Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 7. Kelicikan Sherly.


__ADS_3

Abbas menepuk bahu Ezra dengan pelan mencoba untuk menenangkan cucunya, sementara Ezra sendiri tersenyum tipis dan mencoba untuk menenangkan diri agar tidak tersulut emosi.


Walau bagaimana pun, usaha property itu adalah hasil kerja keras ibunya juga. Terlepas dari apa yang sudah ayahnya lakukan, dia tetap tidak rela jika usaha itu bangkrut begitu saja. Walaupun usaha itu tidak besar, dan tidak sesukses usaha sang kakek.


Ezra lalu mengajak mereka semua ke ruangan sang ayah, setelah itu dia baru menghubungi kakeknya agar memberitahu ayahnya jika dia sedang berada di kantor.


"Kenapa kau tidak mengatakannya langsung pada ayahmu, Nak?" tanya Endri disebrang telepon. Saat ini dia sedang berada di dapur, bersama dengan sang istri.


"Maaf, Kek. Aku tidak ingin bicara dengan ayah," jawab Ezra dengan jujur. Hatinya masih terasa sakit dan benci pada sang ayah, apalagi bicara dengan laki-laki itu.


Endri menghela napas kasar, dia lalu berkata akan bicara dengan Evan dan memberitahu jika saat ini Ezra dan yang lainnya sedang berada di kantor.


"Ada apa, Mas? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Mery dengan khawatir saat sang suami sudah mematikan panggilan telepon itu.


Tanpa menjawab pertanyaan sang istri, Endri langsung saja beranjak dari tempat itu menuju kamar Evan yang sejak tadi tidak keluar dari tempat itu, membuat Mery menatap bingung dan berlalu mengikutinya.


"Evan!" panggil Endri saat sudah berada di depan kamar Evan. Dia mengetuk pintu kamar itu dan terus memanggil sang putra.


Evan yang saat ini sedang berada di dalam kamar mandi tidak mendengar panggilan dari sang ayah, sementara Sherly masih terlelap di bawah selimut akibat pertempuran panasnya dengan sang suami.


Sudah lama Sherly tidak merasakan sentuhan dan kehangatan Evan, itu sebabnya dia memasukkan obat perangs*ang ke dalam minuman lelaki itu yang dia beli kemaren sore. Lalu, efek yang ditimbulkan sangat dahsyat sekali. Di mana mereka melakukannya berulang kali mulai dari semalam sampai pagi ini.


"Evan!"


Panggilan Endri semakin terdengar kuat membuat Suci yang tidur di dalam kamar Adel terbangun. Dia beranjak turun dari ranjang dan berlalu keluar dengan takut.


"Mama?"

__ADS_1


Endri yang akan kembali memanggil Evan tidak jadi melakukannya karena mendengar suara seseorang, dia dan Mery lalu berbalik dan mengernyitkan kening saat melihat Suci.


"Ka-kakek?" ucap Suci dengan pelan dan kepala tertunduk. Dia merasa takut karena suara teriakan laki-laki paruh baya itu, dan teringat apa yang sudah omanya dulu lakukan padanya.


Endri menghela napas kasar dan berlalu mendekati Suci, sementara Mery hanya diam dan enggan mendekati anak dari wanita yang tidak dia sukai.


"Kenapa Suci keluar dari kamar kak Adel? Apa Suci semalam tidur di sana?" tanya Endri dengan pelan, dan dijawab dengan anggukan kepala Suci.


"Kata mama, Suci halus tidul sendili biar pintel," ucap Suci dengan terbata dan cadel.


Endri mendengus kesal. Bisa-bisanya mereka membiarkan anak sekecil Suci tidur sendirian, padahal Adel dan Ezra saja dulu mulai tidur sendirian saat sudah masuk sekolah.


"Sebenarnya ke mana Evan? Kenapa dia tidak-"


"Hoam. Ada apa sih kok ribut-ribut di sini?" ucap Sherly dengan kesal sambil menguap menahan kantuk.


Kedua mata Mery menyala dahsyat saat melihat jam segini Sherly baru bangun tidur. "Kau pikir kau sedang tidur di hotel, hah? Jam segini baru bangun."


"Memangnya bangun pagi-pagi mau ngapain sih, Bu?" tanya Sherly dengan menahan kesal. "Lagian maklum sajalah, kami kan baru menghabiskan waktu berdua. Jadi masih seperti pengantin baru."


Mery semakin menatap Sherly dengan emosi saat mendengar ucapan wanita itu. Bisanya-bisanya Sherly berkata sesuatu yang tidak pantas di hadapan mertuanya sendiri, sementara Endri merasa tidak peduli dan bertanya di mana Evan saat ini.


"Katakan pada suamimu untuk menemuiku di ruang baca," ucap Endri dengan tajam, dia lalu beranjak pergi dari tempat itu.


Sherly hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu mengajak Suci untuk masuk ke dalam kamar. Namun, langkahnya dihalangi oleh sang mertua.


"Ada apa lagi, Bu?" tanya Sherly dengan tidak suka.

__ADS_1


"Cepat cuci wajahmu dan keluar dari kamar. Kau harus membersihkan rumah dan mengurus pakaian, jangan lupa masak untuk suami dan anakmu juga!" ucap Mery dengan penuh penekanan.


Sherly membelalakkan kedua matanya saat mendengar ucapan sang mertua. "Kenapa aku harus mengerjakan semua itu? Itu kan kerjaan pembantu." Dia berucap dengan tidak terima.


Mery langsung tertawa sinis. "Pembantu kau bilang?" Dia menatap dengan tajam. "Di sini tidak ada pembantu, dan yang mengurus semuanya adalah kau." Tangannya terangkat menunjuk tepat ke wajah wanita itu.


Sherly menatap dengan tidak percaya. Dia adalah nyonya di rumah ini, dan bukannya pembantu. Namun, kenapa dia harus mengerjakan semua itu?


"Aku tidak mau, aku akan bilang pada Evan supaya mencari pembantu," ucap Sherly dengan cepat, dan dia bukanlah Ayun yang bisa dijadikan pembantu oleh semua orang. Wanita secantik dia mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak penting itu, apa kata orang cobak?


"Cih, pembantu kau bilang?" cibir Mery. "Dasar wanita lemah. Menantuku Ayun bahkan bisa mengerjakan semuanya tanpa pembantu, kau memang tidak sebanding dengan dia." Dia lalu berbalik dan pergi dari tempat itu.


Kedua tangan Sherly terkepal erat saat mendengarnya. Seenaknya saja wanita tua itu mengatakan bahwa dia tidak sebanding dengan Ayun, padahal Ayunlah yang tidak bisa dibandingkan dengan wanita cantik dan berpendidikan sepertinya.


"Cih, aku bukan pembantu seperti wanita kampung itu," gumam Sherly sambil berlalu masuk ke dalam kamar.


Sementara itu, Evan yang sudah berada cukup lama di dalam kamar mandi belum juga beranjak keluar. Dia merasa heran dengan apa yang sedang dirasakan saat ini, dan bertanya-tanya kenapa dia sangat bernapsu sekali dengan Sherly.


"Si*al. Apa karena sudah lama aku tidak berhubungan, itu sebabnya jadi seperti ini?" gumam Evan dengan bingung. Dia lalu memegangi dadanya yang terasa berdenyut sakit.


Setelah merasa lebih baik, Evan lalu keluar dari kamar dan langsung mendapat laporan dari Sherly tentang apa yang ayahnya ucapkan. Dia bergegas memakai pakaian dan berlalu menemui sang ayah.


"Apa tinggal di rumah ini bersama dengan wanita itu membuatmu lupa segala-galanya, Evan?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2