
Ayundya Nadira, adalah seorang istri dan ibu dari dua orang anak yang hampir 24 jam menghabiskan waktu di dalam rumah. Dia mengabdikan diri untuk mengurus semua keperluan suami dan anak-anaknya, tidak lupa kedua mertua yang juga tinggal bersama dengan mereka.
Namun, kesetiaan dan pengabdiannya sama sekali tidak dihargai oleh sang suami. Suaminya yang bernama Evan tega menduakan cintanya, laki-laki itu bahkan ketahuan menikah siri dengan wanita bernama Sherly hingga mempunyai anak berumur 3 tahun.
Rumah tangga yang sudah berjalan selama 20 tahun hancur begitu saja karena perselingkuhan Evan, yang tentu saja membuat hati Ayun hancur berkeping-keping. Kesetiaan, cinta, dan pengorbanan yang selama ini Ayun berikan hancur tidak tersisa.
Namun, Ayun memilih untuk bangkit dan menghadapi semuanya. Dengan bantuan dan dukungan dari orang-orang yang baik dan menyayanginya, dia berhasil menggugat cerai Evan, bahkan sampai mendapatkan hak asuh kedua anaknya juga mendapatkan hak kepemilikan atas harta mereka.
Bukan hanya sampai di situ saja, bahkan semua masalah datang bertubi-tubi menimpa hidup Ayun. Mulai dari penyakit ibunya yang semakin parah dan harus melakukan transplantasi ginjal, sampai sebuah kenyataan yang membawanya pada kebenaran tentang siapa ayah kandungnya.
Pertemuan Ayun dan Nindi yang tidak disengaja, membawa Ayun pada kebenaran tentang ayah kandungnya. Seorang lelaki paruh baya yang masih sangat tampan dan gagah berani, mantan seorang Jenderal bernama Abbas yang juga merupakan ayah kandung Nindi.
Semua tabir rahasia terkuak begitu saja, hingga memunculkan polemik dan tanda tanya besar tentang apa yang terjadi antara Abbas dan ibunya Ayun yang bernama Hasna di masa lalu.
Ayun merasa hidupnya seperti berada di atas roller coaster. Kadang menurun hingga menguras emosi, dan kadang naik hingga membuat kebahagiaan melambung tinggi. Walau pada awalnya dia merasa kecewa, sakit, dan tidak bisa menerima tentang semua kebenaran yang terjadi. Namun, pada akhirnya dia membuka hati dan menyerahkan semuanya pada takdir ilahi.
Setelah semua kebenaran terungkap, Ayun masih harus mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Nindi. Seorang wanita lemah lembut dan baik hati, yang rela menerima keberadaannya sebagai anak kandung dari Abbas.
Sebuah perasaan sayang muncul di hati mereka berdua sejak pertemuan di sore itu, dan membuat hubungan mereka menjadi dekat walau baru saja saling mengenal. Ternyata perasaan itu bukan muncul tanpa sebab, tetapi perasaan itu adalah petunjuk dari Tuhan untuk menunjukkan bahwa mereka adalah saudara seayah.
*
__ADS_1
*
Setelah menghabiskan hampir 6 jam lamanya di ruang operasi, akhinya Dokter keluar dari dalam ruangan itu dengan membawa kabar baik untuk semua orang tentang Ayun dan Nindi. Di mana operasinya berjalan lancar, dan hasilnya pun juga baik.
Semua orang mengucap syukur saat mendengar penjelasan Dokter tentang kelancaran, dan keberhasilan operasi yang Ayun dan Nindi jalani. Apa lagi saat mendengar kondisi mereka baik-baik saja, membuat tangis bahagia pecah diwajah semua orang.
"Terima kasih, ya Allah. Terima kasih," ucap Abbas sambil bersimpuh di lantai, tepat di depan ruang operasi.
Semua orang terkesiap saat melihat apa yang Abbas lakukan, sementara Keanu ikut bersimpuh di samping sang mertua karena ingin mengucapkan syukur juga kepada Allah.
"Tu-tuan." Dokter itu ikut berjongkok karena merasa tidak enak hati saat melihat Abbas dan Keanu bersimpuh, sementara Hasna dan keluarganya menatap mereka dengan berlinang air mata.
Abbas lalu mengangkat tubuhnya sambil menepuk bahu Keanu agar beranjak bangun dari lantai. Mereka lalu kembali berdiri di hadapan Dokter, yang saat ini menatap dengan canggung.
Dokter itu menganggukkan kepalanya dengan senyum lebar. "Sama-sama, Tuan. Walau operasinya berjalan lancar dan hasilnya baik, tapi kita masih harus tetap melakukan pemeriksaan yang sangat ketat atas efek samping yang mungkin akan terjadi." Dia kembali memberi penjelasan.
Abbas dan yang lainnya mengangguk paham saat mendengar ucapan Dokter itu, lalu Dokter memberitahu jika akan segera memindahkan kedua pasien ke dalam ruang ICU.
Adel dan Ezra yang sejak tadi merasa khawatir langsung berpelukan dengan erat saat mendengar penjelasan Dokter. Mereka merasa bahagia karena keadaan ibu mereka baik-baik saja, dan sudah tidak sabar untuk melihatnya secara langsung.
"Kalian semua pergilah makan siang, biar saya dan Ken yang menjaga mereka di ruang ICU," ucap Abbas pada Hasna dan semua keluarga wanita paruh baya itu. Saat ini sudah hampir jam 2 siang, tetapi mereka semua belum ada yang makan.
__ADS_1
Hasna tersenyum saat mendengarnya. "Bagaimana kalau Tuan dulu yang makan? Anda bisa pergi bersama dengan Tuan Keanu, juga Adel dan Ezra. Biar kami yang menunggu mereka sebentar." Dia melihat ke arah Yuni dan Angga yang menganggukkan kepala.
Dengan cepat, Abbas menganggukkan kepalanya untuk membantah ucapan wanita itu. "Tidak perlu, saya tidak-"
Krekutt.
Tiba-tiba suara keramat dari dalam perut Abbas menggema di tempat itu, membuat wajahnya langsung merah padam karena merasa malu.
Hasna dan yang lainnya langsung menundukkan kepala dengan menahan tawa akibat suara keramat itu, sementara Keanu juga tampak memalingkan wajahnya karena tidak mau mertuanya tahu jika dia sedang menahan lucu.
"Ka-kalau gitu saya akan segera kembali," ucap Abbas dengan tergagap. Dia benar-benar merasa malu luar biasa dengan apa yang terjadi. Bisa-bisanya perutnya berbunyi disaat seperti itu, membuat harga dirinya langsung hancur.
Abbas lalu beranjak pergi dari tempat itu dengan menahan rasa malu, tidak lupa dia juga mengajak kedua cucunya dan juga Keanu untuk menikmati makan siang yang sudah terlambat walau rasanya dia ingin mati saja.
Hasna menatap Abbas dengan senyum lebar, jahitan yang ada disekitar perutnya terasa sakit akibat menahan tawa atas apa yang terjadi barusan.
"Tuan, tuan. Sejak dulu Anda memang tidak berubah, hanya senyuman anda saja yang sekarang jarang terlihat."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.