Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 117. Tagihan Utang.


__ADS_3

Wanita itu langsung mengatakan tujuannya datang mencari Evan, karena sudah lebih seminggu dari tanggal jatuh tempo tetapi Evan belum juga memberikan cicilan pertama padanya.


Mery dan Endri langsung menatap Evan dengan tajam saat mendengar ucapan wanita itu, mereka sedang bertanya-tanya apakah putra mereka punya utang dengan orang-orangyang datang.


"Bisa kita bicara di luar? Saya juga mau bicara dengan tuan Robin," ucap Evan. Dia tidak mau membicarakan masalah utang di depan kedua orang tuanya.


"Kenapa kau mengajak mereka pergi, apa kau takut kalau kami mendengarnya?" tanya Mery dengan tajam. Tampak jelas sekali jika Evan sedang menghindari mereka, dan sepertinya laki-laki itu tidak mau jika mereka mengetahuinya.


Evan menghela napas kasar, dia lalu menyuruh wanita dan dua lelaki yang ada di hadapannya untuk menunggu di luar, karena dia harus bicara dulu dengan ayah dan ibunya.


"Baiklah, kami akan menunggu di luar, Tuan," ucap wanita itu dan berlalu keluar dengan diikuti oleh kedua lelaki yang sedang bersamanya.


Evan menatap kepergian mereka dengan nanar, kepalanya semakin berdenyut sakit karena saat ini harus membicarakannya dengan ayah dan sang ibu.


"Sebenarnya mereka siapa, Evan? Dan kau berutang apa pada mereka?" tanya Mery dengan cepat, dan tatapan matanya tersorot tajam ke arah Evan.


"Aku berutang uang untuk modal mendapatkan pelelangan itu, dan aku meminjamnya dari bos mereka senilai 700 juta,"


"Apa?" Mery dan Endri memekik kaget saat mendengar ucapan Evan. "Kau, kau tidak salah, Evan?" Mery bertanya dengan tajam dan tidak percaya.


Evan kembali menghela napas kasar. "Aku tidak bisa cerita sekarang, Bu. Aku harus segera pergi menemui bos mereka, nanti kita sambung lagi." Dia beranjak keluar dari tempat itu.


"Tunggu, Evan!" teriak Mery dengan kesal. Dia yang akan mengejar Evan langsung dihentikan oleh sang suami.


"Biarkan saja," cegah Endri sambil memegangi tangan Mery yang akan mengejar Evan.

__ADS_1


"Tapi Mas-"


"Kau tahu sendiri bagaimana sifat putramu itu. Selagi dia belum benar-benar terdesak dan hancur, aku yakin kalau dia tidak akan mau mengatakan atau pun berbagi dengan kita," potong Endri dengan cepat. Dia sendiri sudah cukup sabar menghadapi tingkah Evan selama ini, dan sekarang terserahlah putranya itu mau melakukan apa.


Mery terdiam saat mendengar ucapan sang suami. Dia tahu jika Evan sudah sangat keterlaluan dan membuat banyak masalah, tetapi sebagai seorang ibu dia juga merasa khawatir dan takut terjadi sesuatu dengan putranya itu.


Evan yang sudah keluar dari rumah langsung menghampiri orang-orang yang menunggunya di samping mobil mereka. "Saya ingin bertemu dengan tuan Robin, apa beliau ada di kantor?"


Wanita yang ada di hadapan Evan menganggukkan kepala. "Tuan ada di kantor, tetapi beliau sedang sibuk dan tidak bisa diganggu."


Evan berdecak kesal saat mendengarnya, tetapi dia tetap ngotot ingin bertemu dengan Robin agar mendapat keringan tentang uang yang dia gunakan.


Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Sella sedang bicara dengan Hery, pengacaranya Evan. Mereka sedang menyusun rencana untuk membebaskan Sherly dengan menggunakan Suci.


"Anda harus membuat Suci sakit, Nyonya,"


"Dengarkan saya dulu, Nyonya. Semua itu demi membebaskan nona Sherly. Jika seorang anak sakit, maka dia akan semakin mencari ibunya, apalagi dengan kondisi lemah. Dengan begitu, tuan Evan pasti tidak akan bisa lagi menolaknya," ucap Hery memberi penjelasan.


Sella terdiam saat mendengar ucapan Hery, otaknya sedang berpikir keras dengan rencana yang laki-laki itu berikan. Dia lalu melirik ke arah kamar di mana Suci berada, mungkinkah dia sanggup melakukan itu?


"Sudah lebih dari seminggu Nona Sherly berada di penjara, dan sebentar lagi jadwal sidang keluar maka dia harus dipindahkan ke lembaga. Apa Anda mau seperti itu, Nyonya?" tanya Hery dengan tajam dan penuh dengan penekanan.


Sella terkesiap saat mendengarnya. "Ti-tidak, aku tidak ingin seperti itu. Tapi ...." Dia merasa tidak tega dengan Suci, tetapi jika jadwal sidang Sherly sudah keluar, maka tidak ada harapan lagi untuk mereka.


"Semua keputusan ada di tangan Anda, Nyonya. Saya tidak menyuruh Anda menyakiti cucu Anda, hanya buat dia merasa sakit sedikit sampai harus mendapat bantuan Dokter, walau pun tidak parah. Dengan itu saja sudah cukup."

__ADS_1


Sella ingin sekali mencakar wajah Hery saat ini juga, bagaimana mungkin sakit sedikit sampai ditangani oleh Dokter? Bukankah sakit yang terbilang mengkhawatirkan baru ditangani oleh Dokter?


Hery lalu pamit pergi dan meminta Sella segera mengambil keputusan dan menghubunginya, agar masalah ini bisa cepat selesai.


Setelah ngotot ingin bertemu dengan Robin, akhirnya Evan datang juga ke kantor laki-laki itu. Dia langsung masuk ke dalam ruangan saat sudah diperiskan oleh wanita yang tadi.


"Kenapa kau ingin menemuiku?" tanya Robin sambil menatap Evan dengan tajam. Dia adalah seseorang yang biasa meminjamkan dana besar bagi para pengusaha, terkadang ada juga yang menyebutnya sebagai rentenir.


Evan meminta maaf karena sudah menganggu waktu Robin, dia lalu meminta izin agar diperbolehkan untuk mengatakan sesuatu.


"Baiklah, aku akan mendengarnya."


Evan lalu duduk di hadapan Robin saat laki-laki itu sudah menyetujuinya. "Begini, Tuan. Saat ini saya sedang tertimpa masalah." Dia berucap dengan lirih, untuk menarik simpati Robin. Evan lalu menceritakan kasus pencurian yang Sherly lakukan, hingga dia harus mengalami banyak kerugian.


Robin tersenyum sinis saat mendengarnya, begitu juga dengan seorang lelaki yang saat ini sedang mendengarkan cerita Evan dari dalam kamar mandi.


"Untung saja tuan Robin sudah menerimaku, dan aku bergerak cepat. Kali ini kau akan habis, Evan. Aku akan membuatmu kehilangan pekerjaan yang sudah susah payah aku kembangkan itu," gumam David dengan penuh kebencian.


Ternyata, David bergerak cepat dengan melamar pekerjaan di perusahaan Robin, karena dia tahu jika Evan meminjam uang pada laki-laki itu. Lalu, kebetulan juga dia sedang berada di dalam ruangan Robin saat ini.


"Lalu, kau meminta aku untuk bersimpati padamu?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2