
Kesepakatan pun dilakukan antara Ezra dan Faiz yang ingin segera menyatukan kedua orang tua mereka, tentu saja dengan harapan jika nantinya keluarga mereka akan hidup tenang dan berselimutkan dengan kebahagiaan.
"Apa yang kalian lakukan?"
Ezra dan Faiz terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang, sontak mereka menoleh ke arah belakang di mana adel sedang menatap dengan heran dan curiga.
"Ayo, ikut kakak! Kakak punya misi besar untukmu," ajak Ezra sambil menarik tangan Adel untuk kembali naik ke lantai dua.
Adel bertanya dengan bingung saat mendengar ucapan sang kakak, sementara Faiz hanya diam sambil mengikuti langkah mereka untuk menuju lantai 2.
Sesampainya di kamar Adel, Ezra langsung menceritakan rencananya dengan Faiz untuk menyatukan kedua orang tua mereka, tentu saja ucapannya itu membuat Adel terdiam dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Kenapa, Dek? Kau tidak suka dengan om Fathir?" tanya Ezra dengan pelan sambil memegang kedua bahu sang adik.
Adel tetap diam dengan kepala menunduk. Kedua tangannya yang saling bertautan perlahan digenggam oleh sang kakak, membuatnya mau tidak mau menatap ke arah kakaknya itu.
"Aku, aku bukannya tidak menyukai om Fathir. Hanya saja, aku, aku-" Adel tidak berani mengatakan apa yang sedang dia rasakan saat ini pada sang kakak, karena dia tahu betapa bencinya Ezra kepada ayah mereka.
Ezra menarik tubuh sang adik lalu memeluknya dengan erat membuat kedua mata Adel berkaca-kaca.
"Maaf, Dek. Maafkan kakak." Lirih Ezra. Dia baru menyadari bagaimana perasaan Adel saat ini.
Perpisahan kedua orang tua mereka saja sudah seperti belati yang mencabik-cabik perasaan Adel, lalu bagaimana mungkin saat ini dia membahas hubungan ibu mereka dengan laki-laki lain?
Adel menggelengkan kepalanya. "Kakak enggak salah, yang salah itu aku." Dia berucap dengan sesenggukan. "Aku tahu kalau ayah sudah jahat dengan kita, terutama dengan ibu. Ayah sudah membuang kita demi keluarga lain, dan tidak peduli dengan kita. Tapi, tapi aku sangat merindukan ayah, Kak. Maafkan aku." Dia merasa benar-benar tidak berdaya.
Pelukan Ezra semakin erat saat Adel terisak pilu. Dia merasa bersalah karena sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan sang adik, padahal adiknya juga sangat menderita karena perpisahan ini.
"Aku mengerti bagaimana perasaanmu, Adel," ucap Faiz tiba-tiba membuat tangisan Adel terhenti, begitu juga dengan Ezra yang langsung melihat ke arahnya.
Faiz yang sejak tadi diam merasa harus bicara, karena sejak dulu dia juga merasakan apa yang dirasakan oleh kakak beradik itu, bahkan dia sampai harus kehilangan sang ibu untuk selama-lamanya.
"Mungkin apa yang terjadi dalam keluarga kita sangat berbeda, tapi aku juga kehilangan mamaku seperti kalian kehilangan ayah kalian. Hanya saja ayah kalian saat ini masih ada di hadapan kalian, sedangkan aku. Aku tidak bisa lagi melihat mama," sambung Faiz dengan suara bergetar.
__ADS_1
Pelukan Ezra mengendur dari tubuh Adel dan beralih mengusap bahu Faiz, seolah memberikan dukungan untuk laki-laki itu. Dia sendiri sudah tahu tentang apa yang terjadi pada keluarga Faiz dari sang kakek.
"Sejak dulu, hubunganku dan papa tidak baik. Sebenarnya akulah yang salah karena sudah membencinya, padahal papa sudah sangat menderita karena perbuatan mama." Faiz menunduk dengan tubuh gemetar, air mata tidak dapat lagi ditahan hingga jatuh membasahi wajah.
Faiz mengungkapkan semua yang terjadi di masa lalu, di mana saat itu dia banyak membuat masalah dan bertengkar dengan sang papa. Dia juga menceritakan tentang kebenaran yang terungkap dari sang oma, dan ceritanya itu membuat Adel tercengang dengan tatapan tidak percaya.
"Aku hanya ingin membuat papa kembali tersenyum. Sejak mama meninggal, papa selalu menjauhi semua orang. Waktu itu aku bahkan tidak bisa melihat papa selama hampir 2 bulan, aku tidak tau apa yang terjadi dengan papa dan di mana dia berada. Tapi aku yakin pasti saat itu papa sangat menderita."
Ezra menatap Faiz dengan sendu saat mendengarnya, dia yakin sekali jika saat itu Fathir pasti sangat terpuruk.
"Aku sangat menyukai ibumu, Adel. Ibumu sangat baik dan perhatian, dia juga memperlakukanku dan papa seperti keluarganya sendiri. Lalu, lalu papa juga menyukai ibumu. Apa kau benar-benar tidak setuju jika papaku menikah dengan ibumu?" tanya Faiz sambil menatap Adel.
Adel terdiam dengan air mata yang terus terjun bebas diwajahnya. Jujur saja, dia merasa terkejut dengan apa yang terjadi dengan keluarga Faiz. Dia juga tidak menyangka jika laki-laki itu mengalami sesuatu yang jauh lebih kejam darinya.
"A-aku bukannya tidak setuju, aku hanya merindukan ayah saja. Ka-kalau kakak setuju, aku juga setuju," sahut Adel dengan pelan dan tergagap. Perasaannya dipenuhi dengan rasa iba terhadap Faiz, hingga melupakan perasaan rindunya terhadap sang ayah.
Mendengar jawaban Adel, Faiz langsung tersenyum lebar dan spontan memeluk tubuh gadis itu dengan erat. "Terima kasih, Adel. Aku pasti akan membalas kebaikanmu ini dengan berlipat ganda, aku akan menjadi kakak yang baik untukmu."
Adel yang awalnya sudah luluh kini langsung mendorong tubuh Faiz saat mendengar ucapannya, membuat Faiz terkesiap.
Faiz tergelak saat mendengarnya, begitu juga dengan Ezra yang menatap sang adik dengan raut bahagia.
"Iya iya kalian seumuran, jadi gak ada yang jadi kakak," sahut Ezra sambil merangkul bahu Adel, dia senang karena adiknya itu sudah menerima kehadiran Faiz dan juga Fathir.
*
*
Tidak terasa waktu sangat cepat berlalu, dan saat ini Adel serta Faiz sudah harus menghadapi ujian untuk kelulusan mereka.
Sudah beberapa hari ujian berlangsung, tampak semua murid fokus mengerjakan semua soal-soal yang berada di hadapan mereka.
Para orang tua juga menunggu hasil ujian itu dengan penuh kegelisahan. Setiap saat mereka berdo'a agar semua berjalan dengan lancar, dan anak-anak mereka bisa menjawab dengan benar.
__ADS_1
"Kenapa gelisah seperti itu? Aku yakin jika Adel pasti bisa mengerjakan soal-soalnya, dan hasil ujian semalam juga bagus," ucap Fathir yang saat ini sedang berada di restoran Abbas bersama dengan Ayun.
Ayun menghela napas kasar. "Aku bukannya tidak yakin, hanya saja ada sedikit perasaan khawatir jika hasilnya tidak sesuai dengan keinginan Adel." Dia takut jika Adel kecewa dengan diri sendiri.
Fathir menggelengkan kepalanya. Dia lalu kembali menenangkan Ayun agar tidak berpikir negatif, dan fokus saja untuk mendukung anak-anak mereka.
Hubungan mereka memang sempat renggang setelah Fathir mengungkapkan rasa sukanya pada Ayun. Namun, berkat rencana dan perbuatan anak-anak mereka. Kini hubungan keduanya kembali dekat, bahkan saat ini mereka makan bersama juga karena perbuatan Ezra dan Faiz.
"Tapi, kenapa Ezra belum datang juga yah?" gumam Ayun sambil memeriksa ponselnya. Padahal putranya itu yang mengajak makan siang bersama, tetapi malah tidak datang.
Fathir juga merasa heran kenapa Ezra tidak datang, bahkan saat ini makanannya dan Ayun sudah hampir kandas.
Tiba-tiba, masuk notifikasi pesan ke dalam ponsel Ayun dari Ezra yang mengatakan jika dia tidak bisa datang karena ada urusan mendadak.
"Dasar anak ini, awas saja kalau sampai dia lupa makan siang," ucap Ayun dengan khawatir, padahal dia yang tidak sadar jika sudah dibohongi oleh sang putra.
Fathir terdiam saat mendengarnya. Jika diingat-ingat, ini adalah kali kedua Ezra tidak datang saat mengajak makan siang bersama. Mungkinkah laki-laki itu sengaja melakukannya? Dia jadi merasa curiga.
"Oh yah, Fathir. Aku dengar Keanu dan Nindi akan ke rumah sakit, apa itu benar?" tanya Ayun setelah selesai membalas pesan Ezra.
Fathir menganggukkan kepalanya. "Nyonya Nindi sangat kaget saat mendengar kondisi Suci, jadi dia langsung mengajak ke rumah sakit begitu kembali." Jawabnya.
Dua hari yang lalu Keanu dan Nindi sudah kembali dari eropa, dan mereka merasa terkejut saat mendengar kabar jika Suci mengalami koma di rumah sakit.
Sejak mengalami kejang untuk yang kedua kalinya, Suci dinyatakan koma karena benar-benar sudah kehilangan kesadaran diri. Dokter bahkan menyatakan jika telah terjadi kerusakan pada syaraf otaknya.
"Apa kau juga ingin ke rumah sakit? Aku dengar keadaan orang tua Suci jauh lebih buruk dari gadis kecil itu," ucap Fathir membuat Ayun menatap dengan tegang. "Tidak apa-apa kalau kau mau ke sana sebagai bentuk kepedulian pada sesama manusia, tentu saja aku juga akan ikut bersamamu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.