
Ayun terperanjat kaget saat mendengar ucapan Fathir. Kedua matanya terbelalak lebar sambil menatap laki-laki itu dengan tercengang.
"A-apa?" tanya Ayun dengan lirih.
Fathir tersenyum sambil menghela napas kasar. "Ayo, kita pulang! Kita bahas masalah itu nanti." Dia lalu mengajak Ayun untuk pulang dan beranjak pergi dari tempat itu.
Ayun semakin tercengang melihat kepergian Fathir, dadanya kembali berdebar kuat seakan jantungnya ingin melompat keluar.
"Ya Allah, tolong kendalikan dadaku." Ayun meraba dadanya yang malah semakin menjadi-jadi.
Evan yang masih berada di tempat itu menatap Ayun dengan nanar. Dia merasa marah dan tidak terima melihat kedekatan mantan istrinya itu dengan Fathir. Namun, dia juga tidak bisa melakukan apa-apa karena sudah tidak memiliki hak.
"Kalau gitu aku permisi," ucap Ayun kemudian sambil menganggukkan kepalanya. Dia ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu saat ini juga.
Dengan cepat, Evan menahan tangan Ayun membuat wanita itu sontak melihat ke arahnya dan langsung menepis tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ayun dengan tajam.
Evan menatap dengan tajam pula. "Kau ada hubungan apa dengan Fathir?" Dia bertanya dengan sarkas.
Ayun tersenyum heran saat mendengar pertanyaan Evan. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku tidak ada hubungan apapun dengannya, dan kalau pun ada, kau sama sekali tidak berhak untuk bertanya." Sahutnya dengan penuh penekanan.
Evan semakin meradang, entah kenapa dia semakin merasa marah mendengar jawaban wanita itu.
"Aku bertanya karena peduli padamu, Ayun. Kau tidak tau siapa laki-laki itu sebenarnya, jadi kau pasti-"
"Aku juga tidak tau siapa kau sebenarnya, Mas. Padahal aku sudah mendampingimu selama 20 tahun lebih, tapi aku tidak bisa benar-benar mengenalimu," potong Ayun dengan cepat. Dia langsung berbalik dan pergi dari tempat itu meninggalkan Evan yang tertegun mendengar jawaban menohok darinya.
Ayun melangkahkan kakinya menuju mobil dengan perasaan kesal. Apa maksud Evan berkata seperti itu padanya, memang apa salah Fathir sampai laki-laki itu harus bersikap demikian?
"Maaf sudah menunggu lama, Nak," ucap Ayun saat sudah masuk ke dalam mobil, terlihat Adel dan Ezra menganggukkan kepala.
"Tidak apa-apa, Bu. Ibu baik-baik saja 'kan?" tanya Ezra dengan khawatir.
Ayun tersenyum sambil mengangguk. "Tentu saja ibu baik-baik saja, Nak. Ayo, kita pulang!"
Ezra kembali mengangguk dan segera melajukan mobilnya dari tempat itu, begitu juga dengan Fathir dan Faiz yang mengikuti mereka dari belakang.
"Apa Papa menyukai tante Ayun?" tanya Faiz tiba-tiba membuat Fathir langsung menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Sekilas Fathir menatap putranya dengan tajam, lalu kembali melihat lurus ke depan. "Terlalu dini untuk bertanya hal itu, Faiz. Fokus saja pada sekolahmu." Dia memberi jawaban peralihan.
Faiz menghela napas kasar. Sebenarnya tanpa ditanya pun dia sudah tahu jawabannya, hanya saja dia ingin lebih memastikan semua itu.
"Aku menyukai tante Ayun, dan aku setuju kalau Papa menikah dengannya."
Fathir langsung tergelak mendengar pengakuan Faiz, membuat putranya itu menatap dengan penuh kesal.
"Apa hubungannya dengan papa jika kau menyukainya?" ucap Fathir. "Lagi pula, papa tidak perlu persetujuan dari siapa pun jika ingin menikah." Dia melirik ke arah Faiz dengan senyum tipis.
"Apa? Kenapa bisa seperti itu?" tanya Faiz dengan tidak terima. "Aku tidak mau Papa menikah dengan wanita sembarangan, pokoknya aku tidak setuju kalau Papa menikah dengan wanita selain tante Ayun." Dia berucap dengan penuh penekanan.
Fathir tergelak. Dasar Faiz. Jadi maksudnya, dia tidak boleh menikah jika wanita itu bukan Ayun? Ada-ada saja.
Faiz mencebikkan bibirnya, dia lalu kembali memberi penegasan bahwa dia tidak setuju jika sang papa menikah dengan wanita lain. Apalagi, selama ini banyak sekali wanita yang mendekati papanya hanya karena gila harta. Mungkin mendiang ibunya dulu juga seperti itu, sungguh membuatnya kecewa.
Setelah kepergian Ayun, Evan kembali masuk ke dalam rumah sakit dengan gontai. Perasaannya benar-benar kacau, rasanya sangat menyesakkan sekali.
"Evan!"
Langkah Evan terhenti saat mendengar panggilan seseorang, dia lalu menoleh ke arah samping dan terlihat Sherly sedang berada di tempat itu.
Sherly menatap Evan dengan tajam. Hatinya masih terasa sakit dengan apa yang laki-laki itu lakukan padanya, apalagi setelah menyaksikan interaksi antara Evan dan Ayun tadi. Tampak jelas jika laki-laki itu masih sangat memperhatikan Ayun.
"Kenapa sepertinya kau masih memiliki perasaan pada Ayun, Evan? Padahal kau bilang kau mencintaiku, bahkan dulu kau sama sekali tidak peduli padanya." Hati Sherly benar-benar berdenyut sakit. Apakah selama ini Evan hanya mempermainkannya? Kenapa sekarang laki-laki itu terlihat peduli dengan Ayun, sementara dia dicampakkan begitu saja?
"Apa kau mendengarku?"
Sherly terkesiap. "I-iya, dokter meminta kita untuk menemuinya." Sahutnya dengan lirih.
Evan menghela napas kasar, dia lalu beranjak pergi ke ruangan Dokter dengan diikuti oleh Sherly yang menunduk dengan penuh kecewa.
Sesampainya di ruangan Dokter, mereka langsung dipersilahkan duduk karena ada beberapa hal yang ingin Dokter itu katakan tentang keadaan Suci.
"Sebelumnya, saya ingin bertanya tentang kondisi dan perilaku anak Anda selama ini. Bisa tolong Anda jelaskan?" pinta Dokter itu.
Sherly mengangguk dan segera menceritakan tentang perilaku Suci, begitu juga dengan Evan karena terakhir kali gadis itu bersama dengannya sebelum masuk rumah sakit.
Dokter itu menghela napas berat saat mendengar semuanya. Dugaannya ternyata benar, apalagi ditambah dengan hasil pemeriksaan dan cerita dari mereka.
__ADS_1
"Anak saya baik-baik saja 'kan, Dokter?" tanya Sherly dengan tatapan penuh khawatir.
Dokter itu menggelengkan kepala. "Kondisi pasien sangat tidak baik. Hasil pemeriksaan menujukkan jika pasien mengalami kejang karena adanya suatu tekanan pada mentalnya, hingga dia tidak dapat menahan semua itu."
Evan dan Sherly tersentak kaget saat mendengarnya. "A-apa maksud Anda, Dokter?"
"Anak Anda mengalami stres berlebih yang membuat mentalnya terganggu. Sepertinya dia merasa sangat tertekan akan sesuatu hal, sangat disayangkan sekali padahal putri Anda masih sangat kecil untuk merasakan semua itu," ucap Dokter dengan sedih.
Evan dan Sherly merasa terguncang saat mendengarnya. Tidak, bagaimana mungkin putri kecil mereka bisa mengalami hal seperti itu?
"Bagaimana mungkin, Dokter? Dia, dia masih balita," ucap Evan dengan tidak terima.
Dokter itu lalu menjelaskan tentang gejala gangguan mental pada anak-anak, dan semua penjelasannya sama persis dengan apa yang terjadi pada Suci akhir-akhir ini.
"Ada banyak faktor yang mempengaruhi semua itu, terutama lingkungan yang tidak baik. Kemarahan, pertengkaran, tindak kekerasan, semua itu dapat merusak mental anak-anak. Apa semua itu terjadi dalam lingkungan Anda?"
Jleb.
Evan dan Sherly merasa tertusuk mendengar ucapan Dokter. Tubuh mereka bergetar hebat karena apa yang Dokter itu katakan memang selalu mereka lakukan.
"Kenapa Anda diam, apa semua itu terjadi pada pasien?" tanya Dokter itu kembali dengan tajam.
Lidah Sherly terasa keluh untuk menjawab, apalagi dia merasa sangat syok saat mendengar bahwa putrinya mengalami semua itu karena ulah mereka.
Evan sendiri juga tidak dapat menjawabnya. Tidak disangka jika selama ini mereka bertindak tidak baik di hadapan Suci, hingga membuat gadis kecil itu berakhir sakit.
"Suci, putriku. Huhuhu." Sherly hanya bisa menangis menyesali semuanya, membuat Dokter itu merasa marah.
"Sebagai orang tua, seharusnya kita memberikan lingkungan yang sehat dan baik untuk anak. Hindari segala keributan dan kemarahan, apalagi di hadapan mereka, karena semua itu dapat merusak bahkan menghancurkan mental anak-anak. Sama seperti keadaan Suci saat ini, mentalnya telah terganggu."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1