
Sherly dibawa paksa oleh polisi atas laporan yang Wina layangkan. Dia berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, begitu juga dengan Sella, tetapi tidak ada satu pun orang yang mempercayainya.
"Aku bersumpah bahwa aku tidak pernah merayu atau pun mengganggu pak Damar, aku bersumpah tidak pernah melakukan apapun, tapi dialah yang mencoba untuk memperk*osaku!" ucap Sherly saat sudah berada di kantor polisi. Berulang kali dia bersumpah untuk membuktikan kejujurannya, tetapi Wina tetap saja menuntut atas kasus perselingkuhan.
Sherly tidak tahu lagi harus berkata apa untuk membuat mereka percaya, dan keadaannya semakin buruk saat Damar datang ke tempat itu.
"Selama ini dia yang menggodaku, bahkan dia kerap mengajakku ke hotel untuk menghabiskan malam bersamanya. Sampai akhirnya kami bertemu di hotel itu, dan dia memaksa agar aku mau menidurinya."
"Apa?" pekik Sherly dengan tidak terima saat mendengar fitnahan yang Damar layangkan untuknya. "Dia bohong. Dia sendirilah yang menyuruhku mengantar paket ke hotel itu, dan aku sama sekali tidak tau kalau dialah yang ada di sana. Dia lalu memaksaku untuk masuk ke kamar dan melecehkanku." Dia berucap dengan tubuh gemetaran.
Keadaan semakin kacau membuat Sella benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, dan mereka tidak punya bukti untuk mendukung pelecehan yang Sherly alami karena perbuatan Damar.
"Aku, aku harus meminta bantuan Evan," gumam Sella sambil beranjak pergi dari tempat itu. Dia harus segera menemui Evan dan meminta pertolongan, karena tidak ada lagi yang bisa membantu mereka selain laki-laki itu.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun dan Fathir sedang berada di rumah sakit untuk menemui Dokter. Terlihat Alma sudah menunggu kedatangan mereka di tempat itu.
Sebelumnya, Fathir sudah bicara dengan kedua orang tuanya setelah mengantar Ayun dan yang lainnya setelah makan malam dari hotel.
Malam itu, kedua orang tuanya meminta maaf sambil menangis tersedu-sedu di hadapannya. Sampai akhirnya dia luluh dan mencoba untuk membicarakan semuanya secara baik-baik.
Karena itulah, hari ini dia dan Ayun ke rumah sakit untuk menemui Dokter yang sudah dipersiapkan oleh Alma dan sang suami.
"Kalian sudah sampai?" tanya Alma sambil tersenyum hangat, dia senang karena Fathir datang bersama dengan Ayun.
Fathir dan Ayun langsung menyalim tangan Alma dengan sopan. "Iya, Tante. Bagaimana kabar Tante hari ini?" Ayun bertanya dengan ramah.
Alma menjawab pertanyaan Ayun dengan ramah pula, dia lalu mengajak mereka untuk segera menemui Dokter yang sudah menunggu di ruangan.
"Selamat siang Tuan, Nyonya. Silahkan duduk." Dokter itu menyambut kedatangan mereka dan segera mempersilahakan untuk duduk.
Fathir segera masuk dan duduk di hadapan Dokter itu, sementara Ayun dan Alma menunggu di depan ruangan.
Dokter memulai sesi itu dengan berkenalan terlebih dahulu, dia ingin agar pasiennya merasa dekat dan percaya padanya.
Setelah itu, Dokter mulai menanyakan bagaimana kondisi Fathir saat ini, serta apa yang sedang dirasakan hingga kerap terkena serangan panik.
__ADS_1
Ayun dan Alma yang menunggu di depan ruangan itu tampak cemas. Wajah mereka dipenuhi dengan kekhawatiran, terutama Alma yang terus berdo'a agar putranya baik-baik saja.
"Fathir pasti baik-baik saja, Tante. Aku percaya dengannya," ucap Ayun sambil mengenggam kedua tangan Alma.
Alma tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Terima kasih karena sudah menemaninya, Ayun. Sekarang tante harus pergi, karena sebentar lagi ada pasien yang harus dioperasi."
Ayun menganggukkan kepalanya sambil kembali menenangkan wanita paruh baya itu. Setelahnya Alma beranjak pergi dengan harapan bahwa Fathir benar-benar baik-baik saja.
Setelah menunggu lebih dari satu jam, akhirnya Fathir keluar dari ruangan itu membuat Ayun langsung beranjak dari kursi.
"Kau baik-baik saja, Fathir?" tanya Ayun dengan khawatir, apalagi wajah laki-laki itu terlihat pucat.
Fathir menganggukkan kepala. Dia masih bisa menahan diri dan mengendalikan rasa takut serta gelisahnya. "Aku tidak apa-apa, Ayun. Ayo, kita pergi!"
Ayun mengangguk lalu mengikuti langkah Fathir untuk pergi dari tempat itu. Tanpa ditanya, Fathir menceritakan apa yang dia lakukan bersama Dokter tadi, membuat hatinya menjadi tenang.
Dalam sesi pertama, pasien hanya perlu membuka hati pada Dokter dengan menceritakan bagaimana perasaannya, serta hal-hal apa saja yang disukai dan tidak disukai.
"Aku sudah tanya Dokter, dan dia memperbolehkanmu untuk ikut masuk bersamaku pada sesi berikutnya," ucap Fathir.
Perasaan yang sempat kacau mendadak kembali tenang saat mendengar ucapan Ayun, sungguh wanita itu sudah seperti obat untuk Fathir sendiri.
"Ayun!"
Langkah Ayun dan Fathir terhenti saat mendengar panggilan seseorang. Mereka lalu menoleh ke belakang dan terkejut saat melihat keberadaan Evan dan Sella.
Sella sendiri menatap Ayun dengan nanar. Sudah lumayan lama dia tidak pernah lagi bertemu dengan wanita itu, dan sekarang Ayun terlihat sangat cantik dan berwibawa di matanya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Ayun?" tanya Evan dengan senyum lebar.
Ayun tersenyum untuk membalas senyum laki-laki itu. "Aku sedang menemani Fathir untuk mengurus sesuatu di tempat ini." Dia menjawab dengan pelan.
Evan menganggukkan kepalanya lalu bergantian menyapa Fathir juga, membuat Fathir merasa sedikit heran.
"Saya sehat, Tuan," jawab Fathir.
__ADS_1
Evan kembali menganggukkan kepalanya. Sekuat tenaga dia menahan rasa sakit yang entah kenapa menusuk dadanya saat melihat Ayun dan Fathir.
"Bagaimana kabarnya, Tante?" tanya Ayun pada Sella dengan ramah.
Sella tercengang karena tidak percaya bahwa Ayun akan menyapanya seperti ini. "Ta-tante baik, Ayun." Dia menjawab dengan tergagap.
Ayun terlihat senang saat mendapat jawaban dari Sella, kemudian mereka pamit untuk pergi lebih dulu karena harus menemui Sherly di kantor polisi.
"Ka-kantor polisi?" tanya Ayun dengan kaget. Mungkinkah Sherly ketahuan mencuri lagi hingga tertangkap?
Evan menganggukkan kepalanya, dia sendiri merasa sangat terkejut saat mendengarnya. "Benar. Dia menjadi korban pelecehan, tapi malah dia yang dilaporkan."
"Astaghfirullah," ucap Ayun dengan terkejut, begitu juga dengan Fathir yang menatap dengan tajam. "Ke-kenapa bisa sampai seperti itu?" Dia merasa tidak tega jika ada seorang wanita yang diperlakukan seperti itu.
Evan lalu melirik ke arah Sella agar wanita itu menceritakan apa yang terjadi, karena dia pun sebenarnya belum tahu persis bagaimana bisa Sherly sampai terkena hal seperti itu.
Dengan ragu, Sella menceritakan semua yang telah terjadi pada putrinya sesuai dengan pernyataan Sherly. Dia juga mengatakan tentang fitnah yang mereka diterima dari semua orang.
Ayun dan Fathir saling pandang saat mendengarnya. Entah kenapa kejadian yang menimpa Sherly saat ini mirip dengan apa yang terjadi di masa lalu, hanya saja memiliki perbedaan benar dan salah.
"Semoga semuanya cepat selesai dan Sherly mendapatkan keadilan atas apa yang terjadi," ucap Ayun.
Sella menganggukkan kepalanya, dia dan Evan lalu bergegas pergi dari tempat itu untuk menemui Sherly yang mungkin sudah mendekam dalam penjara.
"Seperti itulah hidup. Jika suatu benda sudah rusak sejak awal, maka akan terus dipandang rusak olah orang lain. Sama seperti apa yang terjadi pada wanita itu," ucap Fathir membuat Ayun langsung menoleh ke arahnya, lalu mata mereka kembali bertemu.
"Kau benar, Fathir. Semoga kita dijauhkan dari segala mara bahaya dan fitnah. Tapi aku merasa kasihan dengan Sherly. Biar bagaimana pun, tidak ada wanita yang tidak hancur saat kehormatannya diinjak-injak seperti itu."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1