Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 93. Rencana Pernikahan.


__ADS_3

Semua orang tercengang dengan tatapan tidak percaya saat mendengar jawaban Hasna, sementara Hasna sendiri menunduk malu dengan wajah bersemu merah.


"Ne-nenek serius?" tanya Ezra dengan tajam sambil merangkul lengan sang nenek.


Mendengar suara Ezra, semua orang tersadar dari keterkejutan mereka. Sementara Hasna sendiri menoleh ke arah sang cucu sambil menganggukkan kepalanya.


"Masyaallah, Bu," pekik Ayun sambil beranjak dari sofa lalu terduduk tepat di samping kaki sang ibu, membuat Ezra spontan ikut duduk dilantai. "Aku sangat bahagia mendengarnya, Bu." Dia meletakkan kepalanya di atas pangkuan sang ibu.


Yuni juga mengungkapkan kebahagiaannya saat mendengar jawaban sang ibu. Dia bahkan sampai mengecup wajah ibunya dengan penuh syukur karena merasa benar-benar bahagia.


Sama dengan Ayun dan Yuni, Angga dan Ezra juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka saat mendengarnya, sampai tidak sadar jika Keanu dan Nindi sudah berada di tempat itu.


"Sepertinya kami datang disaat yang tepat, yah."


Semua orang tampak terkejut saat melihat keberadaan Keanu dan Nindi, terutama Hasna yang langsung mengusap air matanya.


"Kalian sudah datang?" seru Ayun sambil beranjak mendekati Nindi. "Bagaimana kabarmu, Dek. Apa kau sehat?" Dia bertanya seraya memeluk tubuh Nindi dengan erat.


"Alhamdulillah aku sehat, Mbak. Mbak juga sehatkan?"


Ayun menganggukkan kepalanya sambil melerai pelukan mereka. "Alhamdulillah sehat juga, Dek. Bukan hanya sehat, tapi mbak juga merasa sangat bahagia." Dia berucap dengan senyum lebar.


Hasna langsung memalingkan wajahnya karena merasa sangat malu, sementara Nindi tampak menatap sang kakak dengan penuh tanda tanya.


"Apa ada kabar baik, Mbak?" tanya Nindi kemudian.


Ayun kembali mengangguk sambil mempersilahkan mereka untuk duduk, begitu juga dengan Keanu yang duduk di samping Angga.


"Nah, kebetulan Nindi berkunjung ke rumah kita, Bu. Alangkah baiknya kalau Ibu sendiri yang mengatakan keputusan Ibu padanya," ucap Ayun sambil melirik ke arah sang ibu.


Hasna menarik napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. "Begini, Nindi. Tante ingin mengatakan jika tante, tante bersedia untuk menikah dengan papamu."


Nindi terperanjat dengan kedua mata membelalak lebar karena merasa tidak percaya dengan ucapan Hasna, begitu juga dengan Keanu yang sampai beranjak berdiri dari sofa.


"Ta-tante serius?" tanya Keanu.


Hasna mengangguk. "Inysaallah tante serius, Keanu."


Nindi langsung menghampiri Hasna lalu menangis dalam pelukan wanita paruh baya itu. "Terima kasih, Tante. Terima kasih banyak karena sudah menerima papa." Dia benar-benar merasa sangat bahagia.


Hasna ikut menangis bahagia atas reaksi yang Nindi berikan. Lautan syukur terus dia panjatkan, atas kebaikan dan kebahagiaan yang telah Tuhan berikan pada keluarganya saat ini.

__ADS_1


Setelah semua keharuan selesai, Nindi mulai membagi-bagikan ole-ole yang sudah dia siapkan untuk semua orang. Mulai dari yang masih kecil sampai dewasa, semua dapat bagiannya masing-masing.


Ayun dan keluarganya merasa senang menerima ole-ole dari Nindi, apalagi barang-barang yang wanita itu berikan memiliki harga yang sangat fantastis.


"Jadi, apa yang harus kita siapkan setelah ini?" tanya Ayun pada mereka semua.


Menurut kesepakatan bersama, pernikahan Hasna dan Abbas akan dilakukan dalam waktu dekat. Tidak lagi ada alasan untuk menunda hal baik, apalagi semuanya sudah setuju.


"Nanti aku akan mengatakannya pada papa. Setelah dapat tanggal yang baik, kita semua akan mempersiapkannya," sahut Nindi.


Semua orang mengangguk setuju dengan apa yang Nindi katakan, sementara Hasna hanya bisa menghela napas kasar saat melihat begitu semangatnya mereka untuk menyiapkan pesta pernikahannya.


Akhirnya malam itu semua orang sibuk membahas tentang apa-apa saja yang harus disiapkan, padahal semuanya akan langsung beres jika diserahkan pada Keanu.


"Mbak, ikut aku sebentar yuk!" bisik Nindi sambil mendekatkan tubuhnya ke arah sang kakak.


Ayun menatap Nindi dengan heran dan bertanya-tanya, dia lalu mengikuti wanita itu yang berjalan ke arah luar.


"Ada apa, Nindi? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Ayun dengan khawatir.


Nindi menggelengkan kepalanya. "Duduklah sebentar, Mbak. Aku ingin mengatakan sesuatu." Dia menepuk kursi yang ada di sampingnya. Saat ini mereka sedang berada di samping kolam.


Ayun mengukuti permintaan Nindi dan duduk di kursi itu. Terpaan angin malam terasa sejuk menyapu kulit wajahnya, membuat hatinya terasa tenang.


Ayun ikut tersenyum hangat sambil mengusap punggung tangan Nindi. "Alhamdulillah, Dek. Kita harus selalu bersyukur untuk segala nikmat yang Allah berikan."


Nindi menganggukkan kepalanya. Terlalu banyak kebahagiaan yang menghampiri hidupnya, sampai rasa-rasanya semua ini tidak nyata.


"Alhamdulillah sekarang papa sudah berjodoh dengan tante Hasna, dan semoga semuanya berjalan lancar," ucap Nindi dengan senang, dan langsung diaminkan oleh Ayun. "Lalu, bagaimana dengan Mbak?" Dia menatap sang kakak dengan serius.


Ayun terdiam. Tentu saja dia tahu ke mana arah pembicaraan sang adik saat ini, dan jujur saja jika dia sama sekali belum memikirkannya.


"Aku tahu jika apa yang terjadi di masa lalu sudah sangat menyakiti hati Mbak, dan mungkin aku tidak akan sanggup jika berada di posisi itu," sambung Nindi. "Tapi Mbak, kami juga ingin melihat Mbak hidup bahagia dengan keluarga kecil Mbak." Dia berucap dengan lirih.


Ayun tersenyum. "Saat ini Mbak sudah sangat bahagia, Nindi. Mbak bahagia bisa bersama dengan anak-anak, bersama dengan ibu, adik, dan semua orang yang mbak sayangi. Mbak tidak ingin apapun lagi."


Nindi menghela napas kasar karena tidak bisa membantah ucapan sang kakak, karena apa yang Ayun ucapkan memang benar adanya.


"Itu memang benar, Mbak. Tapi orang tua kita pasti juga ingin yang terbaik untuk Mbak, dan ingin agar Mbak juga memiliki pendamping. Ezra dan Adel pasti juga berpikir demikian," tambah Nindi lagi. Mungkin hanya sampai di sini sajalah dia bisa membujuk Ayun untuk menikah lagi.


Ayun menganggukkan kepala. Mungkin apa yang adiknya itu katakan adalah benar, tetapi dia sendiri juga masih takut untuk kembali memulai sebuah hubungan.

__ADS_1


"Mbak serahkan semuanya pada Allah, Dek. Kalau Allah berkehendak, maka Allah akan membukakan pintu hati Mbak ini. Tapi baiklah, Mbak akan memikirkannya," sahut Ayun.


Nindi tersenyum senang mendengar ucapan terakhir sang kakak, dia langsung memeluk tubuh kakaknya itu dengan erat.


Waktu semakin larut, Keanu dan Nindi memutuskan untuk berpamitan pulang pada mereka semua.


Dalam perjalanan, Nindi terus membahas tentang hubungan Ayun dan Fathir. Dia sudah berusaha untuk membuat wanita itu membuka hati, dan sisanya harus laki-laki itu sendirilah yang berusaha.


"Sudahlah, do'akan saja jika mereka berjodoh," ucap Keanu, dia malas mempersulit keadaan.


Sesampainya di rumah, Nindi langsung mencari keberadaan sang papa yang sedang menonton televisi. Dengan semangat dia memeluk tubuh papanya itu, membuat sang papa merasa heran.


"Selamat, Papa. Selamat berbahagia," seru Nindi sambil memeluk tubuh sang papa dengan erat.


Abbas menatap Nindi dengan bingung dan terheran-heran, dia lalu melirik ke arah Keanu seolah-olah sedang bertanya apa yang terjadi pada putrinya itu.


"Papa, tadi kami sedang membahas masalah penting di rumah mbak Ayun," ucap Nindi, dan dibalas dengan anggukan kepala sang papa.


"Masalah penting apa, Sayang? Semua baik-baik saja 'kan?" Abbas tiba-tiba merasa khawatir.


Nindi menganggukkan kepalanya. "Semua baik-baik saja, Pa. Bahkan sangat baik. Tadi kami membahas tentang rencana pernikahan papa dan tante Hasna."


"Oh, pernikahan papa dan-" Abbas tidak dapat melanjutkan ucapannya saat baru menyadari ucapannya. Sontak dia menoleh ke arah Nindi dengan tatapan tajam. "Ka-kau bilang apa, Sayang?" Dia kembali bertanya


Nindi tersenyum. "Masyaallah tabarakallah, Pa. Tante Hasna sudah menerima lamaran Papa, dan bersedia untuk menikah dengan Papa."


Deg.


Tubuh Abbas langsung membeku saat mendengar ucapan Nindi. Kedua matanya terbuka lebar dengan mulut yang tidak bisa untuk mengeluarkan suara.


"Tante sudah mengatakan semuanya padaku, Pa. Dan Tante benar-benar ingin menikah dengan papa."


Abbas langsung memeluk tubuh Nindi dengan erat untuk meluapkan apa yang sedang dirasakan saat ini.


"Alhamdulilah, ya Allah. Terima kasih, terima kasih banyak karena telah membukakan pintu hatinya untuk menerimaku," ucap Abbas dengan gemetar, seluruh tubuhnya juga ikut gemetaran karena luapan kebahagiaan itu


"Papa harus bicara langsung dengan Hasna."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2