Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 74. Sesuatu yang Hilang.


__ADS_3

Gara-gara terlalu sibuk dengan semua permasalahan yang terjadi, Evan sampai tidak ingat jika ada pekerjaan penting yang sudah lama dia siapkan, dan untungnya dia sudah melengkapi semua persyaratan sehingga tinggal registrasi ulang dan scan identitas saja.


"Bicara pada Agung agar dia mempersiapkan sidang minggu depan, aku tidak mau lagi terjadi hal seperti tadi," ucap Evan sebelum dia beranjak pergi dari tempat itu. Dia melirik ke arah Sherly yang hanya diam sambil menatap ke arahnya, tetapi tatapan itu terlihat kosong seperti sedang melamun memikirkan sesuatu.


"Apa kau mendengarku?" tanya Evan dengan nada suara yang sudah naik satu oktaf, membuat Sherly terkesiap.


"I-iya?" Sherly menatap Evan dengan ragu, bahkan dia menyambunyikan kedua tangannya ke belakang tubuh karena mulai gemetaran.


Evan menatap Sherly dengan heran, tetapi di mengesampingkan apa yang wanita itu lakukan. Lalu mengulang ucapannya tadi, setelah itu dia beranjak pergi ke kantor.


Tubuh Sherly langsung lemas saat Evan sudah pergi dari tempat itu. Tangannya terulur menyentuh dada yang sejak tadi berdebar tidak karuan.


"Tenanglah. Semua pasti akan baik-baik saja, dia tidak akan tahu bahwa aku yang sudah mengambil berkas itu," gumam Sherly menenangkan dirinya sendiri. Dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan, dan terus seperti itu sampai benar-benar merasa tenang.


Beberapa saat kemudian, Evan sudah sampai di halaman kantornya. Dia segera keluar dari mobil dan melangkah cepat untuk masuk ke dalam tempat itu. Namun, dia menghentikan langkah saat berdiri di depan salah satu karyawannya sekaligus orang yang paling dia percayai di kantor.


"Ikut aku ke ruangan, David," ucap Evan membuat laki-laki itu mengangguk paham. Kemudian dia kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam ruangan.


Laki-laki bernama David itu juga mengikuti langkah sang atasan, dia lalu menutup pintu ruangan Evan saat sudah berada di dalam tempat tersebut.


"Apa kau sudah mempersiapkan proposal untuk untuk tanah yang akan kita dapatkan di pelelangan nanti?" tanya Evan pada karyawannya itu.


David menganggukkan kepalanya. "Sudah, Tuan. Setelah pelelangan selesai, kita sudah bisa langsung menggunakannya sekaligus mengikat kerja sama baru dengan perusahaan Adijaya."


Evan menganggukkan kepalanya. Jika orang lain butuh sekretaris pribadi atau asisten pribadi untuk menyiapkan semuanya, tetapi tidak dengan dia karena punya karyawan yang cekatan dan serba bisa seperti David.


Evan lalu menyuruh David untuk mengambil semua berkas formulir yang ada di dalam tempat penyimpanannya, karena mereka harus segera mempersiapkan semua itu agar lusa hanya tinggal pergi saja.

__ADS_1


Kosong.


David terdiam saat melihat lemari penyimpanan itu kosong, dan tidak ada satu pun kertas yang ada di dalamnya apalagi berkas yang dimaksud oleh sang atasan.


"Maaf Pak, tidak ada apapun di dalam sini," ucap David memberitahu sambil memutar meja itu agar Evan bisa melihat bagian dalamnya.


Mendengar ucapan David, sontak membuat Evan langsung memalingkan wajahnya ke arah kanan utntuk melihat apa yang laki-laki itu katakan.


Deg.


Mata Evan membelalak lebar saat melihat tempat penyimpanannya kosong. Dia langsung beranjak dari kursi dan berjalan cepat menghampiri kotak tersebut.


"Apa-apaan ini?" teriak Evan dengan kuat. Suaranya memenuhi ruangan itu, bahkan sampai keluar ruangan membuat beberapa karyawan terlonjak kaget.


"Di mana, di mana berkas-berkas pelelangan itu?" Evan kembali berteriak sambil mengobrak ngabrik meja itu, bahkan dia mengeluarkan berkas-berkas lain yang ada di bagian atasnya untuk mencari sesuatu yang hilang.


David yang ada di dalam ruangan itu tidak tinggal diam, dia juga ikut mencarinya. Dia pernah sekali melihat berkas itu pada saat Evan baru mendapatkannya, jadi tidak susah jika mencarinya ditumpukan berkas-berkas yang lain.


"Aargh!"


Brak.


Evan menggulingkan meja kerjanya karena merasa kesal tidak bisa menemukan apa yang dia cari. Wajahnya memerah penuh emosi, dengan rahang mengeras disertai urat-urat yang menonjol di permukaan.


"Siapa, siapa yang sudah berani mencuri berkas itu dari ruanganku?" tanya Evan dengan suara teriakan, membuat para karyawan yang mendengarnya menjadi tegang.


David sendiri hanya diam dengan mengernyitkan keningnya. Dia sama sekali tidak tahu apapun, dia bahkan tidak tahu siapa saja yang masuk ke dalam ruangan atasannya.

__ADS_1


"Kenapa berkas itu bisa tiba-tiba hilang?" David merasa bingung sendiri, padahal sebelumnya tidak pernah ada sesuatu yang hilang di kantor itu, terutama di ruangan sang atasan.


Evan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia mencoba untuk mengingat apa yang dia lakukan terakhir kali dengan berkas itu, dan dia ingat betul bahwa menyimpannya di dalam kotak penyimpanan tersebut.


"Beraninya, beraninya seseorang mencuri di ruanganku!" ucap Evan kembali membuat David terjingkat kaget dari lamunannya.


Evan lalu melihat ke arah David dengan tajam. Hanya laki-laki itu yang tahu tentang berkas pelelangan itu, dan David pula lah yang tahu di mana dia biasa menyimpan berkas-berkas penting.


"Kau 'kan, kau yang telah mengambil berkas itu?" tuduh Evan dengan tajam, membuat David terkesiap.


"Sa-saya tidak tahu apapun, Pak. Sumpah demi Tuhan bahwa saya tidak pernah mengambil apapun dari ruangan Anda,"


"Jadi siapa, hah? Katakan siapa yang sudah mengambil berkas itu?" teriak Evan yang sudah kelap, dengan cepat dia mencengkram kerah kemeja David membuat laki-laki itu menatap dengan nyalang.


"Sungguh saya tidak tahu apapun dan tidak mengambil berkas itu, Pak. Saya berkata dengan jujur," ucap David dengan penuh penekanan, membuat Evan melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar.


"Suruh semua orang berkumpul di aula saat ini juga!" perintah Evan dengan penuh kemarahan.


David menganggukkan kepalanya, dan beranjak pergi dari tempat itu untuk melakukan apa yang Evan perintahkan.


"Dasar brengs*ek, bajing*an! Aku pasti akan menemukan pencuri itu."




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2