamat.
"Kau, kau bilang apa?" pekik Adel dengan kuat.
"Aku bilang mau bertangung jawab," jawab Faiz sambil memalingkan wajahnya ke arah Ayun. "Aku akan merawat Tante dengan baik."
Ayun tersenyum saat mendengar ucapan Faiz, sementara Fathir berusaha untuk menekan emosinya melihat tingkah sang putra yang terus saja mencari masalah.
Faiz sama sekali tidak mendengarkan ucapan Ayun, dia tetap ingin bertanggung jawab pada luka yang diderita oleh wanita itu tanpa tahu jika papanya sejak tadi merasa geram melihat tingkahnya.
Ayun menghela napas kasar. Dia terpaksa menganggukkan kepala untuk menyetujui permintaan Faiz, padahal dia sama sekali tidak memikirkan tentang semua itu.
"Ya sudah, terserahmu saja, Faiz," ucap Ayun kemudian membuat Faiz tersenyum lebar.
Faiz merasa senang karena Ayun menyetujui permintaannya. Dia benar-benar ingin merawat Ayun karena rasa bersalahnya, tetapi dibalik semua itu ada sesuatu hal yang ingin dia lakukan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah sampai di halaman rumah Ayun. Tampak Hasna dan Yuni sedang duduk di taman samping rumah, dan langsung beranjak bangun saat melihat kedatangan mereka.
"Astaghfirullahal'adzim. Ada apa denganmu, Nak?" tanya Hasna dengan panik saat melihat tangan Ayun terbungkus dengan kain gendongan tangan.
Ayun langsung menyalim tangan sang ibu. "Aku baik-baik saja, Bu. Ini hanya kecelakaan kecil." Dia menjawab sambil tersenyum tipis.
Hasna langsung menggiring Ayun dan yang lainnya untuk masuk ke dalam rumah. Tidak mungkin putrinya itu hanya mengalami kecelakaan kecil, sementara tangannya sampai di bungkus seperti itu.
"Nenek tidak perlu khawatir, aku pasti akan menjaga dan merawat tante Ayun dengan baik."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1