Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 140. Takdir Kita Memang Kejam.


__ADS_3

Wajah Fathan berubah pias saat mendengar pertanyaan Fathir, dia baru sadar bahwa tidak sengaja menyebut nama Rian.


"Katakan padaku apa maksudmu?" tanya Fathir kembali sambil mencengkram kerah kemeja Fathan, hingga tubuh kakaknya itu sedikit terangkat ke atas.


Fathan terdiam. Dia merasa bingung apakah harus menceritakan semuanya atau tidak, dia takut jika nantinya Fathir malah menganggap bahwa dia sengaja menyalahkan Rian atas perbuatan yang telah dilakukan.


"Cepat katakan selagi aku masih punya sedikit kesabaran," ucap Fathir lagi. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan apa yang Fathan ucapkan barusan, apalagi terlihat jelas kemarahan diwajah laki-laki itu.


"Ba-baiklah. Kakak akan ceritakan."


Fathir langsung melepas cengkraman tangannya dari kerah kemeja Fathan, tetapi dia tetap berdiri sambil menatap laki-laki dia dengan tajam.


Fathan terpaksa menceritakan semua yang telah Rian lakukan, lebih tepatnya perbuatan yang dia lakukan tetapi atas saran dari laki-laki itu. Juga tentang kesalah pahaman tes DNA yang mungkin juga sudah direncanakan oleh Rian.


Kedua mata Fathir berkilat penuh kemarahan saat mendengar semuanya. Rahangnya mengeras, giginya saling bergesekan, juga disertai dengan urat-urat yang menonjol disekitar leher.


"Kenapa, kenapa kau sangat bod*oh seperti itu?" pekik Fathir dengan tajam. "Apa kau tidak bisa menggunakan otakmu untuk berpikir, hah?" Dia menggebrak meja sampai membuat Fathan terlonjak kaget.


Fathan terdiam mendengar ucapan Fathir, tidak ada sedikit pun bantahan yang dia berikan karena memang semua ucapan adiknya itu adalah benar.


"Bangs*at!" Fathir menumpat kesal sambil menendang kursi yang ada di hadapannya, hingga menyebabkan suara benturan yang cukup keras.


Farhan dan Alma yang berada di luar ruangan terlonjak kaget saat mendengar suara benturan dari dalam ruangan itu, begitu juga dengan polisi-polisi yang berada di tempat itu.


"Sudah lewat dari 15 menit, Tuan. Kami harus segera membawa tuan Fathan," ucap salah satu polisi itu. Dia tidak bisa langsung masuk ke dalam ruangan karena Farhan dan Alma berdiri tepat di depan pintu.


Farhan menghunuskan tatapan tajam ke arah para polisi itu. "Saya nanti yang akan bicara dengan atasan Anda, jadi Anda tidak perlu khawatir."

__ADS_1


Keempat polisi itu hanya bisa menghela napas frustasi. Betapa malang nasib mereka berurusan dengan orang kaya dan berkuasa, sehingga bisa menghalalkan segala cara dengan uang. Tentu saja mereka tidak berkutik untuk melawannya.


Kembali lagi pada Fathir yang saat ini sedang mencaci maki Fathan. Betapa bod*oh sekalilah kakaknya itu, bagaimana bisa selama ini Fathan dimanfaatkan oleh Rian sampai seperti itu? Dia benar-benar tidak habis pikir ke mana sebenarnya akal sehat laki-laki itu.


"Sejak awal aku sudah tau niat busuk bajing*an itu, aku bahkan sudah pernah memperingatimu. Tapi kau malah marah dan semakin menjauh," ucap Fathir kemudian. Napasnya tersengal-sengal karena kelelahan mencaci maki kebod*ohan kakaknya sendiri.


Fathan menggeram marah. Lama-lama dia kesal juga karena terus dicaci maki oleh Fathir, walau semua cacian itu benar adanya.


"Aku seperti itu juga karnamu," seru Fathir dengan tajam.


"Kenapa aku? Jelas-jelas kau yang bod*oh!" bantah Fathir tidak terima.


Fathan berdecak kesal. Ya ya ya, dia memang bod*oh. Namun, apa harus Fathir terus menyebutnya bod*oh seperti ini?


"Kau pikir selama ini siapa yang selalu di sampingku selain dia, hah?" tanya Fathan. "Di saat kau bermain dengan teman-temanmu, aku selalu disibukkan dengan berbagai macam tugas yang harus aku kerjakan. Bertahun-tahun aku dikirim ke luar negeri dan dipaksa fokus belajar tanpa ada istirahat, bahkan sampai kisah cintaku pun hancur tak tersisa." Dia berucap dengan getir.


"Selama ini hanya dia yang ada di sampingku dan menemaniku dalam kesunyian, sampai akhirnya aku hanya bisa bergantung padanya, dan menjadikannya sebagai tempat bersandar," sambung Fathan dengan nanar. Teringat jelas saat-saat dia harus berjuang di bawah tekanan sang ayah.


"Sejak awal aku dididik dengan keras, dan harus melakukan semua yang sudah ditetapkan. Aku bahkan tidak pernah bermain dengan teman-temanku semasa sekolah, dan hanya beberapa kali saja makan diluar bersama dengan Clarissa."


Fathir bisa merasakan betapa besar penderitaan yang kakaknya rasakan diwaktu muda dulu, dan sangat bertolak belakang dengannya yang sibuk bermain dengan teman-teman. Namun, sifat mereka malah berbanding terbalik.


"Aku sudah berjuang untuk memberikan yang terbaik, aku mengorbankan masa mudaku untuk belajar dan terus belajar. Tapi kenapa? Kenapa semua itu masih saja kurang untuk mereka?" Lirih Fathan. "Kenapa mereka tidak bisa melihat perjuangan dan kerja keras yang telah aku lakukan?" Betapa sakit hatinya saat para dewan direksi dan pemegang saham tidak menghargai kerja kerasnya.


"Setelah semua yang aku lakukan, mereka mencampakkanku begitu saja. Bahkan, bahkan ayah juga melakukan itu," ucap Fathan kembali dengan bergetar. "Demi Tuhan, aku sudah melakukan yang terbaik. Aku sudah melakukan yang terbaik untuk perusahaan, tapi mereka malah menyerahkannya begitu saja padamu seakan aku bukan apa-apa. Dan disaat aku terpuruk, hanya Rianlah yang memberikan bahunya padaku walau ada maksud lain dibalik kesetiaannya selama ini."


Fathir menatap sang kakak dengan sendu. Tidak disangka jika selama ini kakaknya hidup dalam penderitaan seperti itu, dia bahkan sama sekali tidak pernah memikirkannya.

__ADS_1


"Jangan menangis. Aku tidak suka melihat air matamu," ucap Fathir. "Di sini aku korbannya, dan kau pelaku kekejaman yang telah menghancurkan hidup adikmu sendiri. Jadi jangan menangis seolah kaulah yang menjadi korban."


Fathan terkekeh mendengar ucapan Fathir. Air mata yang sudah menggantung dikedua matanya tidak jadi keluar, dan berganti dengan senyum lebar.


"Benar, aku adalah penjahat dan kau korbannya," sahut Fathan sambil menatap Fathir dengan hangat.


Sesaat kemudian mereka sama-sama tertawa sambil meratapi permainan takdir yang sangat kejam dalam hidup mereka, juga kejahatan yang orang lain lakukan tanpa bisa melihat ketulusan yang mereka berikan. Bukankah semua ini sangat lucu dan tragis?


"Baiklah, aku akan memaafkanmu karena dulu kau sudah hidup dengan sangat menderita. Sekarang kembalilah, biar aku yang membalas semua perbuatan bajing*an itu," ucap Fathir kemudian.


Yah, apalagi yang bisa Fathir lakukan selain memaafkan kakaknya walau tidak mungkin untuk melupakan semuanya. Setidaknya amarah yang ada dalam hatinya sedikit menguap saat mendengar bagaimana perasaan sang kakak, juga ada perasaan bersalah karena selama ini tidak peduli dengan keadaan Fathan.


"Kau, kau bilang apa?" tanya Fathan. Dia beranjak dari kursi sambil menatap sang adik dengan mata berkaca-kaca.


"Takdir dalam hidup kita memang kejam, tapi apa lagi yang bisa kita lakukan selain memaafkan?" sahut Fathir. "Aku akan mencoba untuk memaafkanmu, tapi aku tidak berjanji jika aku bisa melupakan semua yang telah terjadi."


Fathan langsung menghamburkan dirinya ke tubuh Fathir lalu memeluknya dengan erat, sementara Fathir hanya diam dengan kedua mata menggantung mendung.


"Terima kasih, terima kasih, Fathir. Kakak, kakak benar-benar beruntung punya adik sepertimu," ucap Fathan dengan terisak, bahkan tubuhnya juga gemetaran.


"Ya, kau memang beruntung punya adik sepertiku. Tapi aku yang tidak beruntung punya kakak sepertimu."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2