
Mery tersentak kaget saat mendengar ucapan sang suami. "A-apa maksudmu, Mas? Bagaimana, bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu?" Bibirnya sampai bergetar menanyakan maksud dari ucapan suaminya.
Endri memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Dia sendiri tidak tahu harus melakukan apa untuk menyudahi semua masalah ini, dan seharusnya sejak lama dia bersikap tegas dengan apa yang terjadi.
"Jawab aku, Mas!" pinta Mery sambil mencengkram lengan sang suami dengan wajah merah padam. "Kau berkata akan menjual rumah kita, bagaimana bisa kau-"
"Lalu aku harus bagaimana lagi, Mery? Hah, coba katakan padaku apa yang harus kita lakukan sekarang," tukas Endri dengan tajam.
Mery terdiam saat mendengar ucapan sang suami. Dia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana mencari uang, tetapi bukan berarti mereka sampai menjual rumah seperti itu.
"Rumah itu adalah satu-satunya harta kita yang tersisa, Mas. Semua kenangan kita dari awal menikah sampai sekarang juga ada di sana. Bagaimana mungkin aku kita bisa menjualnya?" ucap Mery dengan lirih. Kedua matanya kembali berkaca-kaca, dengan rasa sakit yang menyesakkan dada.
Sebenarnya Endri juga tidak mau menjual rumah itu, tetapi apa lagi yang bisa mereka lakukan selain menjualnya? Jika mereka mencari pinjaman pun, memangnya siapa yang mau memberi?
"Kita memang sudah tidak punya apapun lagi, tapi-" tiba-tiba Mery terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya saat teringat tentang sesuatu, membuat Endri menatap dengan bingung.
"Benar, kenapa aku melupakannya," ucap Mery dengan cepat sambil mengambil ponsel yang ada di dalam tas.
Endri mengernyitkan kening dengan tidak mengerti dengan apa yang istrinya lakukan. "Kau mau apa, Mery?" Dia bertanya dengan tajam.
"Aku harus memberitahu Ayun apa yang terjadi dengan Evan, Mas. Aku yakin dia pasti akan-" Mery terlonjak kaget dan tidak bisa melanjutkan ucapannya saat ponselnya tiba-tiba diambil paksa oleh Endri. "Apa yang kau lakukan, Mas? Kenapa kau mengambil ponselku?" Dia menatap heran dan bertanya-tanya.
Endri menggertakkan giginya dengan apa yang akan sang istri lakukan. "Kau akan memberitahu Ayun?" Dia bertanya dengan sarkas.
Mery menganggukkan kepala dengan takut, karena saat ini suaminya tampak sangat marah padahal dia tidak melakukan apa-apa.
"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?" Endri menatap tidak percaya, membuat Mery dilanda kebingungan. "Bagaimana mungkin kau berpikir akan memberitahu Ayun, sementara dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini?" Dia merasa tidak suka, dan sangat tidak setuju.
__ADS_1
Mery berdecak kesal. "Aku tahu kalau dia sama sekali tidak ada hubungannya, tapi setidaknya kita bisa minta bantuannya. Apa lagi dia berhasil mendapatkan bagian 70% dari pembagian harta mereka, jadi tidak salah jika kita meminta-"
"Cukup, Mery!" potong Endri dengan nada bentakan, membuat Mery terkesiap. "Aku tidak menyangka kau sampai berpikir seperti ini, seharusnya kau malu bicara dengan Ayun apalagi meminta bantuannya. Apa kau lupa, apa yang sudah putramu lakukan padanya?"
Mery tertunduk dengan tubuh gemetar mendapat bentakan dan murka dari sang suami, padahal dia hanya ingin bicara pada Ayun saja. Memang salahnya di mana?
"Seharusnya kita malu dan sadar diri. Kita yang sudah gagal menjadi orang tua, kita tidak bisa mendidik putra kita dengan baik hingga menyakiti dan menghancurkan hidup orang lain. Dan bukannya kembali menghubungi lalu minta bantuan dari wanita yang sudah disakiti oleh putramu itu!" ucap Endri dengan tajam.
Sampai detik ini, Endri sama sekali tidak pernah menghubungi Ayun. Bukan karena dia sudah melupakan atau benci pada wanita itu, tetapi karena merasa malu atas apa yang terjadi.
Sejak awal, Endri tidak bisa menghentikan perbuatan Evan. Dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa sampai akhirnya Ayun dan kedua cucunya terusir dari rumah, itu sebabnya dia merasa tidak pantas lagi menghubungi wanita itu.
"Aku, aku hanya ingin membantu putraku." Lirih Mery dengan terisak. Kepalanya tetap menunduk dengan kedua tangan saling bertautan, membuat Endri mengusap wajahnya dengan kasar.
Untuk beberapa saat, mereka saling diam di tempat itu sambil meratapi apa yang terjadi. Juga mencoba untuk memikirkan jalan keluar atas masalah yang menimpa Evan.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Sherly sudah berada di dalam ruangan Evan dan berhadapan dengan laki-laki itu.
"Di mana Suci?" potong Evan dengan tajam tanpa menunggu Sherly menyelesaikan ucapannya.
Sherly lalu mengatakan jika Suci dititipkan di rumah karyawannya dulu, karena tidak ada yang bisa menjaga saat mereka menghadiri persidangan.
"Pergilah, aku ingin sendiri," uvap Evan kemudian sambil merebahkan tubuhnya. Dia sempat duduk dengan bersandar pada sandaran ranjang, Karena tadi punggungnya terasa kebas.
Sherly menatap Evan dengan nanar. Dia tahu jika laki-laki itu marah padanya, tetapi saat ini dia ingin menemani Evan.
"Aku akan menemanimu di sini, Van. Biar nanti-"
__ADS_1
"Tidak perlu," lagi-lagi Evan menyela ucapan Sherly, tentu saja membuat wanita itu merasa sakit hati. "Lebih baik kau pergi dan urus Suci, tidak ada yang bisa kau lakukan di sini, atau nanti kau malah akan menambah masalahku."
Sherly terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Padahal dia berniat baik untuk menemani Evan, tetapi laki-laki itu tetap saja bersikap keras.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Suara Mery seketika membuat Evan dan Sherly melihat ke arah pintu, tampak wanita paruh baya itu menatap mereka dengan tajam.
"Beraninya kau datang ke sini," seru Mery dengan sarkas. "Sudah kukatakan jangan muncul lagi di hadapan kami, apa kau tidak mengerti bahasa manusia, hah?"
Evan yang melihat kemarahan sang mama hanya bisa menatap nyalang, sementara Sherly sendiri terpaksa bangun dari kursi.
"Aku adalah istrinya, Bu. Sudah pasti aku berada-"
"Tidak, sekarang kau bukan lagi istrinya," potong Mery dengan cepat, dia lalu beralih melihat ke arah Evan. "Mama mau ceraikan dia sekarang juga, Evan. Seharusnya sejak awal kau tidak bersama dengan wanita sia*lan itu!"
Sherly terkesiap saat mendengar ucapan sang mertua, sementara Evan terdiam dengan tangan terulur menekan dadanya yang kembali berdenyut sakit.
"Hentikan, Mery. Kau harus pikirkan keadaan-"
"Tidak, aku mohon jangan lakukan itu, Evan. Aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku," ucap Sherly dengan tidak terima. Dia yang akan menghampiri Evan langsung ditarik oleh Mery, dan tubuhnya dihempaskan dengan kuat sampai membentur meja.
"Jika kau masih menganggap kami sebagai orang tuamu, maka ceraikan dia, Evan. Jika kau tidak menceraikannya saat ini juga, maka kami akan pergi dari hidupmu!"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.