Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 8. Pengalihan Hak Milik.


__ADS_3

Evan yang baru saja masuk ke dalam ruangan terdiam di ambang pintu saat mendengar ucapan sang ayah, dia lalu menghela napas kasar karena tahu jika ayahnya marah karena dia tidak keluar kamar sampai jam segini.


"Maaf, Yah. Tadi aku-"


"Apa sekarang kau sudah tidak bekerja, hah? Kau tidak memikirkan usahamu lagi?" tanya Endri dengan sarkas. Dia sama sekali tidak membiarkan Evan bicara, karena sudah merasa sangat kesal dengan apa yang Evan lakukan.


Endri lalu beranjak bangun dari kursi dan berjalan menghampiri Evan yang masih terdiam di ambang pintu. "Ikut ayah ke kantor. Kau harus melihat dengan mata kepalamu sendiri akibat dari kebod*ohanmu!"


Deg.


Tubuh Evan mendadak jadi kaku mendengar ucapan sang ayah. Dia mengernyitkan kening bingung, dengan tatapan tidak mengerti dengan apa yang ayahnya katakan.


"Apa, apa maksud Ayah?" tanya Evan dengan bingung sambil melirik ke arah sang ayah yang sudah berjalan ke arah tangga.


"Kau akan tahu nanti," jawab Endri dengan tajam. Dia lalu kembali melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah.


Evan yang merasa tidak mengerti segera kembali ke kamar untuk mengambil kunci mobilnya, sekaligus perlengkapan yang lain karena dia akan pergi ke kantor sekarang juga.


Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara di dalam mobil. Baik Endri dan juga Evan, mereka sama-sama terdiam tanpa ada niat untuk berbicara.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Ezra dan yang lainnya sudah berada di dalam ruangan kerja ayahnya. Mereka duduk di sofa dengan tenang, sambil menunggu kedatangan sang empunya kantor untuk penandatanganan berkas.


"Apa saya boleh menanyakan sesuatu, Tuan?" Tiba-tiba Bram buka suara, setelah memikirkan sesuatu beberapa saat yang lalu.


Abbas menganggukkan kepalanya. "Tanya saja." Dia mempersilahkan sambil bersandar di sandaran sofa, sementara Ezra menatap Bram penuh tanda tanya.


"Kenapa Tuan tidak membiarkan usaha ini bangkrut, bukankah Anda ingin memberi pelajaran pada Evan?" tanya Bram dengan tajam, membuat Ezra langsung menatap tidak suka.

__ADS_1


Abbas tersenyum simpul saat mendengarnya. "Aku tidak perlu melakukan itu, Bram. Biar bagaimana pun, ada kerja keras dan keringat yang putriku keluarkan untuk membangun usaha ini. Tapi yah, Evan akan hancur sendiri nantinya tanpa perlu kebangkrutan dan campur tanganku." Dia berucap dengan tenang, tetapi kata-kata yang terdengar sangat tajam sekali.


Ezra bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh sang kakek, karena biar bagaimana pun dia tidak akan rela jika usaha itu hancur begitu saja.


Beberapa saat kemudian, Evan dan sang ayah sudah sampai di tempat tujuan. Mereka segera keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam kantor. Kedatangan mereka langsung disambut oleh beberapa karyawan, termasuk resepsionis yang bicara dengan Abbas tadi.


"Maaf, Tuan. Tuan Ezra dan dua orang lelaki sedang menunggu Anda di ruangan."


Evan menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan karyawannya, sementara Endri terus melangkah masuk ke dalam tempat itu.


"Ezra? Apa yang dia lakukan di sini?" tanya Evan dengan heran. Tidak biasanya Ezra datang ke kantor, apalagi bersama dengan orang lain.


"Maaf Tuan, saya tidak-" Wanita itu tidak dapat melanjutkan ucapannya karena Evan sudah pergi meninggalkan tempat itu, membuat dia menghela napas kasar dan kembali ke meja kerjanya.


Suara langkah kaki yang memasuki ruangan membuat Ezra dan yang lainnya langsung melihat ke arah pintu, karena memang mereka tidak menutup pintu ruangan tersebut.


"Kakek." Ezra beranjak dari sofa saat melihat kedatangan Endri, begitu juga dengan Abbas dan Bram.


"Alhamdulillah aku baik, Kek. Kakek sendiri bagaimana?" Ezra kembali menanyakan kabar sang kakek, bertepatan dengan masuknya Evan ke dalam ruangan itu.


Evan menatap mereka semua dengan tajam, begitu juga dengan Ezra yang juga menatap ayahnya dengan tidak kalah tajam dan menantang.


"Apa yang kalian lakukan di kantorku?" tanya Evan dengan sinis.


Endri yang sudah tahu maksud dan tujuan kedatangan mereka langsung berdiri di hadapan Evan, membuat putranya langsung menatap heran.


"Apa yang Ayah-"

__ADS_1


"Duduk dan bicarakan semuanya baik-baik. Gunakan akal sehatmu, sebelum semuanya hancur, Evan," potong Endri dengan penuh penekanan. Dia tidak mau lagi membuat Ezra membenci mereka, apalagi sepertinya hubungan cucunya dengan orang tua Sherly itu sangat dekat.


Abbas tersenyum saat mendengar ucapan Endri. "Dengarkan apa kata ayahmu, Evan. Kami datang dengan baik-baik, bukankah kau harus menyambut tamu dengan baik juga?"


Evan mengepalkan kedua tangannya dengan erat, sementara Endri segera mempersilahkan mereka untuk kembali duduk, termasuk Evan juga.


Setelah semuanya duduk, Bram langsung mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tasnya dan meletakkan berkas itu tepat di hadapan Evan.


"Saya sudah mengurus semua pembagian harta yang sudah pengadilan tetapkan. Silahkan Anda periksa, dan mohon segera ditandangani," ucap Bram dengan wajah datar.


Evan terdiam saat melihat semua berkas itu. Hatinya berdenyut sakit karena harus kehilangan semua yang dia miliki. Baik kedua anaknya, dan juga harta yang dia punya.


"Semua ini adalah urusanku dan Ayun, jadi aku akan menantangani berkas itu di hadapannya," ujar Evan yang berisi penolakan. Tidak, dia merasa sama sekali tidak ikhlas dan harus membicarakannya dengan Ayun.


Ezra yang duduk di samping Abbas tersenyum simpul. "Ibu sedang sibuk dan tidak ada waktu untuk mengurus semua ini, jadi semua diserahkan padaku. Silahkan tanda tangan saja." Dia sampai membukakan tutup pena yang ada di samping berkas, dan menyodorkannya ke hadapan Evan.


Endri yang melihatnya hanya bisa menghela napas berat. Dia tidak bisa melakukan apapun saat ini, karena apa yang terjadi memang sudah menjadi hak Ayun dan kedua cucunya.


"Anda tidak bermaksud untuk menentang pihak pengadilan dengan menolak memberikan hak Buk Ayun 'kan, Tuan?" tanya Bram dengan sarkas, membuat Evan menatap penuh kemarahan.


"Dan satu hal lagi. Anda tidak perlu khawatir, karena Anda masih akan mendapat gaji dengan bekerja di kantor ini. Bagaimana, Buk Ayun sangat baik bukan?"




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2