
Polisi itu langsung mengambil ponsel yang diberi oleh Ezra, lalu melihat sebuah foto yang tertera dilayarnya dengan tajam.
"Ini bukannya wanita yang tadi diperiksa juga, yaitu istri kedua tuan Evan?" tanya polisi itu.
Ezra menganggukkan kepalanya. Tanpa diperintah lagi, dia langsung saja menceritakan apa yang dia lihat waktu itu. Mulai dari awal sampai akhir, bahkan dia juga menceritakan bahwa wanita yang ada dalam foto itu adalah Sherly dan istri dari tamu ayahnya.
Sebagai orang yang sudah berpelangan dalam hal seperti ini, jelas polisi itu paham betul dengan apa yang terjadi. Apalagi foto itu terlihat jelas menampakkan sebuah transaksi, juga ada berkas dan amplop berwarna coklat yang diberikan pada Sherly.
Polisi itu sampai mengucapkan terima kasih pada Ezra, dan langsung menyalin semua foto itu. Namun, dia meminta agar laki-laki itu tutup mulut dan tidak memberitahu semua ini pada siapa pun karena semua ini adalah bukti yang sangat penting.
Ezra lalu beranjak keluar dari ruangan itu setelah mengiyakan ucapan polisi, dia segera menghampiri sang ibu yang hanya tinggal berdua saja dengan Adel.
Setelah semua proses penyelidikan selesai, mereka lalu beranjak pergi dari tempat itu.
"Ayun!"
Mereka yang sudah berada di luar kantor polisi menoleh ke belakang saat mendengar panggilan Evan, terlihat laki-laki itu sedang berjalan ke arah mereka.
"Apa kalian baik-baik saja? Tidak ada masalah dengan pertanyaan yang polisi berikan, 'kan?" tanya Evan dengan khawatir, khususnya pada Adel yang masih belum paham tentang semua ini.
Ezra tersenyum sinis saat mendengarnya. "Tentu saja kami baik-baik saja, Tuan Evan. Lebih baik Anda perhatikan istri kedua Anda, sepertinya sebentar lagi dia akan membuat keributan."
__ADS_1
Evan mengernyitkan kening dengan tidak suka saat mendengar ucapan sang putra, sementara Ayun melirik Ezra dengan tidak mengerti.
"Anak-anakku baik, Mas. Terima kasih atas perhatiannya," ucap Ayun, dia tahu jika laki-laki itu pasti khawatir pada Ezra dan Adel.
Evan merasa tenang saat mendengarnya. "Kalau gitu ayo ikut ayah, Adel. Ada yang mau ayah-"
"Ayo kita ke rumah sakit, Bu! Aku mau melihat nenek," potong Adel dengan cepat membuat Evan terkesiap. Niat hati ingin menolak ajakan sang ayah, malah tidak sengaja memberitahukan keadaan neneknya.
"Ru-rumah sakit? Apa yang terjadi pada ibu, Yun?" tanya Evan dengan tajam, membuat Ayun menghela napas kasar.
"Maaf, aku sedang buru-buru. Ayo, Nak!" ajak Ayun, dia tidak mau memberitahu apapun tentang ibunya atau pun hidupnya pada laki-laki itu.
Mereka lalu kembali berbalik dan melanjutkah langkah untuk pergi, tetapi dengan cepat Evan mencekal tangan Ayun.
Ayun segera menepis tangan Evan yang mencekal pergelangan tangannya. Dia lalu menyuruh Ezra dan Adel untuk duluan mencari taksi, kemudian kembali menatap laki-laki itu dengan nanar.
"Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu, dan kau juga sudah kehilangan hak untuk bertanya padaku, Mas. Jadi hentikan, dan tolong urus hidup masing-masing," ucap Ayun dengan tajam dan penuh penekanan membuat Evan juga menatap tajam.
"Aku tidak akan berhenti karena aku masih punya hak atasmu, Ayun. Apalagi kau membawa anak-anakku-"
"Mereka juga anak-anakku, aku yang mengandung, melahirkan, dan merawat mereka dengan kedua tanganku sendiri. Dan aku tidak pernah membawa mereka, apa kau lupa kalau kau yang sudah mengusir mereka, Mas?" tanya Ayun dengan sarkas.
__ADS_1
Evan berdecak kesal saat mendengarnya, dia lalu mencoba untuk mengendalikan emosi yang mulai terpancing.
"Aku tidak ingin ribut lagi, Ayun. Sekarang ada hal penting yang ingin aku bicarakan tentang perceraian kita. Bagaimana jika-"
"Aku menolak untuk mendengar atau pun membahas masalah perceraian. Jika ada yang penting, silahkan hubungi pengacaraku karena aku tidak mau berurusan denganmu lagi, Mas," ucap Ayun dengan cepat. Dia lalu berbalik dan segera pergi dari tempat itu.
Evan terpaku saat melihat kepergian Ayun, dia lalu mengusap wajahnya dengan kasar karena merasa kesal dengan sikap sombong wanita itu.
"Padahal aku hanya ingin meminta pengertianmu untuk menunda perceraian kita, apa kau sama sekali tidak kasihan dengan masalah yang menimpaku?" gumam Evan dengan geram. Dia lalu beranjak masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi dari tempat itu.
Dari kejauhan, Sherly mengepalkan kedua tangannya saat melihat Evan dan Ayun bicara berdua. Tidak, dia tidak boleh membiarkan mereka kembali bersama. Dia harus segera masuk ke dalam rumah laki-laki itu dan menjadi seorang nyonya di sana.
Setelah mendapat foto dari Ezra, pihak penyidik segera menghubungi kesatuan Polri di mana Nia dan Burhan tinggal karena mereka sudah tidak satu wilayah lagi. Kasus ini harus segera diselesaikan karena sudah menemukan titik terang, bahkan hasil sidik jari juga sudah keluar.
"Ditemukan 3 sidik jari yang ada di tempat penyimpanan berkas. Yaitu milik tuan Evan, tuan David dan juga wanita bernama Sherly yang merupakan istri kedua tuan Evan. Menurut foto itu, wanita bernama Sherly berurusan dengan istri dari partner bisnis tuan Evan, dan tampak sedang memberikan sesuatu yang berada di dalam sebuah tas. Dia juga menerima sebuah amplop berwarna coklat dari wanita itu," ucap pihak penyidik pada atasannya.
"Segera lakukan panggilan terhadap wanita itu, kita harus mendapat keterangan darinya. Dan persempit penyelidikan, karena bukti itu sudah membawa kita lebih dekat pada tersangka. Kasus ini harus selesai secepatnya."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.