Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 84. Menyusun Strategi.


__ADS_3

Semua tim penyidik menganggukkan kepala mereka saat mendengar perintah dari sang atasan, setelah itu mereka semua bubar dari tempat itu untuk segera menjalankan tugas.


Sementara itu, di tempat lain terlihat pelelangan yang diperjuangkan oleh Evan sudah selesai dilaksanakan. Burhan dan Nia tertawa senang saat mendapatkan apa yang mereka inginkan, bahkan keuntungan mereka bisa berkali-kali lipat jika sudah mengelola tanah yang didapatkan.


Tiba-tiba, tawa yang ada diwajah Burhan menghilang saat mendapat panggilan masuk dari asisten pribadinya. Dia lalu menjawab panggilan itu dan terlibat percakapan yang serius dengan sang penelepon.


"Nia, kita sepertinya dalam masalah besar," ucap Burhan saat sudah selesai bicara dengan asistennya, dan menghampiri sang istri.


Nia yang sedang menghitung total pengeluaran uang dari hasil lelang memalingkan wajahnya ke arah sang suami. "Apa maksudmu?" Dia bertanya dengan tidak mengerti.


Burhan lalu mengatakan jika Evan sudah melaporkan tentang berkas yang mereka ambil ke kantor polisi, dan saat ini proses penyelidikan sudah berjalan. Lalu mereka diminta datang sebagai saksi atas kasus itu.


Nia terdiam dengan tatapan kaget saat mendengar ucapan sang suami, tetapi sebelumnya dia sudah memprediksi bahwa Evan pasti akan membawa polisi saat menyadari hilangnya berkas yang saat ini ada padanya.


"Kenapa kau panik seperti ini? Tenang saja, aku sudah menyiapkan semuanya," ucap Nia dengan santai. Dia lalu menyimpan semua berkas-berkasnya ke dalam tas dan mengajak Burhan untuk pergi dari tempat itu.


"Tunggu!"


Nia dan Burhan menghentikan langkah mereka saat mendengar panggilan seseorang, mereka lalu menoleh ke belakang dan melihat Akmal sedang berjalan ke arah mereka.


"Akmal? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Burhan dengan tajam. Padahal laki-laki itu tidak ikut acara, tetapi datang ke tempat ini.


Akmal tersenyum saat mendengar pertanyaan Burhan. "Aku bukan laki-laki bod*oh seperti Evan yang bisa kalian tipu, aku tahu jika kalianlah yang mengambil berkas itu. Benar 'kan?" Dia bertanya dengan tajam, dan memasang smirik iblisnya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa maksudmu, Akmal," bantah Nia dengan cepat, dia lalu menatap laki-laki itu dengan tajam.


"Ayolah, Nia. Kau pikir aku tidak tahu permainanmu?" Akmal tergelak. "Aku memang tidak tahu bagaimana kau mendapatkannya, tapi aku tau jelas kalau sejak awal kalian tidak memiliki formulir itu. Lalu tiba-tiba kalian mendaftar ulang, scan, dan mengurus berkas akhir. Kalian pikir aku tidak tahu?"


Nia dan burhan terdiam saat mendengar ucapan Akmal. Si*alan juga laki-laki itu, bisa-bisanya mencari kesempatan seperti ini.


"Jadi sekarang maumu apa, Akmal?" tanya Burhan secara langsung, membuat Akmal tersenyum cerah.


"Ternyata kau cerdas juga, Burhan. Aku tidak akan memberitahu siapa pun tentang ini, asal kalian kau memberi bagian padaku."


Nia langsung berdecak kesal saat mendengarnya. Dia sudah bisa menduga bahwa laki-laki itu meminta bagian.


Tidak mau semakin runyam, Nia langsung melemparkan cek ke hadapan Akmal senila 100 juta untuk tutup mulut membuat laki-laki itu tersenyum lebar.


***


Dua hari kemudian, sesuai dengan surat panggilan dari pihak kepolisian. Burhan dan Nia datang ke kota itu untuk memenuhi panggilan mereka, tentu saja berita itu sampai ke telinga Evan membuat dia dan sang pengacara bergegas ke kantor polisi untuk mengetahui apa yang terjadi.


Nia dan Burhan masuk ke ruangan yang berbeda dengan tim penyidik masing-masing. Mereka lalu mengatakan dengan jujur bahwasannya berkas milik Evan ada pada mereka, dan mereka mendapatkannya dari Sherly karena wanita itulah yang menjualnya.


"Saya membelinya sebesar 50 juta, dan itu karena dia yang memberikan tawaran," ucap Nia. Dia lalu menunjukkan chat'annya dengan Sherly yang memang selalu wanita itu duluan yang menghubunginya.


Pihak penyidik segera mencatat dan menyita formulir pelelangan itu dari tangan Nia karena biar bagaimana pun itu adalah milik Evan, tetapi Nia tahu jika berkas itu akan kembali padanya karena dia sudah berkata jujur dengan dalih membeli.

__ADS_1


Sama halnya dengan Burhan. Tentu saja dia sudah menyamakan jawaban dengan istrinya, selain itu dia mengatan tidak tahu dan hanya mengikuti apa yang Nia lakukan saja.


Hampir satu jam lamanya mereka berada dalam ruang penyidik, setelah itu dipersilahkan keluar dan dilarang keras untuk bepergian jauh.


Evan yang sudah ada di tempat itu langsung menghampiri Nia dan Burhan. "Apa yang kalian lakukan di sini?" Dia bertanya dengan tajam karena belum mendengar hasil penyelidikan dari polisi.


Nia menghela napas kasar dan pura-pura menyesal. "Maaf, Tuan Evan. Lebih baik Anda tanyakan saja hal itu pada istri muda Anda, pasti jawabannya jauh lebih jelas." Lirihnya membuat Evan mengernyitkan kening bingung.


"Apa-" Evan tidak jadi melanjutkan ucapannya saat melihat tim penyidik keluar dari ruangan, bahkan ada polisi wanita juga yang bersama mereka.


"Segera sampaikan surat penangkapan ini, dan bawa tersangka ke kantor polisi sekarang juga," ucap salah satu polisi pada tim penyidik membuat Evan dan pengacaranya terkesiap.


Dengan cepat Evan menghampiri mereka. "Katakan, katakan siapa yang sudah mengambil milikku, karena aku sendiri yang akan menangkapnya." Dia merasa senang karena tersangka sudah ditetapkan, mungkinkah dia David?


Polisi itu melihat ke arah Evan dan memberikan surat keterangan tersangka. "Kami sudah menetapkan tersangka dari kasus hilangnya barang berharga Anda, yaitu Nyonya Sherly Ralisya."


"Apa?" Evan memekik kaget dengan mata terbelalak lebar saat mendengar ucapan polisi tersebut. "Kau, kau bilang apa?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2