
Fathir terdiam saat mendengar ucapan Keanu. Sesaat kemudian dia beranjak dari kursi sambil menatap laki-laki itu dengan tajam.
"Karna rasa trauma itulah saya tidak bisa maju, Tuan. Saya saja belum bisa mengatasi trauma saya, bagaimana mungkin saya bisa memaksa orang lain untuk melakukannya?" ucap Fathir dengan lirih.
Keanu ikut beranjak dari kursi lalu menepuk bahu Fathir. "Kalian akan sama-sama saling mengobati, Fathir. Percayalah akan perasaanmu padanya. Di masa lalu kalian sudah banyak merasakan kepahitan, dan di masa sekaranglah kalian menuai manisnya kehidupan."
Fathir hanya bisa diam mendengar ucapan Keanu. Memangnya siapa yang tidak mau maju dalam hal ini? Dia hanya tidak ingin malah menjadi racun bagi Ayun, apalagi sampai saat ini dia sama sekali tidak melihat ketertarikan dimata wanita itu untuknya.
"Sudahlah. Aku tidak akan memaksamu, memang lebih baik serahkan semuanya pada Tuhan. Biarlah Dia yang bergerak menyatukan kalian," sambung Keanu kemudian.
Segala sesuatu yang dipaksakan maka hasilnya juga tidak akan baik, dan Keanu tidak ingin semua itu terjadi lagi di antara Fathir dan Ayun.
"Asalamu'laikum."
Keanu dan Fathir tersentak kaget saat mendengar suara seseorang, sontak mereka melihat ke arah pintu di mana Nindi dan Ayun sudah berada di tempat itu.
"Sayang, kau di sini?" seru Keanu dengan senang saat melihat sang istri tercinta, dia segera menghampiri Nindi yang sedang berjalan ke arahnya.
"Iya, Mas. Aku dan mbak Ayun baru pulang dari butik, jadi sekalian mampir," jawab Nindi sambil menepuk dada bidang sang suami.
Keanu mengangguk-anggukkan kepalanya, sementara Ayun hanya tersenyum saja melihat interaksi suami istri itu.
Mereka semua lalu duduk di sofa yang ada dalam ruangan Keanu. Fathir segera memerintahkan office boy untuk membawakan makanan dan minuman untuk mereka.
"Bagaimana, Mas? Apa tamu undangannya sudah diperiksa?" tanya Nindi.
Keanu kembali mengangguk lalu menunjukkan nama-nama yang akan masuk dalam daftar tamu undangan. Ayun juga terlihat bersemangat, tidak disangka kalau tamu yang akan diundang ternyata sangat banyak.
"Silahkan diminum," ucap Fathir sambil meletakkan makanan dan minuman untuk semua orang ke atas meja.
Ayun beralih melihat ke arah laki-laki itu. "Terima kasih, Fathir." Dia berucap dengan senyum manis.
Fathir mengangguk. Dia lalu duduk di samping Ayun sambil memperhatikan apa yang mereka kerjakan.
"Bagaimana kalau kita makan siang di luar?" ajak Keanu.
Nindi langsung mengangguk setuju mendengar ajakan sang suami, dia lalu beralih melihat ke arah Ayun. "Bagaimana Mbak, Mbak tidak ada pekerjaan penting kan setelah ini?"
Ayun menggelengkan kepalanya. "Tidak ada kok. Kalau gitu ayo, kita makan siang bersama!"
Mereka semua lalu beranjak pergi dari perusahaan menuju restoran yang berada tidak jauh dari tempat itu.
Berbagai macam makanan sudah terhidang di atas meja begitu mereka sampai di restoran itu, karena memang Fathir sudah lebih dulu memesannya agar tidak menunggu lama.
"Apa kau suka makanannya? Maaf, aku lupa tanya tadi," ucap Fathir pada Ayun. Dia lupa bertanya makanan apa yang disukai oleh wanita itu.
"Aku suka makanan apa aja kok asalkan halal, jadi jangan khawatir," sahut Ayun. "Terima kasih sudah memesannya duluan."
__ADS_1
Fathir mengangguk. Dia lalu mulai menikmati makan siang itu sambil mendengarkan ocehan Nindi tentang persiapan apa saja yang sudah dilakukan.
Tidak berselang lama, Nindi mendapat panggilan telepon dari sang papa yang menyuruhnya untuk datang ke rumah pamannya bersama dengan Keanu. Dia lalu mengiyakannya dan akan datang setengah jam lagi.
"Ada apa, Dek? Semua baik-baik saja 'kan?" tanya Ayun.
Nindi menganggukkan kepalanya. "Semua baik kok Mbak, papa cuma nyuruh aku dan mas Keanu ke rumah paman." Dia menjawab sambil kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Maaf yah Mbak, kayaknya nanti aku enggak bisa ngantar Mbak pulang." Dia menatap dengan tidak enak hati.
Ayun mengangguk sambil tersenyum. "Enggak apa-apa, Dek. Mbakkan bisa naik taksi." Dia mencoba untuk menenangkan.
Keanu langsung melirik ke atah Fathir dengan tajam membuat laki-laki itu menatap penuh tanda tanya. Dia lalu memberikan sebuah kode sambil melirik ke arah Ayun, seolah menyuruh Fathir untuk melakukan sesuatu.
"Dasar Fathir bod*oh. Kenapa dia gak mengerti kode dariku sih?" Keanu jadi kesal sendiri.
Melihat suaminya seperti cacing kepanasan, Nindi tampak menahan geli lalu kembali beralih melihat ke arah sang kakak.
"Bagaimana kalau Mbak pulang bersama Fathir?" tawar Nindi. Akhirnya dia yang menangkap kode dari sang suami.
Ayun menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, mbak tidak mau merepotkan Fathir." Dia menolak dengan sungkan.
"Enggak merepotkan kok. Ayo, aku akan mengantarmu!" ucap Fathir tiba-tiba.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu dari tadi baru buka suara membuat Keanu geram. Ingin sekali dia memukul kepala Fathir agar bisa lebih peka dengan apa yang terjadi.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Ayun. Dia sendiri tahu jika Fathir adalah laki-laki super sibuk.
"Tidak masalah, aku akan mengerjakannya nanti," sahut Fathir.
Akhirnya mereka semua pergi dari tempat itu menuju tujuan masing-masing. Ayun juga berakhir diantar pulang oleh Fathir walau dia merasa sungkan merepotkan laki-laki itu.
"Apa semua persiapannya berjalan lancar?" tanya Fathir dalam perjalanan.
Ayun yang sedang memperhatikan jalanan beralih melihat ke arah Fathir. "Alhamdulillah lancar, Fathir. Tapi kami baru selesai mengurus masalah pakaian, besok masih harus bertemu pihak WO untuk acara resepsi."
Fathir menganggukkan kepalanya. "Kenapa tidak menyerahkan semuanya padaku saja? Kau kan jadi tidak repot seperti ini." Sekilas dia melihat ke arah Ayun, lalu kembali melihat jalanan.
Ayun tersenyum. "Kenapa malah harus kau yang direpotkan? Kau kan sudah banyak pekerjaan dan masih harus mengatur tamu undangan juga, jadi yang lain biar kami yang mengurus."
Fathir kembali mengangguk sambil tetap melihat lurus ke depan, tiba-tiba dia terpikirkan akan sesuatu dan berniat ingin mengajak Ayun pergi ke tempat itu.
"Aku ingin mengunjungi suatu tempat, maukah kau menemaniku?" tanya Fathir.
Ayun mengernyitkan kening. "Suatu tempat?"
Fathir mengangguk. "Sudah lama sekali aku tidak datang ke sana, pasti bunga-bungaya sudah bermekaran sekarang."
Ayun menatap dengan heran dan bertanya-tanya saat mendengar ucapan Fathir. Apa laki-laki itu ingin mengajaknya ke taman bunga?
__ADS_1
"Bagaimana, kau bisa menemaniku?" tanya Fathir kembali.
Ayun berpikir sejenak. Setelah ini, dia masih harus memeriksa laporan yang diberi David pagi tadi. Namun, rasanya sungkan juga jika menolak ajakan Fathir.
"Baiklah, aku akan menemanimu."
Fathir tersenyum senang, dia lalu melajukan mobilnya dengan sedikit kencang agar cepat sampai ke tempat tujuan.
Beberapa saat kemudian, mobil Fathir sudah tiba di daerah pinggiran kota membuat Ayun semakin bertanya-tanya sebenarnya ke mana arah tujuan mereka saat ini.
"Apa tempatnya masih jauh?" tanya Ayun.
Fathir menggelengkan kepalanya. "Hanya tinggal beberapa menit saja, sabar yah."
Ayun mengangguk. Dia lalu kembali memperhatikan ke tempat sekitar yang sejuk karena mereka mulai memasuki kawasan pedesaan.
Fathir memakirkan mobilnya di halaman sebuah rumah yang terbuat dari bambu. Tampak siempunya rumah itu membuka pintu saat mendengar suara mobilnya.
"Nak Fathir?" seru seorang wanita tua yang sudah berumur 90 tahun.
"Assalamu'alaikum, Nek," ucap Fathir sambil menghampiri wanita tua itu.
Ayun ikut melangkahkan kakinya dengan ragu. Dia sedang bertanya-tanya kenapa Fathir mengajaknya ke tempat ini.
"Wah, siapa ini?" tanya wanita itu saat melihat Ayun.
Ayun tersenyum lalu menyalim tangan wanita itu. "Nama saya Ayun, Nek. Nenek bisa memanggilku dengan sebutan Ayun." Dia berkata dengan lembut.
Nenek itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Kalau gitu ayo, kita masuk!" Ajaknya sambil menggenggam lengan Ayun.
Ayun dan Fathir lalu melangkah masuk ke dalam rumah itu, dia memperhatikan kesekitar tempat karena memang belum pernah datang ke tempat ini.
"Duduklah, nenek akan ambilkan minuman sebentar."
"Tidak usah repot-repot, Nek," ucap Ayun sambil menahan tangan nenek itu. "Kalau boleh, biar aku saja yang mengambilnya. Nenek duduk saja di sini."
Nenek itu mengangguk dan mengizinkan Ayun untuk melakukan apapun di rumahnya, membuat Ayun tersenyum senang dan berlalu pergi ke dapur.
Ayun segera mengambil minuman yang ada di dalam kulkas, tidak disangka di rumah sederhana ini barang-barangnya sangat lengkap.
Ketika akan menuang minuman ke dalam gelas, fokus Ayun tertuju pada sesuatu yang ada di balik jendela. Dengan cepat dia membuka jendela itu dan terkesiap saat melihat pemandangan yang ada di depan matanya.
"A-apa ini?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.