Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 43. Aku Tidak Mau Lagi.


__ADS_3

Malam harinya, setelah selesai menikmati makan malam. Evan dan semua keluarganya tampak berkumpul di ruang keluarga, hanya tinggal Ayun saja yang masih belum berada di tempat itu karena entah pergi ke mana.


"Ke mana ibumu, Adel?" tanya Evan pada putrinya yang sedang bermain ponsel di depan televisi.


Adel mendongakkan kepalanya dan sekilas melihat ke arah sang ayah. "Tidak tahu." Dia menjawab dengan acuh, lalu kembali menunduk dan fokus pada benda pipih yang ada di tangannya.


"Coba kau-" Evan yang akan menyuruh Adel untuk memanggil Ayun tidak jadi mengeluarkan suara saat mendengar derap langkah seseorang di tangga. Dia lalu menoleh ke arah samping, dan mendapati Ayun sedang berjalan turun dari lantai 2.


Ayun tersenyum pada semua orang yang ada di tempat itu dengan manis, lalu mendudukkan tubuhnya di atas karpet, tepat berada di samping Adel.


"Lihat deh Bu, bajunya cantik 'kan?" ucap Adel sambil menunjukkan ponselnya pada sang ibu, tepatnya menunjukkan foto sebuah baju yang dia inginkan.


"Adel mau beli itu?" tanya Ayun sambil memperhatikan baju yang Adel tunjukkan. Bagus juga, pikirnya.


Adel langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat, dia lalu kembali menunjukkan model baju yang lainnya untuk memilih mana di antara baju-baju itu yang paling cantik.


Evan menatap tajam ke arah dua wanita beda generasi itu. Sejak kapan Adel menjadi sangat dekat dengan Ayun, bukankah selama ini putrinya selalu meminta apapun dari dia?


"Apa kau tidak mau menunjukkannya pada ayah, Del? Ayah kan yang paling tahu mana baju yang bagus dan mana yang tidak," ucap Evan tiba-tiba, membuat Ezra dan Adel langsung menatapnya dengan tajam secara bersamaan.


Ayun yang mendengar ucapan sang suami jelas merasa tersindir. Memang sih selama ini dia tidak memperhatikan pakaian yang dipakai. Asal masih bagus dan menutup auratnya, maka tidak menjadi masalah.


"Ibu juga tahu, Kok. Ayah kan sibuk," jawab Adel sambil melengos ke arah samping, dengan suara yang terdengar ketus.


Evan terdiam saat mendengar apa yang putrinya katakan, sementara Ezra tersenyum penuh arti saat mendengar ucapan Adel. Dia merasa bangga karena adiknya sudah banyak belajar darinya, tentu saja dia yang setiap hari mengajari Adel untuk berkata seperti itu.

__ADS_1


"Oh ya, besok ada pelanggan VIP ku yang akan datang bertamu. Aku harap kita semua bisa menyambut mereka dengan baik. Mereka juga akan makan siang bersama dengan kita, aku harap kau menyiapkan hidangan yang sangat enak, Ayun," ucap Evan dengan serius, sambil melirik ke arah Ayun yang juga sedang menatapnya.


"Siapa, Van? Apa penting?" tanya Beni. Sudah lama juga mereka tidak menerima tamu.


"Tuan Burhan, Yah. Dia sedang berkunjung ke kota ini bersama dengan keluarganya, jadi ingin sekalian bertemu dengan kita," jawab Evan dengan jelas.


Lalu Evan kembali menekankan pada mereka semua agar tidak membuat kesalahan di depan tamunya, karena akan berdampak buruk untuk kerja sama mereka nantinya.


"Apa kau mengerti, Ayun?" tanya Evan sambil menatap Ayun dengan tajam membuat Ayun terkesiap dari lamunannya. "Mungkin kau bisa menyiapkan masakan-"


"Bagaimana kalau kita makan siang di restoran saja?" ucap Ayun dengan cepat, membuat Evan tidak bisa melanjutkan ucapannya.


Evan dan kedua orang tuanya menatap Ayun dengan heran. Biasanya wanita itu akan sangat bersemangat, dan sudah sibuk menyebutkan menu makanan yang akan dimasak. Namun, kenapa sekarang malah membahas restoran?


Ayun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Akhir-akhir ini aku merasa lelah, dan malas masak. Jadi, kita makan di restoran saja." Dia menjawab dengan cepat.


Evan terdiam untuk beberapa saat karena merasa terkejut dengan ucapan Ayun, dia lalu tersenyum sinis karena tahu jika wanita itu pasti sedang bermain trik dengannya.


"Jadi, kau merasa lelah dan malas untuk menjamu tamuku? Apa seperti ini kau memperlakukan rekan bisnis suamimu sendiri karena ingin mempermalukanku?" tanya Evan dengan nada suara yang sudah naik 1 oktaf, membuat Adel menghela napas kasar dan beranjak pergi dari tempat itu.


Ayun menggelengkan kepalanya. "Tidak sampai seperti itu kok, aku cuma memberi saran saja." Dia berucap dengan senyum lebar. "Atau suruh saja maduku untuk menyambut mereka, malah lebih bagus, 'kan?" Sambungnya dengan penuh penekanan membuat kedua mertuanya tercengang di tempat mereka.


Sejak kejadian siang tadi, Ayun terus memikirkan keberadaannya dan Sherly dalam hidup Evan. Dari ucapan wanita itu, jelas terlihat bahwa Evan sangat memperhatikan wanita itu. Sesuatu yang selama 20 tahun ini tidak dia dapatkan, bahkan saat-saat manis di awal pernikahan pun tidak pernah dia rasakan.


Sungguh miris sekali, ternyata benar jika selama ini Evan tidak mencintainya. Lalu, untuk apa sebenarnya laki-laki itu menikahinya? Bahkan pernikahan mereka sampai bertahan selama 20 tahun lamanya.

__ADS_1


Kembali lagi pada suasana saat ini, di mana Evan menatap Ayun dengan penuh kemarahan, sementara kedua mertuanya menatap dengan bingung dan terheran-heran.


"Kenapa terkejut seperti itu, Mas? Bukankah selama ini dia tidak pernah tampil di depan umum sebagai istrimu, kasihan 'kan kalau disimpan terus menerus?" ucap Ayun dengan sarkas, benar-benar membuat kedua mertuanya tidak bisa berkata-kata sangking terkejutnya.


Evan menatap wanita itu dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin Ayun berkata seperti itu di depan orangtuanya? Matanya berkilat marah.


"Kau ingin kembali bertengkar denganku?" tanya Evan dengan suara  tertahan. Andai tidak ada orang tuanya, dia pasti sudah menyeret wanita itu untuk masuk ke dalam kamar.


"Tidak," bantah Ayun sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Sudah kubilangkan, aku hanya memberi saran saja." Dia kembali mengulang ucapannya.


"Kau-"


"Sudah, cukup. Hentikan perdebatan kalian itu!" ucap Beny dengan tajam, kepalanya sudah pusing melihat pertengkaran setiap hari. "Tidak ada yang salah dengan apa yang Ayun katakan, sekali-kali kita bisa makan bersama dengan tamu di restoran. Jadi tidak ada lagi yang harus di perdebatkan." Dia berucap dengan penuh penekanan.


Evan menggertakkan giginya karena tidak bisa membantah ucapan sang ayah, sementara Ayun tersenyum simpul saat mendengarnya.


"Aku tidak tahu kalau bersikap seperti ini terasa menyenangkan, Mas. Pantas kau selalu melakukannya padaku."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2