Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 91. Dunia Ezra.


__ADS_3

Mayra mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan Ezra. "Dih, memangnya siapa juga yang mau sama Lu. Dasar jelek!" Dia menjulurkan lidahnya untuk mengejek laki-laki itu.


Ezra menghela napas kasar saat melihat apa yang Mayra lakukan. Sudahlah tubuhnya terasa remuk redam, ditambah melihat tingkah gadis yang rasanya lebih banyak gaya dibandingkan adiknya sendiri.


"Oh ya Ez, habis ini antarkan aku pulang yah. Aku malas nginap di hotel lagi," pinta Mayra sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ezra. Sudah dari semalam dia menginap di hotel ini, dan nanti malam dia ingin tidur di kamarnya sendiri.


Ezra menganggukkan kepalanya. Dia juga ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini. Orang yang menikah dan enak-enak, tetapi malah dia yang harus bersusah payah mengurus semuanya.


Beberapa saat kemudian, Mayra mengajak Ezra untuk menemui kedua orang tuanya sekalian pamit kembali ke rumah.


"Kau bisa pulang dengan supir, Mayra," ucap Tio, ayah Mayra. Dia tidak terlalu suka jika putrinya terlalu dekat dengan Ezra.


"Kenapa harus sama supir? Kan ada Ezra, aku bisa pulang dengannya," sahut Mayra sambil menggendeng lengan Ezra, membuat Tio menghela napas frustasi.


Maya yang merupakan ibu Mayra tampak menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah putri bungsunya itu. Padahal sudah berusia 20 tahun, tetapi sifatnya sangat kekanak-kanakan sekali.


"Ya sudah, kembalilah ke rumah. Jangan ngebut-ngebut ya, Ezra," ucap Maya kemudian.


Ezra mengangguk paham, dia lalu menyalim tangan kedua orang tua Mayra dan berlalu pergi dari sana bersama dengan gadis itu.


Hari ini, Ezra sengaja membawa mobil supaya bisa mengantar Mayra karena gadis itu sedang menggunakan gaun. Jika hari biasanya, dia akan pergi ke sana kemari dengan menggunakan kuda besinya.


"Nanti berhenti sebentar di minimarket dekat rumah ya Ez, aku mau beli pembalut," ucap Mayra sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


Ezra mengangguk sambil memperhatikan jalanan. Kemudian dia memberhentikan mobilnya tepat di depan minimarket yang dimaksud oleh Mayra.


"Tunggu saja di mobil, biar aku yang beli."


"Hah?" Mayra terkesiap saat mendengar ucapan Ezra, dia yang akan keluar dari mobil tidak jadi menurunkan kakinya. "Aku mau beli pembalut loh, gak papa kalau kau yang belikan?" Dia menatap Ezra dengan ragu.


Tanpa menanggapi ucapan Mayra, Ezra segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke minimarket tersebut. Tentu saja apa yang dia lakukan itu membuat hati Mayra menjadi senang dan berbunga-bunga.


"Ezra, Ezra. Aku beruntung punya sahabat sepertimu," gumam Mayra sambil mendessah frustasi.


Bagi Mayra, Ezra itu lebih dari sekedar teman. Apalagi mereka sudah dekat sejak duduk dibangku SMA, bahkan sampai dunia perkuliahan dan tidak terasa sudah 6 tahun.


Tidak ada yang berubah dengan hubungan mereka, hingga membuatnya merasa frustasi. Apalagi sejak dulu ayahnya tidak menyukai Ezra dengan alasan jika laki-laki itu tidak sepadan dengannya, dan sekarang ditambah dengan apa yang terjadi dengan keluarga laki-laki itu. Lengkap sudah penderitaan.


"Ezra kan berbeda dengan ayahnya," gumam Mayra lagi. Papanya semakin tidak menyukai Ezra karena perbuatan yang telah Evan lakukan.


"Ada apa, kau sedang memikirkanku?"


Mayra tersentak kaget saat mendengar suara Ezra. Sangking khusyuknya melamun, dia sampai tidak sadar jika laki-laki itu sudah kembali ke dalam mobil.

__ADS_1


"Ka-kau sudah kembali?" tanya Mayra dengan gelisah, dia takut jika Ezra mendengar gumamannya tadi.


Ezra mengangguk sambil memberikan bungkusan plastik pada gadis itu. "Aku beli yang ada sayapnya, kata mbak penjaga minimarket itu yang bagus."


Mayra langsung memberikan dua jempol untuk Ezra saat melihat isi dari bungkusan itu, tidak disangka jika laki-laki itu sama sekali tidak malu melakukan hal seperti ini.


Ezra lalu kembali menghidupkan mesin mobilnya dan beranjak pergi dari tempat itu. Dia ingin segera pulang ke rumah dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Loh, itu bukannya nenekmu, Ez?"


Ezra yang sudah akan menginjak gas mengurungkan niatnya saat mendengar ucapan Mayra, dia lalu menoleh ke arah yang ditunjuk oleh gadis itu.


"Apa yang mereka lakukan di sini?" Ezra menatap tajam ke arah kakek dan neneknya yang benar-benar ada di tempat ini.


"Ah, ternyata itu benar-benar kakek dan nenekmu," seru Mayra sambil membuka pintu mobil itu.


"Tunggu, Mayra. Kau mau ke mana?" pekik Ezra sambil menarik tangan Mayra, tetapi dia terlambat menjangkaunya hingga kini gadis itu sudah keluar.


Ezra mengusap wajahnya dengan kasar. Baiklah, terserah saja jika Mayra mau menyapa mereka. Dia hanya akan menunggu dimobil saja sampai gadis itu kembali.


Mery dan Endri yang sedang berjalan sambil membawa sesuatu tampak menghentikan langkah mereka saat mendengar panggilan seseorang, mereka lalu menoleh ke belakang dan melihat ada seorang gadis sedang berjalan ke arah mereka.


"Kakek, Nenek. Kalian mau ke mana?" tanya Mayra saat sudah sampai di hadapan Mery dan Endri.


Mery dan Endri saling pandang karena tidak mengenal siapa gadis yang sedang bicara dengan mereka saat ini.


Mery dan Endri terdiam, mencoba untuk mengingat-ingat gadis itu. Sesaat kemudian mereka tersenyum karena berhasil mengingatnya.


"Bagaimana kabarmu, Nak? Kau sudah menjadi gadis yang sangat cantik sekarang," ucap Mery dengan lembut.


"Aku sehat, Nek. Terima kasih untuk pujiannya," jawab Mayra. "Tapi, Apa yang Nenek dan Kakek lakukan di sini?"


Mery lalu mengatakan jika mereka baru saja dari rumah sakit, dan singgah sebentar ke toko perabotan untuk membeli sesuatu.


Mayra ber-oh ria saat mendengarnya, tetapi tunggu dulu. Kenapa dia seperti sedang melupakan sesuatu? Dia lalu menoleh ke arah belakang untuk melihat Ezra, kenapa laki-laki itu tidak keluar dari mobil?


"Kenapa dia tidak menemui kakek dan neneknya?" Mayra merasa heran. Dia lalu kembali melihat ke arah Mery dan Endri saat mereka pamitan untuk pergi duluan.


"Bagaimana kalau Kakek dan Nenek ikut bersamaku? Aku juga sedang bersama Ezra."


Deg.


Mery dan Endri terkesiap saat mendengar nama cucu mereka. "Ka-kau bersama Ezra?"

__ADS_1


Mayra mengangguk, dia lalu mengajak mereka untuk menemui Ezra yang tetap diam di dalam mobil.


Ezra yang sejak tadi memperhatikan berdecak kesal saat Mayra membawa kakek dan neneknya. Seenaknya saja gadis itu melakukannya, padahal dia sengaja tidak keluar karena enggan bertemu dengan mereka.


"Kenapa kau tidak keluar sih?" tanya Mayra begitu dia membuka pintu mobil itu, sementara Ezra hanya diam sambil melihat lurus ke depan.


Kedua mata Mery berkaca-kaca saat melihat Ezra, begitu juga dengan Endri yang menatap cucunya itu dengan senyum bahagia.


"Kau kenapa, Ez? Apa-"


"Kau mau masuk atau tidak?" potong Ezra dengan cepat sambil menatap Mayra tajam, membuat gadis itu terkesiap. "Cepat masuk dan duduk ditempatmu, aku ingin segera pulang." Mendadak emosinya meledak.


Mayra terdiam melihat kemarahan Ezra, sementara Mery dan Endri menatap dengan sendu.


"Masuklah, Nak. Jangan biarkan Ezra menunggu terlalu lama," ucap Mery sambil mengusap lengan Mayra.


Mayra menoleh ke arah Mery dengan tatapan nanar. Sungguh dia tidak mengerti kenapa Ezra sampai marah seperti itu.


"Maaf, maafkan aku," gumam Mayra dengan sedih.


Mery tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, dia lalu kembali melihat ke arah Ezra yang sama sekali tidak mau melihat ke arah mereka.


Mayra akhirnya masuk ke dalam mobil dan duduk dengan perasaan berkecambuk, dia terus menunduk karena tidak berani melihat ke arah Ezra.


Brak.


Mayra tersentak kaget saat tiba-tiba mendengar suara benturan yang cukup keras, dan dia terkejut saat mengetahui jika Ezralah yang membuat suara itu.


Ezra memukul setiur mobilnya dengan kuat, sungguh dia merasa benar-benar sangat emosi saat ini. Namun, hatinya juga terasa sangat sakit saat melihat kakek dan neneknya. Sungguh membuat perasaannya terasa campur aduk.


"Sia*lan!" umpat Ezra dengan kesal, membuat Mayra semakin dirundung ketakutan.


Ezra segera keluar dari mobil itu dan berjalan menghampiri kakek dan neneknya yang sudah akan menaiki taksi.


"Tunggu!"


Endri yang akan masuk ke dalam taksi mengurungkan niatnya saat mendengar suara Ezra, sementara Mery yang sudah berada di dalam bergegas untuk keluar.


"Aku akan mengantar kalian pulang."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2