Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 95. Kenyataan yang Membingungkan.


__ADS_3

Kedua pupil mata Abbas melebar saat melihat kertas hasil tes DNA antara dia dan Ayun. Tangannya bergetar saat melihat angka yang tertera di sana.


"Ini ..., tidak mungkin!" Lirih Abbas dengan suara yang juga bergetar. Jantungnya berdegup kencang hingga membuat dadanya terasa sesak.


Arya terdiam saat melihat reaksi Abbas. Dia sudah bisa menebak hasil dari pemeriksaan tersebut saat melihat raut wajah laki-laki itu.


"Ba-bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Abbas dengan tidak percaya. Dia menyandarkan tubuhnya dengan lemas, hingga kertas yang ada ditangannya terjatuh ke lantai.


Abbas benar-benar merasa terguncang saat melihat hasil tes DNA itu. Kenapa, kenapa hasilnya menunjukkan bahwa dia dan Ayun adalah ayah dan anak 100 %? Sebanarnya apa yang terjadi, apa ada sesuatu di masa lalu yang dia lewatkan?


Dengan cepat Arya menunduk untuk mengambil hasil laporan itu, lalu meletakkannya di atas meja.


"Apa kau sudah melakukan pemeriksaan itu dengan benar?" tanya Abbas dengan pelan. Dia menatap Arya dengan nanar, serta helaan napas yang berat.


Arya menganggukkan kepalanya. "Saya sudah melakukan pemeriksaan dengan benar, Tuan. Lalu inilah hasilnya."


"Tapi kenapa dia tidak bisa mendonorkan ginjal untuk ibunya sementara aku saja bisa?" tanya Abbas dengan tajam. Dia dan Hasna sama-sama memiliki golongan darah A, lalu di mana masalahnya? Apa Ayun punya penyakit tertentu sehingga tidak bisa mendonorkan ginjal untuk Hasna?


"Sebenarnya nona Ayun juga bisa mendonorkan ginjalnya, Tuan. Hanya saja keadaan mental beliau saat ini sedang tidak baik. Dia kerap mengalami tekanan darah tinggi, dan itu memunculkan rasa sesak didada yang kadang sampai membuat tidak bisa bernapas. Semua itu bisa sangat membahayakan jika melakukan transplantasi ginjal, baik untuknya atau pun untuk ibunya," ucap Arya menjelaskan. Sudah jelas mereka bertiga memiliki golongan darah yang sama, bahkan sampai adiknya Ayun juga memiliki golongan darah A juga.


Abbas terdiam saat mendengar penjelasan Arya. Dia lalu mengusap wajahnya dengan kasar karena tidak mengerti dengan kenyataan yang saat ini ada di hadapannya.


"Kenapa Ayun bisa menjadi anak kandungku? Sebenarnya apa yang terjadi dan kapan aku melakukan hal seperti itu?"


Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Abbas saat ini. Sejak semalam dia sudah mencoba membongkar memorinya tentang masa lalu, dan dia sama sekali tidak merasa pernah melakukan hubungan seperti itu dengan Hasna.

__ADS_1


"Terakhir kali aku bertemu dengannya sebelum melaksanakan tugas diluar kota, setelah aku kembali dia sudah tidak ada di rumah lagi. Apa dia pergi saat mengandung anakku?"


Abbas mulai menduga-duga. Walau dia tidak ingat pernah melakukan hal terlarang itu, tetapi kemungkinan besar Hasna pergi saat sudah mengandung Ayun.


"Apa Anda baik-baik saja, Tuan?"


Suara Arya seketika menghentikan lamunan Abbas. Dia lalu mengucapkan banyak terima kasih pada laki-laki itu dan berlalu pergi dari sana.


Abbas melangkah gontai menyusuri lorong rumah sakit, sambil membawa secarik kertas yang berhasil mengguncang hidupnya. Tidak pernah terbayangkan jika semua akan jadi seperti ini, lalu kenapa selama ini Hasna merahasiakannya?


"Apa karna aku sudah bertunangan sehingga dia tidak mau mengatakan jika sedang mengandung anakku?" gumam Abbas. "Tapi sebelum itu, sebenarnya kapan kami melakukannya? Kenapa aku sama sekali tidak ingat?"


Abbas meremmas rambutnya dengan kuat karena merasa frustasi. Bagaimana mungkin dia tidak ingat pernah melakukan hubungan seperti itu, bahkan sampai menghasilkan anak?


"Aku harus segera menemui Hasna, dan dia harus menceritakan semuanya padaku."


Sementara itu, di tempat lain terlihat Nindi sedang menyiapkan menu makan siang untuk semua orang. Hari ini dia akan ke rumah sakit untuk menjenguk Hasna, sekalian memberi makan siang untuk Ayun dan yang lainnya.


"Sayang."


Nindi terlonjak kaget saat tiba-tiba dipeluk dari belakang oleh suaminya. "Kenapa sih Mas? Bikin kaget saja." Lirihnya sambil menggelengkan kepala.


"Bisakan kau istirahat saja dan tidak melakukan apa-apa?" ucap Keanu dengan suara serak, khas orang yang baru bangun tidur.


"Tidak bisa. Hari ini aku akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk tante Hasna, sekalian mengantar makanan," tukas Nindi. Tangannya yang sedang sibuk menyiapkan bahan masakan tiba-tiba terdiam saat merasakan sesuatu, dengan cepat dia mengambil tisu untuk menyeka darah yang keluar dari hidungnya.

__ADS_1


Keanu yang merasakan gerakan tubuh sang istri segera melepaskan pelukannya, dan melihat apa yang terjadi.


"Lihat, kenapa kau keras kepala sekali sih?" ucap Keanu dengan kesal. Dia lalu mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya pada sang istri.


Nindi hanya diam sambil terus menyeka darah yang keluar. Dia menyandarkan tubuhku ke westafel karena kakinya terasa gemetaran.


Dengan cepat Keanu menggendong tubuh Nindi dan membawanya ke kamar, dia lalu membaringkannya ke atas ranjang tanpa mengucapkan apa-apa.


"Aku baik-baik saja, Mas. Kau tidak-"


"Sudah cukup, Nindi. Hentikan semua ini, aku mohon." Lirih Keanu. Dia benar-benar tidak tahan melihat kekeras-kepalaan sang istri.


Nindi tetap teesenyum saat mendengarnya. "Aku memang sudah menghentikannya, Mas. Dan sekarang aku merasa lebih tenang dan bahagia."


Keanu memalingkan wajahnya dengan kesal. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membujuk istrinya agar mau melanjutkan pengobatan, setidaknya mereka harus tetap berusaha sampai akhir.


"Mas, kau masih ingat dengan apa yang aku katakan waktu itu, 'kan?" tanya Nindi dengan lirih, membuat kekesalan Keanu semakin bertambah.


"Aku tidak akan menikah dengan siapa pun jika kau mati."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2