
Tiba-tiba Endri bersuara membuat Mery dan Evan terkesiap, dia menghampiri mereka yang sejak tadi tampak sedang berbisik-bisik.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ayah, Evan? Kau sama sekali tidak menemui mereka, 'kan?" sambung Endri kemudian.
Evan terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan sang ayah karena memang belum menemui Ezra dan juga Adel. Namun, dia bukannya tidak mau bertemu dengan mereka. Hanya saja ada begitu banyak pekerjaan yang membuat dia selalu lupa.
"Aku akan segera menemui mereka, Yah. Aku hanya-"
"Sudahlah, semua itu terserah padamu," potong Endri dengan cepat. Selama ini dia sudah lelah mengingatkan Evan, dan terserah saja jika laki-laki itu memang tidak mau bertemu dengan Ezra dan juga Adel.
Namun, Endri merasa khawatir jika Evan terus bersikap seperti ini. Dia takut jika jarak di antara laki-laki itu dan kedua cucunya semakin besar, maka akan susah untuk kembali dipersatukan.
Evan kembali diam sambil menundukkan kepalanya. Dia berjanji jika semua urusannya sudah selesai, maka dia pasti akan menemui Ezra dan juga Adel. Namun, apakah mereka mau menemuinya?
Entahlah, semoga saja semuanya segera membaik dengan berjalannya waktu. Evan berharap semoga masih ada maaf dalam hati putra dan putrinya itu, jika tidak pun maka dia akan berusaha keras untuk mendapatkan maaf tersebut.
*
*
Keesokan harinya, seperti biasa Adel berangkat sekolah dengan di antar oleh sang kakak. Dengan semangat, dia melangkahkan kakinya untuk memasuki gerbang sekolah sebelum bel masuk berbunyi.
"Adel!"
Langkah Adel terhenti saat mendengar panggilan seseorang, sontak dia menoleh ke arah belakang di mana Faiz sedang berjalan ke arahnya.
"Cih, kenapa kau memanggilku?" tanya Adel dengan ketus. Dia menatap Faiz dengan tajam, sementara laki-laki itu malah berjalan dengan santai.
Faiz menghampiri Adel yang terlihat sedang memegangi sesuatu. "Apa itu bekal yang dibuat oleh tante Ayun?" Dia menunjuk ke arah bekal yang ada di tangan Adel, sontak membuat gadis itu menyembunyikannya di balik tubuh.
"Bukan urusanmu!" jawab Adel dengan kesal. Dia segera berbalik dan masuk ke dalam kelas tanpa menghiraukan panggilan Faiz, membuat beberapa siswa yang memperhatikan mereka tampak berbisik-bisik.
Faiz mencebikkan bibir saat tidak mendapatkan tanggapan yang baik dari Adel, padahal dia cuma ingin berbagi bekal yang omanya buatkan untuknya. Lebih tepatnya, dia yang memaksa sang oma supaya membuatkan bekal.
"Cih, aku kan cuma mau makan masakan tante Ayun juga," gumam Faiz dengan sebal. Dia lalu ikut masuk ke dalam kelas yang sama dengan Adel karena memang mereka sekelas.
Tidak berselang lama, jam pelajaran pun dimulai saat guru sudah masuk ke dalam kelas. Guru tersebut menjelaskan jika minggu depan mereka akan mulai melaksanakan ujian, jadi di harapkan agar semua siswa bisa belajar dan fokus untuk hal tersebut.
__ADS_1
Semua siswa tampak panik saat mendengar ujian sudah berada di depan mata, tetapi mereka juga merasa senang karena sebentar lagi akan lulus SMP dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Setelah semua mata pelajaran pagi selesai, bel istirahat pun berbunyi. Inilah saat-saat yang ditunggu oleh para siswa, membuat mereka semua segera berhamburan keluar kelas.
"Ayo kita ke kantin, Adel! Aku pengen makan bakso," ajak salah satu teman Adel.
Adel menggelengkan kepalanya. "Hari ini aku bawa bekal, jadi gak makan di kantin dulu deh." Dia mengambil bekal yang ada di dalam loker, lalu menunjukkan bekal itu pada teman-temannya.
Teman-teman Adel lalu pergi ke kantin untuk menikmati makan siang, sementara Adel sendiri tetap berada di kelas untuk menikmati bekal yang sudah ibunya siapkan.
"Padahal ibu lagi sakit, tapi masih bisa membuatkan bekal untukku," gumam Adel sambil menghela napas kasar.
Adel bukannya merasa tidak suka, hanya saja karena bekal itu ibu dan kakaknya sedikit berdebat pagi tadi.
Ezra marah saat melihat ibu mereka sibuk di dapur, padahal sebelumnya dia sudah memberi peringatan agar ibunya tidak mengerjakan apa-apa, tetapi tetap saja ibunya tidak mau istirahat.
"Adel!"
Adel tersentak kaget saat mendengar suara seseorang membuat lamunannya terhenti, dia lalu menoleh ke arah samping di mana Faiz sudah duduk di sampingnya.
Tanpa menjawab pertanyaan Adel, Faiz langsung meletakkan bekal makan siangnya di atas meja membuat gadis itu menatap dengan heran.
"Kau bawa bekal?" tanya Adel. Memangnya sejak kapan laki-laki itu bawa bekal ke sekolah? Perasaan sejak mereka sekelas dia tidak pernah melihat Faiz membawa bekal.
"Iya. Memangnya cuma kau yang boleh bawa bekal?" sahut Faiz dengan datar dan nada suara yang menyebalkan ditelinga Adel.
Adel langsung mencebikkan bibirnya dengan sengit. "Aku kan cuma nanyak, biasa aja kale!" Dia membuang muka ke arah lain dengan kesal. Memangnya gak bisa apa, ngomong dengan cara baik-baik? Bikin kesal saja.
Faiz tampak tersenyum tipis melihat kemarahan di wajah Adel. Salah sendiri kenapa gadis itu selalu bersikap ketus kepadanya, memangnya dia tidak bisa membalasnya?
"Terus kenapa kau duduk di sini? Pergi sana!" usir Adel sambil mendorong bahu Faiz.
Faiz sama sekali tidak peduli dan tetap fokus membuka bekal yang ada di hadapannya, membuat Adel benar-benar merasa geram.
"Faiz!" bentak Adel dengan kuat membuat Faiz terlonjak kaget akibat suaranya yang cetar membahana. Wajahnya tampak merah padam karena menahan amarah, bisa-bisanya laki-laki itu terus mengganggunya seperti ini.
Faiz mengusap kedua telinganya yang berdengung sakit akibat suara Adel, dia lalu menatap gadis itu dengan tajam.
__ADS_1
"Kenapa kau teriak-teriak sih? Aku kan cuma mau makan bersamamu, apa salah?" ucap Faiz dengan penuh penekanan.
"Aku tidak mau! Sekarang pergi dari sini," tolak Adel. Dia tahu jika Faiz bersikap seperti ini karena ingin mendekatinya agar bisa dekat juga dengan sang ibu.
"Cih, dasar pemarah. Padahal aku mau ngasi bekal buatan omaku untukmu," sahut Faiz sambil menunjuk ke arah bekal yang ada di atas meja.
Adel lalu menoleh ke arah bekal yang ditunjuk oleh Faiz. Matanya langsung berbinar saat melihat menu makanan laki-laki itu, bagaimana mungkin semua adalah makanan kesukaannya?
"I-ini omamu yang buat?" tanya Adel dengan pelan.
Faiz menganggukkan kepalanya. "Kalau kau mau makan aja, aku sengaja bawa banyak supaya bisa berbagi denganmu."
Adel menatap dengan heran dan curiga. Kenapa Faiz ingin berbagi dengannya? Cih, terlihat jelas jika laki-laki itu pasti ada maunya.
"Tapi kalau kau tidak mau ya sudah, aku bisa menghabiskannya sendirian," ucap Faiz sambil mengambil sendok dan akan mulai menikmati makanan itu.
"A-apa, kenapa kau habiskan sendiri?" pekik Adel dengan tidak terima. "Kau kan sudah berniat untuk membaginya denganku, jadi tidak boleh dibatalkan gitu aja. Dosa tau!" Dia berucap dengan menggebu-gebu.
Faiz tersenyum tipis saat mendengarnya. "Yaudah. Ayo, kita makan sama-sama!" Ajaknya sambil mendorong kotak bekal itu ke hadapan Adel.
Adel mengangguk dengan semangat, dia langsung mengambil makanan itu karena sejak tadi perutnya sudah keroncongan.
"Uwah, ini lezat sekali," seru Adel saat makanan itu sudah masuk ke dalam mulutnya. "Apa aku boleh makan lebih banyak?" Dia beralih menatap ke arah Faiz. "Aku juga akan membagi bekal buatan ibu padamu."
"Tentu saja, makanlah sampai kau kenyang," sahut Faiz dengan senyum lebar. Tentu saja dia merasa senang karena ternyata rencananya berjalan sukses.
"Hehe, kena kau, Adel. Aku tau kalau kau suka makan, jadi kau gak akan tahan kalau lihat makanan itu. Cih, gak sia-sia tadi pagi aku merengek sama oma, untung aja dia mau buatkan makanan itu."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1